17 Tahun Tanpa Aliran PDAM, 150 KK di Karya Bakti Krisis Air Bersih

Berita Daerah64 Dilihat

DetikSR.id LUBUKLINGGAU – Krisis air bersih kembali menghantam warga RT 01, Kelurahan Karya Bakti, Kecamatan Lubuk Linggau Timur II, Kota Lubuk Linggau. Ironisnya, persoalan tersebut bukan baru terjadi akibat kemarau, melainkan disebut warga telah berlangsung selama belasan tahun.
Sedikitnya 150 kepala keluarga (KK) mengaku hingga kini belum menikmati aliran air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Warga menyebut, sejak 2014 hingga 2026, air PDAM tak kunjung mengalir ke permukiman mereka.
Kondisi semakin memprihatinkan ketika musim kemarau tiba. Sumur yang selama ini menjadi tumpuan warga ikut mengering, sehingga masyarakat harus mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Salah seorang warga, Jamil, mengatakan persoalan tersebut sudah berulang kali dirasakan masyarakat. Namun hingga kini, belum ada solusi permanen yang benar-benar menyelesaikan persoalan kebutuhan air bersih di wilayah mereka.
“Sejak 2014 PDAM tidak mengalir. Sekarang sumur juga kering, jadi kami kesulitan mendapatkan air bersih,” ungkap Jamil kepada wartawan, Senin (31/8/2026).

Menurut Jamil, kondisi geografis Kelurahan Karya Bakti yang berada di dataran tinggi turut menjadi kendala bagi warga dalam mencari sumber air tanah.
Upaya menggali sumur pun tidak mudah. Pada kedalaman sekitar delapan meter, warga disebut sudah menemukan batu napal yang membuat penggalian semakin sulit dan membutuhkan biaya lebih besar.
“Kalau menggali sumur sulit. Baru sekitar delapan meter sudah ketemu batu napal,” katanya.

Krisis air bahkan memaksa sebagian warga meninggalkan rumah sementara. Mereka terpaksa mengungsi ke rumah orang tua atau keluarga di kelurahan tetangga demi mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Sebagian warga lainnya mengandalkan sumur kembang sebagai sumber air. Namun, karena digunakan banyak warga, antrean tidak terhindarkan, terutama pada sore hari.
“Beberapa warga ada yang mengandalkan sumur kembang untuk mendapatkan air bersih. Kalau sore hari kondisinya ramai, sehingga harus antre,” jelas Jamil.

Warga menilai kondisi tersebut tidak seharusnya dibiarkan berlarut-larut. Sebab, air bersih bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan dasar yang menyangkut kehidupan dan kesehatan masyarakat.
Jamil mendesak Pemerintah Kota Lubuk Linggau bersama pihak PDAM turun langsung mengevaluasi persoalan tersebut dan mencari solusi konkret, bukan sekadar penanganan sementara ketika musim kemarau tiba.
“Kami minta PDAM Kota Lubuk Linggau mengevaluasi. Sudah puluhan tahun Kelurahan Karya Bakti tidak dialiri PDAM,” tegasnya.
Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat terpenuhi. Terlebih, kondisi kemarau saat ini membuat sumber air alternatif warga semakin terbatas.

Belasan tahun menunggu aliran PDAM, kini warga Karya Bakti harus berjuang mendapatkan air dari sumur yang juga mulai mengering. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah serius bagi pemerintah daerah dan pengelola layanan air bersih untuk segera memberikan solusi permanen.

Hingga berita ini diterbitkan, konfirmasi dari pihak PDAM maupun Pemerintah Kota Lubuk Linggau terkait persoalan tersebut masih diperlukan untuk memperoleh penjelasan mengenai penyebab belum teralirinya jaringan PDAM serta langkah penanganan yang akan dilakukan. ( Rif’at Achmad )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *