DetikSR.id Yogyakarta – Penguatan kompetensi instruktur seni tidak cukup dilakukan melalui pembelajaran di ruang kelas. Pengalaman lapangan, pengelolaan sanggar, proses kreatif hingga kemampuan membaca peluang industri kreatif menjadi bagian penting dalam membentuk instruktur seni yang profesional dan adaptif.
Semangat itulah yang diusung Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Seni dan Budaya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, melalui Program Peningkatan Kompetensi Instruktur Kursus Bidang Seni dan Budaya Tahun 2026.
Program yang berlangsung selama sembilan hari, 3–11 Agustus 2026 di Yogyakarta, tersebut diikuti para instruktur seni dari berbagai daerah di Indonesia.
Tak sekadar menerima materi pembelajaran, para peserta diajak keluar dari ruang kelas untuk melihat secara langsung bagaimana sanggar seni dikelola, karya dilahirkan, talenta dikembangkan, hingga seni ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem industri kreatif.
Salah satu agenda yang menjadi sorotan adalah studi tiru ke dua sanggar seni yang telah dikenal luas, yakni Natya Lakshita, yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan maestro tari Didik Nini Thowok, dan Damarwulan Art Studio.
Kegiatan ini menjadi ruang belajar langsung bagi para instruktur untuk memahami bahwa keberadaan sanggar tidak hanya berkaitan dengan aktivitas latihan seni, tetapi juga menyangkut manajemen, produksi karya, regenerasi seniman dan keberlanjutan ekosistem kreatif.
Dipimpin Tim BBPPMPV Seni dan Budaya
Program peningkatan kompetensi tersebut berada di bawah kepemimpinan Kepala BBPPMPV Seni dan Budaya Masrukhan Budiyanto, S.H., M.M.
Pelaksanaan program juga didukung Kepala Bagian Tata Usaha Dr. Wanto, S.T., M.Eng., Ketua Tim Kerja Fasilitasi Peningkatan Kompetensi Sigit Purnomo, S.Pd., M.Pd., serta Penanggung Jawab Peningkatan Kompetensi Kejuruan Feti Anggraini, S.Ant., M.A.
Keterlibatan jajaran pengelola BBPPMPV Seni dan Budaya tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan kualitas instruktur dipandang sebagai bagian penting dalam membangun sumber daya manusia seni dan budaya yang mampu menjawab kebutuhan zaman.
Damarwulan Art Studio: Sanggar Tak Sekadar Tempat Berlatih
Di Damarwulan Art Studio, para peserta mendapatkan kesempatan berdiskusi langsung dengan pemilik sanggar, Mas Damar.
Diskusi berlangsung dengan membahas berbagai persoalan strategis dalam pengelolaan sanggar, mulai dari manajemen kelembagaan, pengembangan karya tari, pembinaan talenta hingga posisi sanggar dalam industri kreatif.
Pengalaman tersebut membuka perspektif baru bagi peserta bahwa sanggar dapat dikembangkan menjadi ruang yang lebih luas.
Sanggar dapat menjadi tempat pembelajaran, laboratorium penciptaan karya, ruang regenerasi seniman sekaligus bagian dari rantai ekonomi kreatif.
Bagi para instruktur, pemahaman tersebut menjadi bekal penting. Sebab, instruktur seni masa kini tidak hanya dituntut menguasai materi dan teknik pengajaran, tetapi juga harus mampu membaca perkembangan dunia seni serta menciptakan lingkungan belajar yang produktif dan berkelanjutan.
Menelusuri Proses Kreatif Maestro Didik Nini Thowok
Pengalaman berbeda diperoleh peserta ketika melakukan studi tiru di Natya Lakshita.
Di tempat ini, peserta diajak menelusuri perjalanan panjang seorang maestro tari Didik Hadi Prayitno atau yang lebih dikenal dengan nama Didik Nini Thowok.
Bukan hanya mengenai pencapaian seorang seniman, diskusi juga mengupas bagaimana proses kreatif dibangun hingga melahirkan karya tari yang memiliki karakter kuat dan mampu bertahan lintas generasi.
Salah satu karya yang menjadi bagian dari pembahasan adalah Tari Warak Dugder, karya dengan gaya Semarangan yang terinspirasi dari tradisi dan budaya masyarakat Semarang.
Karya tersebut menjadi contoh bagaimana kekayaan tradisi dapat diolah melalui kreativitas seniman menjadi karya pertunjukan yang memiliki nilai artistik sekaligus membawa pesan budaya.
Seni Menembus Sekat Identitas
Perjalanan Didik Nini Thowok juga memberikan pesan penting mengenai posisi seni dalam kehidupan kebangsaan.
Sebagai seniman keturunan Tionghoa yang tumbuh dan berkarya dalam lingkungan budaya Indonesia, perjalanan Didik memperlihatkan bahwa seni dapat menjadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang budaya.
Seni tidak berhenti pada persoalan identitas kelompok. Sebaliknya, seni dapat menjadi jembatan yang mempertemukan keberagaman dan memperkuat rasa kebersamaan sebagai bangsa Indonesia.
Perspektif inilah yang menjadi salah satu nilai penting yang dapat dipetik para peserta selama mengikuti studi tiru.
Dari Teori Menuju Praktik
Rangkaian sembilan hari program peningkatan kompetensi tersebut pada akhirnya membawa peserta pada satu pengalaman penting: belajar seni tidak cukup hanya dengan teori.
Instruktur perlu memahami bagaimana sebuah karya diciptakan, bagaimana sebuah sanggar dikelola, bagaimana talenta dibina dan bagaimana seni dapat beradaptasi dengan perubahan zaman.
Perkembangan industri kreatif juga menuntut instruktur seni memiliki kompetensi yang semakin luas. Tidak hanya pedagogi, tetapi juga kreativitas, manajemen, produksi karya, jejaring, pemanfaatan teknologi dan kemampuan membaca peluang.
Karena itu, studi tiru ke dua sanggar tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran.
Peserta tidak hanya melihat hasil akhir sebuah proses berkesenian, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai perjalanan panjang di baliknya.
Membawa Pulang Pengetahuan ke Daerah
Melalui Program Peningkatan Kompetensi Instruktur Kursus Bidang Seni dan Budaya Tahun 2026, BBPPMPV Seni dan Budaya berharap para peserta dapat membawa pengalaman tersebut ke daerah masing-masing.
Pengetahuan yang diperoleh di Yogyakarta diharapkan tidak berhenti setelah program berakhir, tetapi diterapkan dalam proses pembelajaran, pengembangan sanggar dan pembinaan generasi muda di berbagai daerah.
Sembilan hari pelatihan akhirnya bukan sekadar agenda peningkatan kompetensi. Ia menjadi perjalanan yang mempertemukan teori, praktik, pengalaman maestro, manajemen sanggar, kreativitas dan dinamika industri kreatif.
Dari Yogyakarta, para instruktur diharapkan pulang membawa perspektif baru bahwa menjaga keberlangsungan seni dan budaya bukan semata-mata mempertahankan karya lama.
Lebih dari itu, diperlukan upaya membangun manusia, menciptakan karya baru, memperkuat manajemen, membuka ruang kreativitas dan memastikan seni tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.(Red/DJ)







