DetikSR.id Jakarta, Kehadiran Prabowo Subianto di kawasan bantaran rel kereta Pasar Gaplok, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, pada (26/3/2026) menjadi momen yang tak terlupakan bagi warga setempat. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, kunjungan mendadak tersebut menghadirkan kejutan sekaligus haru, khususnya bagi Chono (56), salah satu warga yang telah puluhan tahun tinggal di lokasi tersebut.
Didampingi oleh Teddy Indra Wijaya, Presiden Prabowo terlihat berjalan menyusuri jalur rel kereta yang selama ini menjadi “halaman depan” bagi warga yang tinggal di sekitarnya. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda blusukan untuk melihat langsung kondisi masyarakat di kawasan padat dan rawan tersebut.
Chono mengaku sama sekali tidak menyangka akan bertemu langsung dengan orang nomor satu di Indonesia. Saat ditemui pada (27/3/2026), ia menceritakan bagaimana momen itu terjadi secara spontan.
“Tidak ada pemberitahuan sama sekali. Tiba-tiba sudah ada di situ,” ujarnya.
Saat itu, Chono tengah berdiri di dekat puing-puing rumahnya yang baru saja dibongkar dalam rangka penataan kawasan bantaran rel. Kehidupan yang selama ini ia jalani berubah drastis dalam waktu singkat, namun kehadiran Presiden justru memberi secercah harapan baru.
Chono masih mengingat jelas momen pertama kali melihat Presiden Prabowo. Dari kejauhan, ia melihat sosok pria bertopi yang langsung dikenalnya.
“Begitu lihat topinya, saya langsung tahu itu Pak Prabowo,” katanya.
Namun, alih-alih hanya menyapa, Chono justru berlari menghampiri Presiden dengan perasaan cemas.
Ia khawatir akan keselamatan rombongan yang berjalan di atas rel kereta, mengingat kondisi jalur tersebut memiliki tikungan tajam dengan jarak pandang terbatas.
Ia bahkan meminta anak bungsunya, Rendy (21), untuk berjaga di ujung rel guna mengantisipasi kemungkinan datangnya kereta.
“Tadi saya kejar karena takut ada kereta dari tikungan yang tidak kelihatan,” tambahnya.
Bagi Chono, keselamatan adalah prioritas utama, terlebih bagi tamu yang belum memahami kondisi medan yang berisiko tinggi tersebut.
Bersama istrinya, Rias Tuti (54), serta dua anaknya, Rizky (25) dan Rendy (21), Chono telah tinggal di bantaran rel selama kurang lebih 30 tahun. Rumah semi permanen yang mereka tempati hanya berjarak sekitar dua meter dari rel kereta.
Ia mengaku datang ke Jakarta dari Comal, Jawa Tengah, setelah menikah dengan perempuan asal Kwitang. Sejak saat itu, kawasan Pasar Gaplok menjadi tempatnya membangun kehidupan.
Di tengah keterbatasan ekonomi, Chono bekerja serabutan, termasuk sebagai pemulung. Kondisi serupa juga dialami sebagian besar warga lainnya.
“Mayoritas di sini pemulung. Ada juga yang jadi buruh bangunan atau bongkar muat,” ujarnya.
Dengan penghasilan yang tidak menentu, pilihan untuk tinggal di tempat yang lebih layak menjadi sulit. Harga kontrakan yang terus meningkat di Jakarta semakin mempersempit ruang gerak mereka.
“Sekarang ngontrak mahal, minimal Rp800 ribu. Yang sederhana saja sudah Rp500 ribu,” katanya.
Di sepanjang rel Pasar Gaplok, terdapat sekitar 30 hingga 40 kepala keluarga yang hidup berdempetan dalam kondisi serba terbatas.
Dalam dialog singkat bersama warga, Presiden Prabowo menyinggung rencana relokasi ke rumah susun sebagai solusi jangka panjang. Tawaran tersebut langsung disambut positif oleh Chono.
“Kalau dibikinkan rumah susun, mau pindah tidak? Saya jawab, mau,” tuturnya.
Bagi Chono dan warga lainnya, memiliki hunian yang aman dan layak adalah impian sederhana yang selama ini belum terwujud. Hidup di dekat rel kereta bukan hanya soal keterbatasan, tetapi juga risiko keselamatan yang selalu mengintai.
Ia menegaskan bahwa hampir seluruh warga bersedia direlokasi, selama tempat tinggal yang disediakan terjangkau dan layak huni.
Selain menyampaikan rencana pembangunan hunian, Presiden Prabowo juga memberikan bantuan langsung kepada warga. Chono mengaku menerima bantuan sebesar Rp2 juta untuk keluarganya.
Bantuan tersebut tidak ia gunakan untuk kebutuhan konsumtif, melainkan direncanakan sebagai modal usaha.
“Saya mau beli gerobak untuk memulung, biar bisa nambah penghasilan,” katanya.
Langkah tersebut mencerminkan semangat bertahan dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.
Kunjungan mendadak Presiden Prabowo ke bantaran rel Pasar Gaplok menjadi simbol kepedulian terhadap masyarakat kecil yang selama ini hidup di pinggiran.
Bagi Chono dan warga lainnya, momen tersebut bukan sekadar pertemuan singkat, tetapi juga awal dari harapan baru akan perubahan.
Di tengah keterbatasan dan ketidakpastian, janji akan hunian layak serta perhatian langsung dari pemerintah menjadi secercah cahaya bagi mereka yang telah lama bertahan dalam kondisi sulit.
Kini, warga hanya bisa menunggu realisasi janji tersebut, sembari tetap menjalani kehidupan sehari-hari di antara deru kereta yang terus melintas.
Ervinna












