Benarkah Warga Kabupaten Sukabumi Lebih Suka TikTok Ketimbang Membuka Link Berita?

Berita Daerah572 Dilihat

DetikSR.id Sukabumi, Perubahan pola konsumsi informasi di era digital semakin terasa, termasuk di Kabupaten Sukabumi. Media sosial, khususnya TikTok, kini disebut-sebut lebih sering menjadi pintu masuk masyarakat terutama generasi muda untuk mengetahui suatu peristiwa dibandingkan membuka tautan berita dari media arus utama.

Fenomena ini bukan tanpa dasar. Berdasarkan survei Jakpat terkait perilaku konsumsi informasi Generasi Z di Indonesia, sebanyak 24 persen Gen Z menjadikan TikTok sebagai sumber informasi utama, mengungguli YouTube (23 persen) dan Instagram (22 persen). Bahkan, 47 persen Gen Z menghabiskan waktu lebih dari satu jam dalam sekali akses TikTok, menunjukkan kuatnya daya tarik platform video pendek tersebut.

Namun demikian, penting dicatat bahwa data ini bersifat nasional dan tidak secara spesifik meneliti warga Kabupaten Sukabumi.

Meski begitu, Sukabumi yang berada di Pulau Jawa, wilayah dengan proporsi responden terbesar dalam survei (sekitar 52 persen) dapat diasumsikan turut merefleksikan tren tersebut.
TikTok sebagai “Gerbang Awal” informasi popularitas TikTok di kalangan generasi muda tidak terlepas dari format kontennya yang singkat, visual, dan mudah dipahami.

Informasi disajikan dalam bentuk video vertikal dengan gaya storytelling yang cepat, emosional, dan sering kali disertai opini personal kreator.
Kondisi ini membuat TikTok kerap menjadi “gerbang awal” informasi, bukan sumber akhir.

Banyak pengguna mengetahui suatu peristiwa dari TikTok terlebih dahulu, lalu idealnya melanjutkan dengan mencari informasi lanjutan dari media berita daring. Namun dalam praktiknya, tidak semua pengguna melakukan verifikasi lanjutan. Inilah yang kemudian memunculkan kekhawatiran tersendiri di kalangan jurnalis dan pemerhati literasi media.

Bagaimana dengan orang dewasa di Sukabumi? pola konsumsi informasi masyarakat dewasa menunjukkan kecenderungan yang berbeda. Berdasarkan berbagai riset penggunaan media sosial di Indonesia, kelompok usia dewasa lebih dominan menggunakan WhatsApp dan Facebook sebagai sumber informasi harian.

Data menunjukkan:
83,8 persen pengguna dewasa aktif di WhatsApp.
50,6 persen aktif di Facebook
Sementara TikTok berada di kisaran 29,4 persen Artinya, bagi masyarakat dewasa di Sukabumi, informasi lebih sering diperoleh melalui grup WhatsApp keluarga, komunitas, maupun Facebook, bukan semata-mata dari TikTok atau langsung dari situs berita.

Kasus Siti Siska Lestari: Viral di TikTok, Minim Dibaca di Media?
Fenomena ini menjadi semakin nyata ketika melihat kasus Siti Siska Lestari, yang justru lebih dikenal luas melalui konten TikTok dibandingkan pemberitaan di media online seperti Detikcom Jabar, Sukabumi Update, dan media lokal lainnya.

Banyak warga mengetahui kasus tersebut bukan dari link berita, melainkan dari potongan video, narasi singkat, dan opini kreator di TikTok. Hal ini menunjukkan bahwa viralitas di media sosial kini sering kali lebih berpengaruh daripada jangkauan media berita konvensional.
Beberapa faktor yang memengaruhi kondisi tersebut antara lain:

-Efek viral algoritma TikTok, yang mampu menyebarkan satu konten ke jutaan pengguna dalam waktu singkat.
-Kemudahan akses dan berbagi, cukup dengan scroll tanpa perlu membuka tautan eksternal.
-Dominasi generasi muda, yang lebih akrab dengan media sosial dibandingkan portal berita.

Tantangan akurasi dan kiterasi informasi Meski efektif dalam penyebaran, media sosial memiliki kelemahan serius: akurasi dan kelengkapan informasi. Konten TikTok sering kali bersifat potongan, opini sepihak, atau bahkan spekulatif.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak berhenti pada informasi dari media sosial saja, melainkan tetap merujuk pada sumber berita yang kredibel atau pihak terkait agar memperoleh gambaran yang utuh dan berimbang.

Dalam konteks kasus Siti Siska Lestari, masyarakat yang ingin mendapatkan penjelasan hukum yang lebih akurat dapat langsung menghubungi Suta Widhya, SH di nomor 0817-1450-93, selaku Ketua Tim Penasihat Hukum Siti Siska Lestari binti almarhum, guna memperoleh informasi resmi dan bertanggung jawab. Kesimpulan
Apakah warga Kabupaten Sukabumi lebih suka TikTok daripada membuka link berita? Jawabannya: sebagian iya, terutama generasi muda, namun tidak sepenuhnya menggantikan peran media berita. TikTok kini berperan besar sebagai pemantik perhatian, sementara media online tetap dibutuhkan sebagai sumber klarifikasi, pendalaman, dan verifikasi fakta. Tantangan ke depan bukan memilih salah satu, melainkan meningkatkan literasi digital agar masyarakat mampu memilah informasi dengan bijak di tengah derasnya arus media sosial.

Sumber : Basir

Red-Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *