Keluhan Pelayanan RSUD Siti Aisyah Lubuk Linggau, Wali Kota Akui Ada Miskomunikasi dan Janji Evaluasi Total

Berita Daerah271 Dilihat

DetikSR.id LUBUKLINGGAU — Keluhan terhadap layanan kesehatan kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, dugaan perlakuan tidak menyenangkan oleh oknum tenaga kesehatan di RSUD Siti Aisyah, Kota Lubuk Linggau Provinsi Sumatera Selatan ( Sumsel ) mencuat dan memantik perhatian pemerintah daerah.

Seorang warga bernama Maya, keluarga pasien peserta BPJS asal Kelurahan Taba Pingin, mengaku mendapat perlakuan kasar dari seorang perawat saat mendampingi anggota keluarganya yang tengah dirawat. Insiden tersebut disebut terjadi di dalam ruang perawatan pasien.

Pengakuan itu pun menambah daftar keluhan masyarakat terhadap layanan kesehatan, khususnya terkait aspek komunikasi dan pendekatan tenaga medis kepada pasien maupun keluarga.

Merespons hal tersebut, Wali Kota Lubuk Linggau, H Rachmat Hidayat atau Yoppy Karim, turun tangan langsung dan memastikan evaluasi menyeluruh tengah dilakukan terhadap manajemen pelayanan di RSUD Siti Aisyah.

“Kami hadir untuk melakukan evaluasi pelayanan kesehatan secara menyeluruh. Tidak hanya soal fasilitas, tetapi juga menyangkut kualitas pelayanan dan sikap petugas kepada masyarakat,” ujar Yoppy, kepada wartawan Senin (6/4/2026).

Berdasarkan hasil penelusuran awal, kata Yoppy, peristiwa itu terjadi saat jam besuk telah berakhir dan petugas kebersihan sedang melakukan pembersihan ruangan. Namun, keluarga pasien masih berada di dalam ruang perawatan, sehingga memicu teguran dari tenaga kesehatan.

Meski demikian, ia tidak menampik adanya persoalan dalam cara penyampaian yang dinilai kurang tepat.

“Ada miskomunikasi di lapangan. Mungkin penyampaiannya terdengar keras sehingga menimbulkan ketidaknyamanan. Ini yang menjadi catatan penting bagi kami,” tegasnya.

Lebih jauh, Yoppy menekankan bahwa kejadian ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk memperketat penerapan standar operasional prosedur (SOP), sekaligus memperbaiki etika komunikasi tenaga kesehatan.

“Pelayanan kesehatan tidak cukup hanya mengikuti SOP, tetapi juga harus mengedepankan empati dan komunikasi yang humanis. Ini akan menjadi evaluasi besar bagi kami,” ujarnya.

Kasus ini pun mencerminkan tantangan yang masih dihadapi sektor layanan kesehatan di daerah, terutama dalam menjaga keseimbangan antara disiplin prosedur dan pendekatan yang berorientasi pada pasien.

Pemerintah Kota Lubuk Linggau memastikan akan melakukan pembinaan terhadap tenaga kesehatan serta meningkatkan pengawasan agar kejadian serupa tidak terulang. Di sisi lain, masyarakat juga diimbau untuk mematuhi aturan rumah sakit, termasuk jam besuk, demi menjaga kenyamanan dan keselamatan bersama.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kualitas layanan kesehatan tidak hanya diukur dari fasilitas, tetapi juga dari sikap, komunikasi, dan kepekaan tenaga medis dalam melayani masyarakat. ( Rif’at Achmad )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *