Air PAM Jaya Mati di Kalianyar, Warga Menjerit: “Jangan Sampai Target IPO dan Layanan 100 Persen Hanya Jadi Slogan”

Berita177 Dilihat

DetikSR.id Jakarta – Krisis air bersih kembali menghantam permukiman padat penduduk di Kelurahan Kalianyar, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Sejumlah warga mengeluhkan matinya aliran air PAM Jaya selama beberapa hari terakhir. Kalaupun mengalir, debit air disebut sangat kecil dan tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Situasi ini memicu keresahan warga di salah satu wilayah terpadat di Ibu Kota tersebut. Kebutuhan air bersih yang merupakan kebutuhan primer dinilai tidak lagi bisa dipenuhi secara layak hanya dengan solusi sementara berupa distribusi tangki air.

Menanggapi persoalan tersebut, anggota LMK Kelurahan Kalianyar, Oki Septian, mengapresiasi langkah cepat PAM Jaya yang telah mengirimkan empat mobil tangki air bersih untuk membantu kebutuhan masyarakat terdampak.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada PAM Jaya atas respon cepatnya dengan mengirimkan empat tangki mobil air bersih ke wilayah Kalianyar,” ujar Oki kepada wartawan, Kamis (28/5/2026).

Namun demikian, Oki menegaskan bahwa persoalan air bersih di Kalianyar tidak boleh dianggap sebagai persoalan insidental semata. Ia mengajak seluruh pengurus wilayah mulai dari RT, RW, hingga unsur masyarakat lainnya untuk bersama-sama mencari solusi permanen.

“Kita harus sama-sama mencari solusi untuk semua wilayah yang mengalami kendala air. Karena kebutuhan air bersih adalah salah satu kebutuhan pokok masyarakat. Maka dari itu kita tidak bisa terus-menerus hanya menunggu solusi sementara berupa tangki air bersih,” tegasnya.

Kondisi krisis air ini disebut semakin memperlihatkan lemahnya distribusi layanan air bersih di kawasan dengan tingkat kepadatan tinggi seperti Tambora, khususnya Kelurahan Kalianyar. Banyak warga mengaku kesulitan untuk mandi, mencuci, hingga memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga akibat matinya aliran air.
Sejumlah warga bahkan terpaksa membeli air galon tambahan dan menggunakan jasa air swasta untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Beban ekonomi masyarakat pun meningkat di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Ketua RT di Kalianyar, Andi Nugroho, mengingatkan agar persoalan distribusi air bersih tidak dipandang sebelah mata. Menurutnya, target besar PAM Jaya untuk melakukan Initial Public Offering (IPO) dan mencapai cakupan layanan 100 persen pada tahun 2029 harus dibuktikan dengan kualitas pelayanan nyata di lapangan.

“Jangan sampai target PAM Jaya yang mau IPO dan target pelayanan 100 persen pada tahun 2029 hanya menjadi slogan semata, sedangkan pelayanan air bersih kepada masyarakat masih tidak maksimal,” kata Andi.

Ia menilai persoalan air bersih di wilayah padat seperti Kalianyar membutuhkan langkah menyeluruh dan terukur, bukan sekadar solusi jangka pendek yang bersifat darurat.

“Dengan tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi di Kalianyar dan Tambora, kebutuhan air itu sangat besar. Maka dibutuhkan solusi menyeluruh, bukan hanya solusi pendek dengan pengiriman tangki air. Karena air adalah kebutuhan primer masyarakat,” ujarnya.

Andi menegaskan bahwa masyarakat memahami adanya gangguan teknis atau kendala distribusi yang mungkin terjadi sewaktu-waktu. Namun ia meminta PAM Jaya untuk segera melakukan pembenahan sistem distribusi agar persoalan serupa tidak terus berulang.

“Kami apresiasi respon cepat PAM Jaya. Tetapi masyarakat juga butuh tindakan nyata dan solusi permanen, jangan melulu solusi pendek,” tambahnya.

Nada lebih keras disampaikan Akram, salah satu Ketua RT di Kalianyar. Ia menilai kondisi yang terjadi saat ini sudah berada dalam tahap mengkhawatirkan dan layak disebut sebagai kondisi darurat air bersih.
“Kalau kondisi seperti ini terus terjadi, saya menilai Kalianyar sudah masuk kategori darurat air bersih,” tegas Akram.

Menurutnya, wilayah padat penduduk seperti Kalianyar sangat rentan mengalami dampak sosial ketika kebutuhan air terganggu. Selain mempengaruhi kesehatan masyarakat, krisis air juga berpotensi memicu persoalan sanitasi dan lingkungan.

“Kita bicara wilayah yang sangat padat. Kalau air mati, dampaknya luar biasa. Sanitasi terganggu, kesehatan warga terancam, aktivitas masyarakat juga lumpuh,” katanya.

Sementara itu, Ketua RW 03 Kalianyar, Agus Sukardi, menyatakan pihaknya akan terus menyuarakan aspirasi warga terkait pemenuhan kebutuhan air bersih kepada pihak terkait, termasuk PAM Jaya dan pemerintah daerah.

“Kami akan terus menyuarakan dan memperjuangkan pemenuhan air bersih di Kalianyar supaya kebutuhan masyarakat akan air bersih bisa tercapai. Kita akan perjuangkan dan dorong sampai benar-benar terealisasi,” ujar Agus.

Agus mengatakan masyarakat selama ini sudah cukup bersabar menghadapi persoalan distribusi air yang dinilai belum stabil. Ia berharap ada perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan terhadap persoalan dasar yang menyangkut hajat hidup warga.

Menurutnya, persoalan air bersih tidak boleh diperlakukan hanya sebagai isu teknis biasa. Sebab, air merupakan kebutuhan vital yang menentukan kualitas hidup masyarakat perkotaan.

Di sisi lain, krisis air di Tambora kembali membuka pertanyaan besar mengenai kesiapan infrastruktur layanan air bersih Jakarta menghadapi kepadatan penduduk yang terus meningkat setiap tahun. Wilayah Tambora sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan terpadat di Asia Tenggara dengan kebutuhan air domestik yang sangat tinggi.

Ironisnya, di tengah berbagai target modernisasi dan ekspansi layanan yang digaungkan PAM Jaya, sejumlah wilayah padat justru masih menghadapi persoalan mendasar berupa aliran air yang mati atau tidak stabil.
Masyarakat berharap persoalan ini tidak berhenti pada distribusi bantuan tangki air semata, tetapi diikuti dengan evaluasi menyeluruh terhadap jaringan distribusi, kapasitas pasokan, hingga kualitas pelayanan kepada pelanggan.

Warga juga meminta transparansi dari PAM Jaya terkait penyebab pasti gangguan distribusi yang terjadi di Kalianyar. Mereka menilai keterbukaan informasi penting agar masyarakat tidak terus berada dalam ketidakpastian.
Hingga berita ini diturunkan, distribusi bantuan air bersih masih dilakukan di sejumlah titik terdampak di Kelurahan Kalianyar. Sementara warga berharap aliran air PAM dapat kembali normal dan stabil dalam waktu dekat.

Bagi masyarakat Kalianyar, persoalan ini bukan sekadar gangguan layanan biasa. Krisis air telah menjadi gambaran nyata bagaimana kebutuhan paling mendasar masyarakat perkotaan masih belum sepenuhnya terpenuhi.

Dan ketika air bersih menjadi barang langka di tengah padatnya Jakarta, maka yang dipertanyakan bukan lagi sekadar gangguan teknis, melainkan sejauh mana negara dan penyedia layanan benar-benar hadir memenuhi hak dasar warganya.(Andri Cex)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *