Jelang Muktamar NU, Gus Syaifuddin Ajak Nahdliyin Perkuat Ukhuwah Lewat Munajat Kebangsaan

Berita98 Dilihat

DetikSR.id Jakarta – Di tengah harapan besar menyongsong Muktamar Nahdlatul Ulama, sekitar 270 warga nahdliyin dari seluruh kecamatan di Jakarta Pusat berkumpul dalam Malam Munajat dan Silaturahmi Warga Nahdlatul Ulama Jakarta Pusat yang diselenggarakan oleh Forum Silaturahmi Jamaah Nahdlatul Ulama (FSJNU) Jakarta Pusat , Rabu (29/7/2026).

Lebih dari sekadar doa bersama, kegiatan ini menjadi ikhtiar mempererat ukhuwah, memperkuat semangat kebangsaan, sekaligus meneguhkan komitmen menjaga Nahdlatul Ulama sebagai rumah besar yang mempersatukan seluruh warganya. Suasana khusyuk yang menyelimuti acara mencerminkan harapan agar Muktamar NU mendatang mampu menghadirkan kepemimpinan yang membawa kemaslahatan bagi jam’iyah, umat, bangsa, dan negara.

Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah ulama, tokoh masyarakat, unsur pemerintah, serta para pengurus dan jamaah NU. Hadir dalam kesempatan itu Ketua Umum Forum Ulama Santri Indonesia (FUSI) sekaligus Ketua PCNU Jakarta Pusat periode 2020–2025
Gus Syaifuddin, Wakil Ketua Umum MUI DKI Jakarta Dr. KH. Yusuf Aman, Anggota DPRD DKI Jakarta Wa Ode Herlina, M.M., Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Administrasi Jakarta Pusat Drs. H. Sony Tri Wibawa mewakili Wali Kota Jakarta Pusat, Sekretaris Umum MUI Kota Jakarta Pusat KH. Fikri Muqoddas, Ketua DMI Jakarta Pusat KH. Syawaluddin, Ketua FKUB Jakarta Pusat KH. Rifqi Fuadi, Ketua Forum RT/RW Jakarta Pusat H. Joko, Pimpinan Yayasan Perguruan Islam Manhalun Nasyiin KH. Ahmad Samman, serta unsur Kecamatan Cempaka Putih, Kapolsek Cempaka Putih, dan Koramil Cempaka Putih.

Dalam sambutannya, Gus Syaifuddin mengapresiasi terselenggaranya Malam Munajat sebagai ruang spiritual untuk memperkuat persaudaraan sekaligus memohon petunjuk Allah SWT atas berbagai dinamika yang tengah dihadapi Nahdlatul Ulama, khususnya di Jakarta Pusat.

> “Saya mengapresiasi kegiatan ini dalam rangka Malam Munajat. Momentum ini harus benar-benar kita manfaatkan untuk bermunajat atas kegundahan dan kegelisahan yang selama ini kita alami, khususnya terhadap kondisi NU Jakarta Pusat. Semoga Allah SWT memberikan jalan terbaik sesuai konstitusi dan aturan organisasi yang berlaku,” ujarnya.

Ia mengajak seluruh warga NU agar tetap menjaga persatuan serta mengedepankan mekanisme organisasi dalam menyikapi setiap persoalan. Menurutnya, kebersamaan harus selalu menjadi fondasi utama dalam menjaga marwah Nahdlatul Ulama.

Gus Syaifuddin juga mengingatkan bahwa Gedung NU Jakarta Pusat merupakan hasil perjuangan para pengurus terdahulu yang dibangun sebagai rumah bersama bagi seluruh warga nahdliyin.

> “Gedung ini dibangun oleh pengurus sebelumnya untuk kepentingan bersama. Mari kita manfaatkan sebagai pusat kegiatan dakwah, pendidikan, silaturahmi, dan pengabdian kepada masyarakat. Gedung ini milik seluruh warga NU Jakarta Pusat,” katanya.

Ia berharap Malam Munajat menjadi titik awal rekonsiliasi seluruh elemen Nahdlatul Ulama di Jakarta Pusat.

> “Semoga malam ini menjadi malam rekonsiliasi bagi seluruh warga NU Jakarta Pusat. Mari kita songsong Muktamar Nahdlatul Ulama dengan hati yang bersih, menjaga persaudaraan, dan memohon kepada Allah SWT agar memberikan pemimpin terbaik yang mampu membawa kemajuan Nahdlatul Ulama serta terus berkhidmat untuk bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.”

Senada dengan itu, Wakil Ketua Umum MUI DKI Jakarta, Dr. KH. Yusuf Aman, mengingatkan bahwa semangat Nahdlatul Ulama sejak awal berdirinya tidak hanya berorientasi pada perjuangan keagamaan, tetapi juga lahir dari semangat kebangsaan yang kuat.

> “Semangat ber-NU adalah semangat bernegara. Sejarah panjang Nahdlatul Ulama diawali dari lahirnya Nahdlatul Wathan dan berbagai ikhtiar para ulama dalam membangun kesadaran cinta tanah air. Itu menunjukkan bahwa sejak awal, perjuangan NU didasarkan pada semangat kebersamaan, persatuan, dan pengabdian kepada bangsa. Nilai-nilai inilah yang harus terus kita jaga dan wariskan,” tutur KH. Yusuf Aman.

Menurutnya, semangat kebersamaan tersebut harus terus dipelihara oleh seluruh warga nahdliyin, terlebih menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama. Ia berharap setiap perbedaan pandangan dapat diselesaikan melalui musyawarah, dengan tetap menjunjung tinggi adab, konstitusi organisasi, dan persaudaraan.

Rangkaian acara diisi dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dzikir, munajat, dan doa bersama untuk keselamatan bangsa, keutuhan Nahdlatul Ulama, serta kelancaran pelaksanaan Muktamar NU. Para jamaah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh kekhusyukan dan kekeluargaan.

Malam Munajat yang digagas Forum Silaturahmi Jamaah Nahdlatul Ulama Jakarta Pusat ini menjadi pengingat bahwa kekuatan Nahdlatul Ulama tidak hanya terletak pada besarnya organisasi, tetapi juga pada kemampuan warganya menjaga ukhuwah, merawat persatuan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat. Dari Jakarta Pusat, semangat itu kembali diteguhkan: menyambut Muktamar bukan dengan perpecahan, melainkan dengan doa, rekonsiliasi, dan tekad bersama untuk menghadirkan NU yang semakin kokoh dalam khidmah kepada agama, bangsa, dan negara.(Red/DJ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *