33 Negara Siaga Krisis Pangan, Mentan Amran: Indonesia Klaim Punya Kekuatan Pasokan Beras 25 Juta Ton

Berita63 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Ketika sedikitnya 33 negara mulai mengimbau masyarakatnya menyiapkan persediaan pangan dan kebutuhan pokok untuk menghadapi situasi darurat, Indonesia menyatakan memiliki modal ketahanan pangan yang kuat. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memastikan ketersediaan beras nasional mencapai sekitar 25 juta ton, mencerminkan besarnya kekuatan pasokan dalam negeri di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.

Imbauan kesiapsiagaan pangan yang disampaikan sejumlah negara menjadi gambaran meningkatnya kewaspadaan dunia terhadap berbagai risiko, mulai dari konflik geopolitik, bencana alam, cuaca ekstrem, ancaman siber terhadap infrastruktur vital, hingga potensi terganggunya rantai pasok internasional.

Di tengah situasi tersebut, Indonesia mengandalkan produksi domestik dan penguatan cadangan pangan sebagai benteng untuk menjaga stabilitas pasokan serta memenuhi kebutuhan masyarakat.

Mentan Amran mengatakan, kondisi ketersediaan pangan nasional saat ini patut disyukuri. Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan berupa kapasitas produksi dalam negeri dan cadangan beras yang relatif kuat sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari negara lain.

“Alhamdulillah, kita patut bersyukur. Di saat dunia sedang menghadapi ketegangan geopolitik, ancaman krisis pangan, dan gangguan rantai pasok, kondisi pangan Indonesia relatif aman,” ujar Amran, pada (1/11/2026).

Ia menegaskan, kekuatan tersebut merupakan hasil kerja keras petani, dukungan pemerintah, serta pelaksanaan berbagai kebijakan strategis untuk meningkatkan produksi dan memperkuat kemandirian pangan nasional.

“Indonesia mempunyai produksi dalam negeri, punya cadangan, dan terus memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Ini yang harus kita jaga,” tegasnya.

33 Negara Perkuat Kesiapsiagaan Pangan

Kewaspadaan menghadapi potensi krisis kini menjadi perhatian berbagai negara. Sedikitnya 33 negara disebut telah mengeluarkan panduan kesiapsiagaan bagi masyarakat untuk menyimpan kebutuhan dasar di rumah, mulai dari makanan tahan lama, air minum, hingga obat-obatan.

Persediaan tersebut direkomendasikan untuk memenuhi kebutuhan selama sedikitnya 72 jam apabila terjadi situasi darurat.

Inggris, misalnya, mengimbau setiap rumah tangga memiliki persediaan kebutuhan pokok untuk menghadapi kondisi darurat selama tiga hari. Jepang juga mendorong masyarakat menyimpan kebutuhan dasar untuk jangka waktu tiga hari hingga satu minggu.

Langkah antisipatif tersebut mencerminkan meningkatnya perhatian pemerintah berbagai negara terhadap risiko gangguan distribusi dan ketersediaan kebutuhan dasar.

Situasi ini sekaligus memperlihatkan bahwa ketahanan pangan bukan lagi sekadar persoalan produksi pertanian, melainkan bagian penting dari strategi keamanan nasional.

Cadangan dan Potensi Pasokan Beras Capai 25 Juta Ton

Di tengah meningkatnya kewaspadaan global, Amran memaparkan bahwa Indonesia memiliki akumulasi ketersediaan beras sekitar 25 juta ton berdasarkan komponen pasokan yang disampaikan pemerintah.

Per 26 Oktober 2026, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang tersimpan di gudang Perum Bulog tercatat sekitar 4,5 juta ton.

Selain itu, terdapat potensi pasokan dari lahan pertanian yang siap panen atau standing crop sekitar 10 juta ton. Sementara itu, sekitar 10 juta ton lainnya disebut berada di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka).

Dengan demikian, akumulasi ketiga komponen tersebut mencapai sekitar 25 juta ton.

Angka tersebut dibandingkan dengan kebutuhan konsumsi beras nasional yang diperkirakan sekitar 2,5 juta ton per bulan. Menurut Amran, besarnya ketersediaan tersebut memberikan ruang pengamanan pasokan yang lebih kuat bagi Indonesia dalam menghadapi berbagai kemungkinan gejolak global.

“Kalau kita hitung, stok di Bulog sekitar 4,5 juta ton, standing crop sekitar 10 juta ton, dan stok di horeka sekitar 10 juta ton. Total sekitar 25 juta ton. Sementara kebutuhan kita sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya, ketersediaan kita sangat kuat. Ini yang membuat kita lebih siap menghadapi berbagai gejolak global,” ungkapnya.

Meski demikian, angka 25 juta ton tersebut merupakan akumulasi beberapa komponen ketersediaan, bukan seluruhnya cadangan pemerintah yang tersimpan di gudang Bulog. Pembedaan ini penting agar publik memperoleh gambaran yang tepat mengenai posisi stok pemerintah dan potensi pasokan nasional.

Swasembada Pangan Menjadi Benteng Kedaulatan Negara

Amran menegaskan, kemampuan memenuhi kebutuhan pangan dari produksi sendiri merupakan faktor penting dalam menjaga kedaulatan negara.

Ketergantungan terhadap impor, menurutnya, dapat menjadi risiko serius apabila konflik internasional meluas dan mengganggu jalur perdagangan. Situasi tersebut berpotensi mendorong negara-negara produsen membatasi ekspor demi mengamankan kebutuhan domestiknya masing-masing.

Jika Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri dalam kondisi seperti itu, dampaknya dapat merembet pada ketersediaan barang, stabilitas harga, hingga daya beli masyarakat.

“Kita tidak boleh bergantung pada negara lain untuk urusan pangan. Bayangkan kalau terjadi konflik besar, jalur perdagangan terganggu, negara-negara menahan ekspornya, sementara kita masih bergantung pada impor. Risikonya sangat besar. Karena itu, swasembada adalah kekuatan dan perlindungan bagi bangsa,” tegas Amran.

Bagi pemerintah, ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan jumlah beras yang tersedia, tetapi juga menyangkut kemampuan negara melindungi masyarakat dari ancaman kelangkaan dan gejolak harga.

Karena itu, penguatan produksi domestik menjadi agenda strategis yang harus dijaga secara berkelanjutan.

Kementan Percepat Produksi, Irigasi, dan Perlindungan Petani

Untuk mempertahankan keberlanjutan produksi, Kementerian Pertanian terus mendorong berbagai program strategis. Upaya tersebut meliputi optimalisasi lahan pertanian, percepatan pompanisasi, rehabilitasi dan perbaikan jaringan irigasi, distribusi benih unggul, serta peningkatan produktivitas pertanian.

Pemerintah juga memperkuat langkah mitigasi terhadap dampak perubahan iklim, termasuk ancaman kekeringan yang dapat mengganggu musim tanam dan menurunkan hasil panen.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan ketersediaan pangan tidak hanya kuat dalam jangka pendek, tetapi juga terjaga dalam jangka panjang.

Amran mengingatkan agar capaian ketersediaan pangan saat ini tidak membuat seluruh pemangku kepentingan lengah. Produksi harus terus ditingkatkan, cadangan pemerintah diperkuat, dan kesejahteraan petani tetap menjadi perhatian utama.

“Alhamdulillah, kita patut bersyukur pangan Indonesia aman. Tapi kita tidak boleh berpuas diri. Produksi harus terus ditingkatkan, cadangan diperkuat, dan petani dilindungi. Ada keringat petani dan ada negara yang hadir,” pungkasnya.

Di tengah dunia yang semakin rentan terhadap konflik, perubahan iklim, dan gangguan perdagangan internasional, kemampuan menjaga pasokan pangan menjadi salah satu ukuran penting ketahanan sebuah negara.

Indonesia kini memiliki modal produksi dan ketersediaan beras yang diklaim mencapai sekitar 25 juta ton. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh potensi tersebut benar-benar terjaga, terdistribusi secara merata, dan dapat diakses masyarakat dengan harga terjangkau.

Sebab, ketahanan pangan sejati bukan hanya tentang seberapa besar stok yang dimiliki, melainkan seberapa kuat negara menjamin rakyatnya tetap dapat makan ketika dunia menghadapi krisis.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *