Grab Pastikan Tetap Beroperasi Bantah Isu Keluar Dari Indonesia, Komitmen Perkuat Ekonomi Digital Nasional dan Dukung Jutaan Mitra

Berita74 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Platform layanan transportasi dan pengantaran berbasis aplikasi Grab Indonesia menegaskan bahwa kabar yang menyebut perusahaan berencana hengkang dari Indonesia tidak benar.

Penegasan tersebut disampaikan menyusul beredarnya berbagai spekulasi di media sosial dan sejumlah platform digital terkait masa depan operasional Grab di Tanah Air setelah terbitnya regulasi baru mengenai potongan pendapatan mitra pengemudi.

CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi, memastikan Indonesia tetap menjadi salah satu pasar strategis dan ekosistem terpenting bagi Grab di kawasan Asia Tenggara.
“Grab menegaskan bahwa rumor mengenai rencana keluar dari Indonesia adalah tidak benar,” kata Neneng dalam keterangan resmi di Jakarta, pada (4/6/2026).

Menurut Neneng, selama lebih dari satu dekade beroperasi di Indonesia, Grab telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari jutaan masyarakat, baik sebagai pengguna layanan transportasi dan pengantaran maupun sebagai mitra pengemudi dan pelaku UMKM yang memanfaatkan platform digital untuk mengembangkan usahanya.
“Selama lebih dari satu dekade, Grab telah menjadi bagian dari keseharian jutaan masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa perusahaan tetap berkomitmen untuk terus tumbuh bersama masyarakat Indonesia serta mengambil peran aktif dalam mendukung pembangunan ekonomi digital nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

Komitmen tersebut, kata Neneng, tercermin dari berbagai kontribusi yang telah diberikan Grab kepada perekonomian nasional.

Perusahaan mengklaim telah berkontribusi terhadap sekitar 50 persen industri ride-hailing dan layanan pengantaran online di Indonesia. Selain itu, digitalisasi yang dilakukan melalui ekosistem Grab disebut telah membantu menciptakan sekitar 4,6 juta peluang kerja, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Tidak hanya itu, Grab juga menjalankan berbagai program pemberdayaan bagi mitra pengemudi melalui inisiatif “Grab untuk Indonesia” dengan nilai investasi yang diklaim mencapai lebih dari Rp100 miliar.
“Komitmen ini tercermin dari kontribusi Grab terhadap sekitar 50 persen industri ride-hailing dan pengantaran online, dukungannya dalam menciptakan 4,6 juta peluang kerja melalui digitalisasi UMKM, serta program Grab untuk Indonesia senilai lebih dari Rp100 miliar bagi mitra pengemudi,” kata Neneng.

Pernyataan Grab tersebut muncul setelah beredarnya rumor yang menyebut perusahaan tengah mengevaluasi dampak finansial dari penerapan kebijakan pembatasan komisi maksimal sebesar 8 persen pada layanan transportasi daring.

Isu tersebut mencuat setelah pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 yang mengatur besaran potongan pendapatan mitra pengemudi ojek online. Regulasi itu diumumkan pada awal Mei 2026 sebagai bagian dari upaya pemerintah memperkuat perlindungan dan kesejahteraan pengemudi transportasi berbasis aplikasi.

Dalam rumor yang beredar, disebutkan bahwa Grab sedang mengkaji sejumlah langkah untuk menjaga keberlanjutan bisnis, termasuk kemungkinan menaikkan biaya layanan kepada konsumen maupun mitra. Langkah tersebut disebut-sebut berpotensi memengaruhi tingkat permintaan layanan di tengah persaingan industri yang semakin ketat.

Bahkan, sejumlah spekulasi menyebut salah satu opsi yang dikaji perusahaan adalah mengurangi sebagian operasi hingga kemungkinan keluar dari pasar transportasi daring Indonesia.
Namun, Grab secara tegas membantah seluruh spekulasi tersebut dan memastikan tidak ada rencana untuk meninggalkan pasar Indonesia.

Lebih lanjut, Neneng menegaskan bahwa Grab menghormati setiap kebijakan dan arahan pemerintah Indonesia.
Perusahaan, kata dia, akan terus menyesuaikan diri dengan regulasi yang berlaku serta mendukung agenda pemerintah dalam memperkuat ekonomi digital nasional.

Menurutnya, keberhasilan ekosistem digital tidak dapat dicapai tanpa kolaborasi yang erat antara pemerintah, pelaku industri, mitra pengemudi, pelaku UMKM, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Grab akan terus berkolaborasi dengan pemerintah, mitra, dan seluruh pemangku kepentingan, karena bagi Grab, Indonesia bukan sekadar ekosistem, melainkan rumah tempat kami tumbuh bersama masyarakat,” ujarnya.

Penegasan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa Grab tetap melihat Indonesia sebagai pasar utama yang memiliki potensi pertumbuhan besar, seiring meningkatnya adopsi layanan digital, ekonomi berbasis platform, dan transformasi digital UMKM di berbagai daerah.

Dengan bantahan resmi tersebut, Grab berharap masyarakat, mitra pengemudi, serta pelaku usaha yang berada dalam ekosistemnya tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan tetap percaya terhadap komitmen jangka panjang perusahaan untuk berkembang bersama Indonesia.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *