Bank Dunia Peringatkan Krisis Komoditas Global, Harga Minyak Brent Terancam Tembus US$ 105 per Barel Pada 2027

Berita49 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Ancaman krisis komoditas global kembali membayangi perekonomian dunia. Bank Dunia memperingatkan, eskalasi konflik geopolitik, gangguan rantai pasok energi dan pangan, serta ancaman fenomena iklim El Nino berpotensi memicu lonjakan harga komoditas secara signifikan. Dalam skenario terburuk, harga minyak mentah Brent bahkan diperkirakan dapat mencapai rata-rata US$ 105 per barel pada 2027.

Peringatan tersebut tertuang dalam laporan terbaru Commodity Markets Outlook Bank Dunia. Lembaga keuangan internasional itu memproyeksikan harga komoditas global meningkat hingga 23% sepanjang 2026, menandai berakhirnya tren penurunan harga yang berlangsung selama tiga tahun terakhir.

Lonjakan terutama didorong oleh tekanan di sektor energi. Harga energi global diperkirakan melonjak 32% pada 2026, seiring terganggunya produksi dan distribusi minyak akibat konflik di Timur Tengah.

Bank Dunia memproyeksikan harga minyak mentah Brent rata-rata mencapai US$ 91 per barel pada 2026, jauh di atas rata-rata US$ 69 per barel pada 2025. Harga diperkirakan mulai mereda menjadi US$ 79 per barel pada 2027, dengan catatan ketegangan geopolitik tidak semakin memburuk.

Namun, proyeksi tersebut menyimpan risiko besar. Apabila konflik meluas, kerusakan infrastruktur energi Rusia berlanjut, dan jalur perdagangan strategis semakin terganggu, tekanan terhadap pasar minyak dunia berpotensi jauh lebih berat.

“Pasar komoditas dihantam beberapa guncangan besar secara bersamaan. Lonjakan biaya energi dan gangguan perdagangan mendorong kenaikan harga secara luas, yang mengancam pembengkakan inflasi, kerawanan pangan, serta melambatnya pertumbuhan ekonomi,” ujar Deputi Kepala Ekonom Bank Dunia sekaligus Direktur Prospects Group, Ayhan Kose, sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut, pada (1/11/2026).

Tekanan tidak hanya terjadi di pasar energi. Sektor pangan juga menghadapi ancaman kenaikan harga akibat terganggunya perdagangan internasional, meningkatnya biaya produksi, dan ketidakpastian iklim.

Bank Dunia memperkirakan harga komoditas pangan meningkat sekitar 10% pada 2026 dan kembali naik 7% pada 2027. Secara kumulatif, kenaikan tersebut mencapai sekitar 18%.

Gangguan distribusi gandum akibat konflik, ancaman gagal panen karena El Nino, serta meningkatnya biaya bahan bakar dan pupuk menjadi faktor utama yang memperburuk prospek pasar pangan global.

Risiko semakin serius apabila serangan terhadap kapal pengangkut gandum di Laut Hitam meningkat bersamaan dengan meluasnya konflik Timur Tengah dan terjadinya El Nino ekstrem.

Dalam skenario tersebut, harga pangan diperkirakan melonjak 12% di atas proyeksi dasar Bank Dunia. Kenaikannya bahkan berpotensi melampaui rekor tertinggi yang tercatat pada 2022.

Situasi ini mengingatkan dunia pada krisis pangan awal dekade 2010-an, ketika lonjakan harga komoditas pertanian memperburuk inflasi dan meningkatkan kerentanan ekonomi masyarakat berpendapatan rendah.

Di pasar energi, tekanan terhadap pasokan menjadi salah satu persoalan paling krusial.

Pasokan minyak global diproyeksikan merosot hingga 5,2% pada 2026. Penurunan tersebut disebut sebagai yang terbesar dalam empat dekade terakhir di luar periode pandemi 2020.

Pada saat bersamaan, konsumsi minyak diperkirakan turun 2,5%, terutama akibat tingginya harga energi dan percepatan peralihan menuju kendaraan listrik, khususnya di China.

Meski permintaan melemah, penurunan pasokan yang lebih besar membuat keseimbangan pasar tetap tertekan. Sejumlah negara pun terpaksa menarik cadangan minyak untuk menutup kekurangan pasokan.

Kondisi ini memperlihatkan rapuhnya ketahanan energi global ketika konflik geopolitik bertemu dengan gangguan produksi dan distribusi dalam skala besar.

Guncangan komoditas juga merambat ke pasar logam dan bahan baku industri.

Bank Dunia memperkirakan harga logam industri meningkat hingga 25% pada 2026, bahkan berpotensi mencetak rekor baru. Permintaan dari sektor energi terbarukan, kendaraan listrik, serta pembangunan pusat data menjadi penopang utama kenaikan tersebut.

Sementara itu, harga logam mulia diproyeksikan melonjak hingga 40%. Ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi global mendorong perburuan aset aman atau safe haven.

Dengan kenaikan tersebut, harga logam mulia diperkirakan bertahan lebih dari tiga kali lipat dibandingkan rata-rata periode 2015–2019.

Di sektor pertanian, harga pupuk juga diperkirakan meningkat 14% pada 2026, terutama akibat lonjakan harga urea pada awal tahun. Meski demikian, harga pupuk diproyeksikan kembali stabil pada 2027.

Kenaikan harga pupuk berpotensi menciptakan tekanan berantai: biaya produksi pertanian meningkat, margin keuntungan petani menyusut, dan harga pangan di tingkat konsumen semakin sulit dikendalikan.

Meski proyeksi utama Bank Dunia mengasumsikan konflik tidak mengalami eskalasi lebih lanjut, risiko terjadinya skenario yang lebih buruk tetap terbuka.

Dalam simulasi terburuk, kombinasi konflik Timur Tengah yang meluas, kerusakan fasilitas minyak Rusia, gangguan perdagangan gandum di Laut Hitam, dan El Nino ekstrem dapat mendorong harga minyak Brent mencapai rata-rata US$ 105 per barel pada 2027.

Angka tersebut menjadi peringatan serius bagi perekonomian global. Kenaikan harga minyak tidak hanya berdampak pada biaya transportasi dan industri, tetapi juga merembet ke harga listrik, pupuk, produksi pangan, hingga biaya hidup masyarakat.

Negara-negara pengimpor energi berpotensi menghadapi tekanan paling berat. Tagihan impor minyak yang membengkak dapat memperlebar defisit perdagangan, menekan nilai tukar, dan mempersempit ruang fiskal pemerintah.

Apabila kenaikan energi berlangsung bersamaan dengan lonjakan harga pangan, risiko inflasi yang lebih persisten akan semakin besar. Bank sentral pun dapat menghadapi dilema antara menjaga stabilitas harga dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi.

Mengantisipasi memburuknya situasi, Bank Dunia menyiapkan dukungan pembiayaan sekitar US$ 50 miliar hingga US$ 60 miliar, termasuk US$ 25 miliar dalam bentuk pembiayaan siap pakai.

Dana tersebut diarahkan untuk memperkuat jaring pengaman sosial bagi kelompok masyarakat rentan, menjaga kapasitas fiskal negara, serta menyediakan likuiditas bagi sektor usaha dan pertanian di negara-negara terdampak.

Bank Dunia juga mempercepat mobilisasi modal swasta untuk mendorong penciptaan lapangan kerja dan memperluas peluang ekonomi bagi generasi muda di negara berkembang.

Langkah tersebut mencerminkan besarnya kekhawatiran terhadap dampak lanjutan krisis komoditas global, terutama bagi negara-negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi dan bahan pangan.

Bagi Indonesia, ancaman kenaikan harga minyak dan pangan global tidak bisa dipandang sebagai persoalan eksternal semata.

Sebagai negara yang masih menghadapi kebutuhan impor produk minyak dan sejumlah komoditas pangan, Indonesia berpotensi menerima tekanan melalui kenaikan biaya impor, peningkatan beban subsidi energi, serta risiko pelemahan daya beli masyarakat.

Apabila harga minyak bertahan tinggi, pemerintah akan menghadapi pilihan kebijakan yang tidak mudah: mempertahankan subsidi dengan konsekuensi meningkatnya beban APBN atau melakukan penyesuaian harga energi yang berisiko menambah tekanan inflasi.

Di sisi lain, kenaikan harga pupuk dan bahan bakar dapat meningkatkan biaya produksi pertanian serta memperbesar risiko kenaikan harga pangan domestik.

Karena itu, penguatan cadangan energi, diversifikasi sumber impor, stabilisasi pasokan pangan, dan perlindungan masyarakat berpendapatan rendah menjadi agenda yang semakin mendesak.

Peringatan Bank Dunia pada dasarnya bukan sekadar proyeksi kenaikan harga minyak. Ini merupakan sinyal bahwa dunia sedang menghadapi risiko guncangan ekonomi berlapis, ketika konflik geopolitik, krisis energi, ketahanan pangan, dan perubahan iklim saling memperkuat.

Jika skenario terburuk benar-benar terjadi, dampaknya tidak akan berhenti di pasar komoditas. Inflasi, perdagangan internasional, stabilitas fiskal, hingga daya beli masyarakat di berbagai negara akan ikut dipertaruhkan.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *