Wirasajendra merupakan penerapan praktik Triwikrama dari Sastrajendra Living Academy (SLA), berupa samadhi gerak

Budaya11 Dilihat

DetikSR.id Bogor, 6 September 2026.
Sebuah hasil bincang-bincang santai bersama Romo Toni Junus Kanjeng Gung, sesepuh Sastrajendra Living Academy dan asisten sesepuh, Nyi Anggrek.

Rangkuman:
Meditasi gerak tidak memiliki satu pencetus tunggal karena bentuk praktiknya telah tumbuh secara independen di berbagai belahan dunia, baik dari tradisi spiritual kuno maupun psikologi dan kedokteran modern antara lain:

Lao Tzu & Para Master Taoisme (Tiongkok, ± Abad ke-6 SM):

Kontribusinya: Mengangkat dasar filosofis Qigong dan Tai Chi.

Konsepnya: Mengembangkan gerakan mengalir untuk menyelaraskan energi vital (Qi) dengan hukum alam (Tao).

Bodhidharma / Ta Mo (Tiongkok/India, Abad ke-5 hingga 6 M):
Kontribusinya: Pencetus seri gerakan fisik bagi biarawan Kuil Shaolin.

Konsepnya: Menggabungkan meditasi Zen (Dhyana) dengan latihan fisik (Yijin Jing) agar tubuh tidak lemah saat bersemadi diam.

Jalaluddin Rumi (Persia/Turki, Abad ke-13 M):

Kontribusinya: Pencetus Whirling Dervishes atau Sema (tarian memutar).

Konsepnya: Tarian berputar sebagai bentuk tawaaf, pelepasan ego, dan penyerahan diri kepada Sang Pencipta.

Osho / Bhagwan Shree Rajneesh (India, 1970-an):
Kontribusinya: Pencetus Dynamic Meditation dan Kundalini Meditation.

Konsepnya: Memadukan getaran tubuh (shaking), pernapasan katarsis, dan tarian bebas sebelum memasuki fase hening. Diciptakan khusus untuk manusia modern yang penuh ketegangan emosional.

Gabrielle Roth (Amerika Serikat, 1970-an):
Kontribusinya: Pencetus 5-Rhythms.

Konsepnya: Tarian ekspresif (Ecstatic Dance) sebagai modal meditasi dan terapi emosi berbasis irama alami tubuh.

Thich Nhat Hanh (Vietnam, Abad ke-20):
Kontribusinya: Mempopulerkan Walking Meditation (Meditasi Jalan) di dunia modern.

Konsepnya: Menerapkan mindfulness pada setiap langkah kaki sebagai sarana penyembuhan dan grounding.

Prapto Suryodarmo, Surakarta, 1980-an
Kontribusinya:
Pencetus gerak meditasi yang dinamai Joged Amerta.

Konsepnya:
Tarian bebas menghayati semesta yang diselaraskan dengan gerak sebagai ekspresi diri nyawiji semesta (Wirasajendra).

Dalam tradisi spiritual Nusantara ajaran Sastrajendra, Wirasajendra bukan sekadar ajaran filosofis, melainkan sebuah tata laksana pencapaian kesadaran tinggi sebuah proses pangruwatan (penyucian total) atas unsur-unsur yang terikat pada sifat material menuju kemurnian (sattva).

Hubungan antara meditasi gerak, samadhi, dalam Sastrajendra dapat dipahami melalui penyelarasan Jagad Alit (mikrokosmos/diri) dan Jagad Ageng (makrokosmos/alam).

1.Meditasi Gerak sebagai Sarana Pangruwatan Somatik (hubungan pikiran dan tubuh untuk melepaskan ketegangan atau trauma yang tersimpan di dalam jaringan tubuh fisik.)
Sebelum batin mampu mencapai ketenangan samadhi, kesadaran manusia sering kali terhalang oleh riak emosi, ingatan traumatik, pikiran liar dan dorongan panca indera (hawa napsu) yang memicu impuls atau reaksi otomatis.

2.Pelepasan Ketegangan (Ngruwat Emosi): Gerakan tubuh yang dilakukan secara sadar seperti getaran, aliran tarian sakral, atau olah pernapasan merupakan bentuk fisik dari pangruwatan. Gerakan ini memproses dan melepaskan muatan emosional yang tersimpan dalam tubuh fisik dan jaringan saraf.

3.Transformasi Energi Kasar menjadi Halus: Dalam konteks Sastrajendra, berarti ngruwat untuk mengubah elemen yang merusak (seperti watak keraksasaan/anarki batin) menjadi keheningan dan keindahan.

Meditasi gerak dapat mengalirkan energi kasar tersebut menjadi melunak dan siap memasuki kondisi hening. Sastrajendra Living Academy pada pelatihan Wirasajendra
Konsepnya meliputi wellness holistic, seperti oleh pencetus-pencetus lainnya dengan tujuan yang sama, keheningan rasa menyembuhkan dan merubah segala enerji negatif pada fisik maupun batin. Perenungan ini diolah oleh sesepuh SLA – Romo Toni Kanjeng Gung, dan diformulasikan oleh Nyi Anggrek.

Nyi Anggrek memang seorang penari klasik dan terapis, dia pernah menjadi instruktur “meditasi gerak” ini di salah satu Rumah Sakit – di Bogor selama 4 tahunan.

Harapan kita semua, semoga Wirasajendra yang merupakan olah roso ini bisa berkembang dengan baik, di khalayak umum, sebagai Wellness Holistic Care.

(JJS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *