Indonesia–Tiongkok Perkuat Kemitraan Strategis Melalui Pengobatan Tradisional dan Revitalisasi Warisan Budaya

Nasional138 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Pemerintah Indonesia dan Tiongkok terus memperluas ruang kerja sama strategis melalui sektor kebudayaan, kesehatan tradisional, dan pelestarian warisan budaya.

Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, dengan Chairman China State Construction International (CSCI), Gao Bo, yang membahas berbagai peluang kolaborasi untuk mendukung pembangunan berbasis budaya dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Salah satu agenda utama yang dibahas adalah rencana pengembangan pusat pengobatan tradisional di Indonesia yang mengintegrasikan layanan kesehatan berbasis pengetahuan lokal dengan fungsi edukasi dan pelestarian budaya.

Inisiatif tersebut dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi pengobatan tradisional sebagai bagian dari identitas bangsa sekaligus mendukung pengembangan sektor kesehatan yang berakar pada kearifan lokal.

Menurut Fadli Zon, pengobatan tradisional tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah dan budaya masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, pembangunan pusat pengobatan tradisional diharapkan menjadi ruang yang tidak hanya memberikan manfaat kesehatan, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada masyarakat domestik maupun internasional.

“Pengobatan tradisional merupakan bagian dari warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat. Kehadiran pusat pengobatan tradisional nantinya diharapkan menjadi sarana edukasi, penelitian, dan promosi budaya Indonesia, termasuk tradisi jamu yang telah memperoleh pengakuan dunia,” ujarnya di Jakarta, pada (18/6/2026).

Indonesia memiliki tradisi pengobatan herbal yang berkembang selama ratusan tahun dan diwariskan secara turun-temurun di berbagai daerah.

Tradisi tersebut tercermin dalam penggunaan tanaman obat, ramuan herbal, serta praktik kesehatan berbasis kearifan lokal yang masih digunakan hingga saat ini.
Pemerintah menilai potensi tersebut perlu terus dikembangkan melalui pendekatan ilmiah dan kolaboratif agar mampu memberikan manfaat yang lebih luas.

Kerja sama dengan Tiongkok dinilai memiliki nilai strategis mengingat negara tersebut memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan pengobatan tradisional yang telah terintegrasi dengan sistem kesehatan modern.

Melalui kerja sama ini, kedua negara berpeluang melakukan penelitian bersama, pertukaran tenaga ahli, pengembangan kurikulum pendidikan kesehatan tradisional, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Kolaborasi tersebut juga diharapkan dapat membuka peluang investasi, pengembangan industri herbal, dan penguatan ekonomi berbasis budaya.
Selain itu, pengembangan pusat pengobatan tradisional berpotensi mendukung sektor pariwisata kesehatan atau wellness tourism yang saat ini menjadi salah satu tren global.

Dengan kekayaan biodiversitas dan warisan budaya yang dimiliki, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu destinasi kesehatan berbasis budaya di kawasan Asia.

Selain membahas sektor kesehatan tradisional, kedua pihak juga menjajaki peluang kerja sama dalam revitalisasi dan rekonstruksi bangunan bersejarah serta pengembangan kawasan budaya di berbagai daerah di Indonesia.

Fadli Zon menekankan bahwa pelestarian bangunan bersejarah merupakan bagian penting dari upaya menjaga identitas bangsa di tengah pesatnya pembangunan modern.

Menurutnya, pengalaman dan kapasitas Tiongkok dalam bidang konstruksi dan konservasi dapat menjadi modal penting dalam mendukung berbagai proyek pelestarian warisan budaya di Indonesia.

Ia menyebut kawasan kota lama dan kota tua di sejumlah daerah memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat aktivitas budaya, ekonomi kreatif, pendidikan sejarah, dan destinasi wisata.
“Penataan dan revitalisasi kawasan bersejarah tidak hanya bertujuan menjaga peninggalan masa lalu, tetapi juga menghidupkan kembali fungsi sosial, budaya, dan ekonomi kawasan tersebut sehingga dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” katanya.

Program revitalisasi yang direncanakan mencakup pemugaran bangunan cagar budaya, peningkatan fasilitas publik di kawasan heritage, penguatan fungsi ruang budaya, hingga pemanfaatan teknologi modern dalam pelestarian situs bersejarah.

Dalam kesempatan tersebut, Gao Bo menegaskan bahwa setiap proyek pembangunan harus mempertimbangkan karakteristik sosial dan budaya masyarakat setempat.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh kualitas infrastruktur, tetapi juga oleh kemampuan proyek tersebut beradaptasi dengan lingkungan budaya di mana pembangunan berlangsung.
Ia menilai pendekatan pembangunan yang sensitif terhadap nilai-nilai budaya lokal akan menghasilkan kawasan yang lebih berkelanjutan dan memiliki identitas yang kuat.

“Selain desain, konsep, dan perencanaan, pembangunan harus mampu memahami dan menghormati karakteristik budaya masyarakat lokal sehingga hasilnya dapat diterima dan memberikan manfaat jangka panjang,” ujar Gao Bo.

Pandangan tersebut sejalan dengan visi pembangunan kebudayaan Indonesia yang menempatkan budaya sebagai fondasi pembangunan nasional sekaligus sumber inovasi dan daya saing bangsa.

Kerja sama di bidang pengobatan tradisional dan revitalisasi warisan budaya menjadi bagian dari penguatan hubungan Indonesia dan Tiongkok yang semakin berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

Selain sektor kebudayaan, kedua negara juga aktif menjalin kolaborasi di bidang pendidikan, ekonomi kreatif, industri film, seni pertunjukan, teknologi budaya, dan pengembangan sumber daya manusia.

Pemerintah Indonesia memandang diplomasi budaya sebagai instrumen penting untuk mempererat hubungan antarmasyarakat sekaligus memperluas peluang kerja sama ekonomi dan investasi yang berkelanjutan.

Melalui berbagai inisiatif tersebut, Indonesia dan Tiongkok diharapkan mampu membangun kemitraan yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pelestarian nilai-nilai budaya, penguatan identitas bangsa, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Pertemuan ini menjadi langkah awal bagi terwujudnya berbagai program kolaboratif yang menghubungkan pelestarian budaya, pengembangan kesehatan tradisional, dan pembangunan berkelanjutan. Ke depan, kerja sama tersebut diharapkan mampu menghasilkan manfaat nyata bagi kedua negara sekaligus memperkuat posisi budaya sebagai jembatan persahabatan dan kerja sama internasional.

Ervinna

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *