Kapolsek Deni bersama Humas HNSI Mustapa Satukan Nelayan dengan Ketua HNSI Kecamatan Lewat Mediasi Intensif

Berita Daerah251 Dilihat

DetikSR.id TEMPILANG, Bangka Barat,Gejolak sosial antara masyarakat nelayan Tanjung Niur dan Ketua HNSI Kecamatan Tempilang yang sempat memanas dalam sepekan terakhir berhasil diredam tuntas.

Kapolsek Tempilang, Deni, bersama Humas Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Mustapa, memfasilitasi mediasi intensif hingga melahirkan kesepakatan damai yang ditandatangani kedua belah pihak, Jumat [10/04/2026].

Mediasi yang berlangsung selama lebih dari 3 jam di Aula Polsek Tempilang itu menghadirkan perwakilan 12 kelompok nelayan Tanjung Niur, Ketua HNSI Kecamatan Tempilang, tokoh masyarakat, serta unsur pemerintah desa. Jalannya musyawarah dijaga ketat namun tetap dalam suasana kekeluargaan.

Kronologi Singkat: Miskomunikasi Berujung Bentrokan.

Konflik bermula dari miskomunikasi terkait kebijakan internal organisasi dan penyaluran aspirasi nelayan yang dinilai tersumbat. Ketegangan memuncak awal pekan ini hingga terjadi aksi protes dan bentrokan fisik ringan di kawasan pesisir Tanjung Niur, Rabu [08/04/2026]. Beruntung tidak ada korban luka berat maupun kerusakan sarana.

Merespons cepat, Kapolsek Tempilang langsung menginstruksikan Bhabinkamtibmas untuk meredam situasi di lapangan dan mengundang seluruh pihak duduk bersama. “Kami tarik semua ke meja, bukan ke jalur pidana. Karena ini masih ranah gesekan sosial yang bisa disembuhkan lewat dialog,” tegas Kapolsek Deni.

Mediasi Berlapis: Strategi Kapolsek Deni & HNSI Babel.

Pendekatan yang dipakai Polsek Tempilang adalah _restorative justice_ berlapis. Tahap pertama, deteksi dini melalui Bhabinkamtibmas dan Kepala Dusun. Tahap kedua, _cooling system_ dengan memisahkan kelompok dan menggali akar masalah. Tahap ketiga, mediasi puncak yang melibatkan HNSI Provinsi Babel sebagai penengah netral di internal organisasi nelayan.

Peran Mustapa selaku Humas HNSI Provinsi Babel menjadi kunci. Sebagai perwakilan pengurus provinsi, Mustapa tidak hanya hadir secara struktural, tetapi aktif menjembatani tuntutan nelayan dengan klarifikasi dari Ketua HNSI Kecamatan. “Tugas kami memastikan tidak ada nelayan yang merasa ditinggal. Semua aspirasi harus sampai dan direspons,” ujar Mustapa.

Isi Kesepakatan Damai: 5 Poin Utama
Kesepakatan damai yang ditandatangani di atas materai dan disaksikan Kapolsek, perwakilan Kades, dan tokoh agama, memuat 5 poin:

1. Saling memaafkan. dan mencabut seluruh pernyataan yang berpotensi memprovokasi kedua belah pihak.
2. Menghentikan perselisihan. dalam bentuk apapun, baik lisan, tulisan, maupun di media sosial.
3. Membuka kanal aspirasi berkala. antara nelayan dan pengurus HNSI Kecamatan setiap 3 bulan sekali dengan difasilitasi Polsek.
4. Komitmen Ketua HNSI Kecamatan. untuk transparansi program dan melibatkan perwakilan nelayan Tanjung Niur dalam pengambilan kebijakan teknis.
5. Bersama menjaga kondusifitas.wilayah pesisir Tempilang dan menyelesaikan masalah melalui musyawarah.

Suara Nelayan: “Kami Butuh Didengar, Bukan Dilawan”.
Perwakilan nelayan Tanjung Niur, Suryanto, menyebut mediasi ini jadi titik balik. “Kami lega. Dari awal kami cuma minta didengar. Alhamdulillah Pak Kapolsek Deni dan Pak Mustapa turun langsung. Ini baru namanya mengayomi,” katanya sambil menahan haru.

Senada, Ketua HNSI Kecamatan Tempilang yang enggan disebut namanya mengaku mengambil pelajaran besar. “Saya mohon maaf atas kegaduhan kemarin. Ke depan komunikasi akan kami perbaiki. HNSI ini rumah nelayan, bukan sekat,” ujarnya.

Apresiasi Mengalir: Kapolsek & HNSI Dipuji Warga.

Gelombang apresiasi dari masyarakat Tanjung Niur mengalir deras pasca mediasi. Warga menilai Kapolsek Deni konsisten mengedepankan mediasi sebelum melangkah ke proses hukum. “Beliau itu cepat, tapi tidak grusa-grusu. Selalu cari solusi menang-menang. Pantas diacungi jempol,” ucap Rosmiati, istri nelayan setempat.

Mustapa juga banjir pujian karena dianggap mampu memposisikan diri sebagai penengah yang adil. “Pak Mustapa tidak bela pengurus, tidak bela nelayan. Beliau bela kebenaran dan kedamaian. Itu yang kami butuh,” timpal nelayan lainnya.

Komitmen Ke Depan: Jangan Tunggu Meledak.

Kapolsek Deni menegaskan Polsek Tempilang akan terus mengawal implementasi kesepakatan damai tersebut. Unit Intel dan Bhabinkamtibmas diminta memonitor dinamika nelayan Tanjung Niur sebulan sekali.

“Pesan saya satu: jangan tunggu masalah meledak baru lapor. Sekecil apapun gesekan, sampaikan ke Bhabin atau langsung ke saya. Mediasi 1 jam lebih murah daripada konflik 1 hari,” tegas Deni.

HNSI Provinsi Babel melalui Mustapa juga berkomitmen melakukan pembinaan organisasi hingga tingkat kecamatan. “Kasus Tempilang jadi evaluasi kami. Pengurus harus turun ke bawah, bukan nunggu laporan di atas meja,” tutupnya.

Dengan tercapainya perdamaian ini, aktivitas melaut 300-an kepala keluarga nelayan Tanjung Niur dipastikan kembali normal mulai Sabtu [11/04/2026]. Kapal-kapal yang sempat bersandar karena khawatir konflik meluas, besok sudah kembali melaut.

AR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *