DetikSR.id Jakarta, Pameran lukisan bertajuk AFTER EARTH 2026 menghadirkan refleksi tentang manusia, alam, kebudayaan, spiritualitas, serta ketahanan manusia menghadapi perubahan dan kekacauan zaman yang di selenggarakan oleh Segitiga Art Community, Pameran berlangsung pada 12–19 September 2026 di Balai Budaya Jakarta, Jalan Gereja Theresia No. 27, Menteng, Jakarta Pusat.
Dikuratori Mayek Prayitno.
Sejumlah perupa dengan latar artistik dan perspektif yang beragam. Pameran ini tidak berhenti pada presentasi visual, tetapi menjadi ruang perenungan tentang kehilangan, krisis, perubahan, serta kemungkinan kehidupan setelah manusia menghadapi berbagai bentuk kekacauan.
Dua perspektif yang menonjol hadir melalui karya Jenny Mahastuti dan Safril Coto. Keduanya menggunakan seni sebagai medium untuk membaca pengalaman manusia, meski berangkat dari pendekatan yang berbeda. Jenny melalui ingatan budaya dan relasi manusia dengan alam, sementara Safril melalui gagasan tentang ketahanan dan pemulihan.
Jenny Mahastuti telah menekuni seni lukis sejak 1972. Selama lebih dari lima dekade, ia menjadikan seni sebagai medium untuk merekam sekaligus merawat ingatan budaya Nusantara. Gagasan tersebut antara lain tercermin dalam karya “Curigo Manjing Warongko” serta dua bukunya, Gerimis di Tanah Titipan Kanekes dan Maluku.
Perhatian Jenny terhadap masyarakat adat, khususnya masyarakat Kanekes atau Baduy, menjadi bagian penting dalam perjalanan artistiknya. Karya-karyanya mengangkat hubungan manusia dengan alam, spiritualitas, kearifan lokal, serta nilai budaya yang diwariskan antar generasi.
“Kebudayaan bukan sekadar objek untuk direpresentasikan, melainkan ruang kehidupan yang perlu dipahami, dihayati, dan dijaga keberlangsungannya,” ujar Jenny.
Menurut Jenny, perjalanan kesenian tidak semata ditentukan gelar maupun predikat, melainkan ketekunan berkarya dan kemampuan menghayati kehidupan.
“Posisi seni bukan semata sebagai produk estetika, melainkan sebagai proses panjang untuk memahami manusia, lingkungan, dan kebudayaan yang terus bergerak,” katanya.

Sementara itu, Safril Coto, yang mulai beraktivitas di Yogyakarta sejak 1976 dan aktif berpameran sejak dekade 1980-an, menghadirkan karya “Centeng”.
Karya tersebut berangkat dari gagasan tentang manusia setelah melewati situasi penuh kekacauan.
“Centeng” merefleksikan apa yang tersisa setelah badai kehidupan berlalu ketika kehancuran telah terjadi dan manusia harus menentukan langkah berikutnya.
Bagi Safril, kehancuran bukanlah titik akhir. Kondisi tersebut justru dapat menjadi momentum untuk bangkit, menghimpun kembali kekuatan, dan membangun kehidupan dengan fondasi yang lebih kokoh.
“Centeng” berbicara tentang aftermath, situasi setelah badai kehidupan berlalu. Kehancuran tidak ditempatkan sebagai akhir, tetapi sebagai titik awal untuk bangkit, mengumpulkan kembali kekuatan, dan membangun kehidupan dengan lebih kokoh,” jelas Safril.
Karya tersebut sekaligus menjadi metafora human resilience kemampuan manusia untuk bertahan, beradaptasi, pulih, dan kembali tumbuh setelah menghadapi tekanan, kehilangan, maupun perubahan.
Perspektif itu memperluas makna AFTER EARTH. Jika “setelah bumi” dibaca sebagai kondisi setelah sebuah krisis, pertanyaan pentingnya bukan hanya apa yang hancur, tetapi juga bagaimana manusia membangun kembali kehidupannya.
Dua gagasan yang saling melengkapi. Jenny berbicara tentang ingatan, akar budaya, relasi manusia dengan alam, dan keberlanjutan tradisi. Safril menyoroti ketahanan, pemulihan, dan keberanian untuk memulai kembali.
Keduanya menunjukkan bahwa seni dapat melampaui persoalan estetika.
Seni menjadi medium untuk merekam pengalaman, menjaga ingatan kolektif, membaca perubahan, sekaligus membayangkan masa depan.
Dalam konteks tersebut, karya seni menjadi ruang dialog antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Warisan menjadi pijakan, sedangkan pengalaman menghadapi krisis menjadi bekal untuk menata kembali kehidupan.
Diperkuat melalui kehadiran pelestari keris PPBPN yang turut mempresentasikan keris sebagai bagian dari warisan budaya Nusantara.
Keris tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga memuat jejak sejarah, filosofi, simbolisme, dan pengetahuan budaya yang diwariskan lintas generasi.
Satriyono menilai kehadiran keris dalam ruang seni membuka dialog antara warisan leluhur dan perkembangan kebudayaan masa kini.
“Keelokan bentuk dan kedalaman maknanya menjadikan keris sebagai salah satu kekayaan budaya Nusantara yang memiliki nilai historis sekaligus daya tarik universal,” kata Satriyono.
Menurutnya, keris perlu diperkenalkan kepada generasi muda bukan semata sebagai benda pusaka, melainkan sebagai bagian dari identitas dan pengetahuan budaya yang tetap relevan sebagai benda galeri.
Kehadiran keris sekaligus menegaskan bahwa masa depan tidak harus dibangun dengan meninggalkan masa lalu. Warisan budaya dapat menjadi sumber pengetahuan untuk memahami perubahan dan menghadapi masa depan.
AFTER EARTH 2026 dibuka oleh Toni Junus Kanjeng NgGung, pecinta seni sekaligus pelestari budaya spiritual Sastrajendra. Ia melihat pameran tersebut sebagai pertemuan antara seni rupa dengan persoalan kebudayaan, spiritualitas, lingkungan, pengalaman manusia, dan masa depan bumi. Ia menyebut sebagai pesta jiwa-jiwa.
“Keragaman pendekatan para perupa justru memperlihatkan bahwa satu persoalan dapat dibaca dari sudut psiko analitis Carl Gustav Jung bahwa semua karya lukis terlibat dalam proses inner world (ekspresi batin) dan outer world (apa yang dilihat pada alam dan kehidupan) yang kemudian diolah oleh batin. Itulah perjalanan seniman. Bahwa tangan seniman adalah alat, karya seni adalah persembahan dan inspirasi adalah dari Tuhan”, ujar Toni.
Menurutnya, After Earth tidak harus dimaknai secara harfiah sebagai gambaran bumi yang selesai, melainkan adanya andil para seniman dalam membangun peradaban baru. Tajuk AftervEarth tersebut dapat dibaca lebih luas sebagai refleksi mengenai manusia setelah melewati perubahan dan berbagai bentuk krisis. Yang dalam ajaran Sastrajendra terbagi sebagai Alam Purwa, adanya keterlemparan jiwa-jiwa ke dunia. Manusia tidak bisa memilih. (Heideger), kemudian setelah eksis di bumi berjalan menyelesaikan kehidupan yang disebut Alam Madya, setelah itu memasuki Alam Wusana. Disinilah masanya After Earth, seniman mengarungi Alam Wusana dengan perenungannya hingga terekspresikan dalam karya.
“Pameran ini dapat dibaca sebagai refleksi mengenai kondisi manusia setelah melewati berbagai perubahan dan krisis tentang apa yang hilang, apa yang bertahan, dan apa yang masih dapat dibangun kembali,” katanya.
“Pentingnya menjaga akar kebudayaan sekaligus memiliki keberanian untuk menatap masa depan. Melalui seni, ingatan, penghayatan tidak sekadar disimpan, tetapi dihidupkan kembali. Dari ingatan itulah manusia dapat menemukan pijakan untuk melangkah ke masa depan,” tutup Toni.
AFTER EARTH 2026 menemukan relevansinya sebagai ruang perjumpaan antara ingatan dan masa depan, warisan dan perubahan, serta kehancuran hanyalah terminal untuk kembali tumbuh.
Ervinna






