Danantara Proyeksikan 33 Proyek Sampah Nasional Jadi Energi Listrik Serap Hingga 130 Ribu Tenaga Kerja

Berita75 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Pengembangan proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di berbagai daerah diproyeksikan menjadi salah satu penggerak ekonomi baru sekaligus solusi atas persoalan sampah nasional.

Danantara Indonesia memperkirakan pembangunan 33 fasilitas Waste-to-Energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi akan mampu menyerap hingga 130 ribu tenaga kerja, mulai dari tahap konstruksi hingga operasional.

Proyek ini akan dikelola oleh PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), perusahaan pengelolaan sampah terintegrasi yang berada dalam ekosistem Danantara Indonesia.

Denera menegaskan akan mengutamakan penggunaan tenaga kerja lokal di setiap wilayah pembangunan agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.

Chief Executive Officer Denera, Fadli Rahman, mengatakan keterlibatan pemerintah daerah dan masyarakat menjadi faktor penting dalam memastikan keberhasilan proyek tersebut. Menurutnya, kolaborasi yang baik akan menciptakan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi yang nyata.

“Kami memastikan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pihak lokal berjalan dengan baik, termasuk memaksimalkan penggunaan tenaga kerja lokal,” ujar Fadli Rahman dalam keterangan resmi, pada (4/7/2026).

Berdasarkan proyeksi Danantara, setiap pembangunan fasilitas PSEL membutuhkan sekitar 500 hingga 1.000 pekerja selama masa konstruksi. Jika seluruh 33 fasilitas direalisasikan, jumlah tenaga kerja yang terlibat mulai dari tahap pembangunan hingga pengoperasian diperkirakan mencapai 130 ribu orang.

Selain membuka lapangan pekerjaan, proyek Waste-to-Energy diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah melalui peningkatan aktivitas industri, terbukanya peluang usaha pendukung, serta meningkatnya pendapatan masyarakat di sekitar lokasi proyek.

Di sisi lain, pembangunan fasilitas Waste-to-Energy juga dipandang sebagai salah satu solusi strategis dalam mengatasi persoalan sampah yang terus meningkat di Indonesia.

Fadli Rahman menilai masalah sampah telah berkembang menjadi persoalan lintas generasi yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat, kualitas lingkungan, hingga perubahan iklim. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif dalam pengelolaan sampah, dimulai dari pemilahan sampah di tingkat rumah tangga hingga mendukung penerapan teknologi pengolahan sampah modern.

“Mari kita bersama-sama mendukung setiap upaya yang dapat menjadi solusi bagi persoalan sampah di Indonesia,” katanya.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan proyek Waste-to-Energy tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga bergantung pada dukungan masyarakat dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Sementara itu, Sustainability Provocateur sekaligus Founder Social Investment Indonesia, Jalal, menilai pembangunan fasilitas Waste-to-Energy harus diiringi dengan penguatan budaya pemilahan sampah sejak dari sumbernya, baik di lingkungan rumah tangga, kawasan komersial, maupun industri.

Menurut Jalal, tantangan utama pengelolaan sampah di Indonesia bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga karakteristik sampah yang masih didominasi limbah organik dengan kadar air tinggi.

Kondisi tersebut membuat proses pemilahan menjadi langkah penting sebelum sampah dapat diolah menjadi energi.

Ia juga menekankan bahwa masyarakat harus dilibatkan secara aktif sejak tahap perencanaan hingga operasional proyek agar pembangunan memperoleh dukungan sosial yang kuat.

“Partisipasi masyarakat bukan sekadar formalitas dalam proses perizinan. Warga sekitar harus dilibatkan sejak tahap perencanaan, mendapatkan akses terhadap informasi emisi secara terbuka, serta memperoleh manfaat nyata dari proyek yang dibangun. Tanpa itu, WtE berpotensi kehilangan legitimasi sosial yang justru menjadi fondasi keberlanjutannya,” ujar Jalal.

Menurutnya, pendekatan tersebut akan memastikan proyek pengolahan sampah menjadi energi tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan melalui pengurangan timbunan sampah dan produksi energi bersih, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi dan sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar lokasi pembangunan.

Dengan rencana pembangunan 33 fasilitas Waste-to-Energy di berbagai daerah, pemerintah dan Danantara berharap proyek ini menjadi tonggak penting dalam transformasi pengelolaan sampah nasional.

Selain membantu mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA), proyek ini diharapkan mampu meningkatkan pasokan energi terbarukan, menciptakan puluhan ribu lapangan kerja, serta mendorong terwujudnya ekonomi sirkular yang lebih ramah lingkungan di Indonesia.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *