Jung dan Sastrajendra: dari Shadow menuju Kasampurnaning Hurip

Budaya153 Dilihat

DetikSR.id Bekasi, 1 September 2026.
Saya sangat berbahagia berhasil mewawancarai sesepuh Sastrajendra Living Academy, Romo Toni Junus Kanjeng ngGung yang beberapa bulan lalu diberi anugerah nama oleh Paguyuban Bhayangkara Nusantara – trah Majapahit dengan nama: Ki Ageng Nawang Jati Mawala.

Wawancara dibuka oleh Romo Toni diawali dengan bicara sekilas tentang Carl Gustav Jung (psikolog analitik), yakni tentang konsep Shadow.

Shadow adalah bagian dari kepribadian yang tidak kita sadari atau tidak kita akui sebagai bagian dari diri kita. Ia bisa berupa kemarahan, iri, keserakahan, ketakutan, ambisi, dorongan seksual, rasa rendah diri, tetapi juga adanya potensi dan kekuatan positif yang belum kita sadari.

Lanjut Romo, dalam bahasa sederhana:
Jangan melawan bayangan. Kenali bayangan, terangi dengan kesadaran, lalu ubahlah menjadi kekuatan untuk mencapai keselarasan.

Jika diterjemahkan ke dalam laku ajaran Sastrajendra.
Romo melihat ada hubungan yang menarik dengan Tri-Gati:
Gati Pikir — Gati Rogo — Gati Rasa (gati = kesadaran)

Shadow dapat muncul dalam ketiganya:
– Gati Pikir: pikiran negatif, prasangka, ego, keinginan menguasai.
– Gati Rogo: dorongan tubuh, kebiasaan, reaksi spontan.
– Gati Rasa: luka batin, iri, takut, dendam, rasa tidak dihargai.

Sesepuh SLA Romo Toni Junus Kanjeng ngGung

Dalam SLA… ditekankan pada Triwikrama (mengawinkan ketiga kesadaran) yang dapat dipahami sebagai proses menyelaraskan ketiganya melalui kesadaran.

Shadow → disadari → diterima → dipahami → ditransformasikan → diselaraskan.

Konsep ini bahkan dapat menjadi penjelasan modern terhadap istilah “Hayuningrat Pangruwating Diyu.”

Diyu” dapat dibaca secara reflektif sebagai kegelapan atau sisi manusia yang belum tercerahkan. Maka “pangruwating diyu” bukan semata-mata menghilangkan sesuatu yang dianggap buruk, tetapi meruwat kegelapan batin melalui kesadaran,” begitu Romo Toni menguraikan.

Pendapat psikolog analitik Carl Gustav Jung ternyata sebenarnya selaras dengan ajaran Sastrajendra.
Bahkan konsep Shadow dari C.G. Jung dapat menjadi jembatan psikologis yang kuat untuk menjelaskan salah satu inti laku Sastrajendra: mengenali, menerima, dan mentransformasikan sisi diri yang selama ini tersembunyi menuju keselarasan hidup.

Bagi Carl Gustav Jung, Shadow adalah bagian dari kepribadian yang tidak kita sadari atau tidak kita akui sebagai bagian dari diri kita. Ia bisa berupa kemarahan, iri, keserakahan, ketakutan, ambisi, dorongan seksual, rasa rendah diri, tetapi juga potensi dan kekuatan positif yang belum kita sadari.

Yang menarik, Jung tidak mengatakan bahwa Shadow harus dibunuh atau dimusnahkan. Sebaliknya, Shadow perlu dikenali dan diintegrasikan.

Ini sangat selaras dengan ajaran Sastrajendra di SLA.

Sastrajendra kasepuhan dalam bahasa sederhana:
Jangan melawan bayangan. Kenali bayangan, terangi dengan kesadaran, lalu ubahlah menjadi kekuatan untuk mencapai keselarasan.

Jika diterjemahkan ke dalam laku Sastrajendra, menurut Romo Toni, ada hubungan yang menarik dengan Tri-Gati (tiga kesadaran manusia).

Gati Pikir — Gati Rasa — Gati Raga

Shadow dapat muncul dalam ketiganya:
Gati Pikir: pikiran negatif, prasangka, ego, keinginan menguasai.
Gati Rogo: dorongan tubuh, kebiasaan, reaksi spontan.
Gati Rasa: luka batin, iri, takut, dendam, rasa tidak dihargai.

Kemudian Triwikrama dapat dipahami sebagai proses menyelaraskan ketiganya melalui kesadaran.

Jadi :
Shadow – disadari, diterima, dipahami, lalu ditransformasikan dan diselaraskan.

Hubungannya dengan “Pangruwating Diyu

Ini bahkan dapat menjadi penjelasan modern terhadap istilah Hayuningrat Pangruwating Diyu.

Diyu” dapat dibaca secara reflektif sebagai kegelapan atau sisi manusia yang belum tercerahkan. Maka pangruwating diyu bukan semata-mata menghilangkan sesuatu yang dianggap buruk, tetapi meruwat kegelapan batin melalui kesadaran.

Di sinilah Jung selaras bagi pengajaran di SLA:

Yang tidak kita sadari akan menguasai kita. Yang kita sadari dapat kita transformasikan.

Tetapi ada satu perbedaan penting
Sastrajendra bukan menjadikan psikologi Jung ke dalam bahasa Jawa.
Namun Jung hanya dipakai sebagai pisau analisis modern, sedangkan Sastrajendra memiliki kerangka spiritual dan budaya sendiri.

Jung berbicara tentang individuasi—menjadi pribadi yang utuh.

Sastrajendra membawanya lebih jauh menuju kasampurnaning hurip –kehidupan yang selaras antara diri, sesama, alam, leluhur, dan Yang Ilahi.

Romo Toni menandaskan: Yang tidak kita sadari akan menguasai kita. Yang kita sadari dapat kita transformasikan.

Sebagai sesepuh Sastrajendra, Romo mengatakan bahwa ajaran Sastrajendra itu sangat luhur, maka dalam wadah didik Sastrajendra Living Academy diupayakan dengan bahasa yang komunikatif.
Bagaimana mencapai Samadhi… semua diajarkan, dilatih dengan serius karena “ilmu iku kelakon kanti laku“.

(JJS).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *