Kemenbud RI Tetapkan Gua Liangkabori dan Liang Metanduno Sebagai Cagar Budaya Nasional, Warisan Prasejarah Indonesia Makin Diakui Dunia

Berita124 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) Republik Indonesia menetapkan kawasan prasejarah Gua Liangkabori dan Liang Metanduno di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, sebagai Situs Cagar Budaya Peringkat Nasional.

Penetapan tersebut menjadi tonggak penting dalam upaya pelestarian warisan budaya Indonesia sekaligus memperkuat posisi Nusantara sebagai salah satu pusat peradaban manusia purba dunia.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dalam keterangan yang diterima di Jakarta, pada (12/7/2026), mengatakan seluruh tahapan sidang penetapan status oleh Tim Ahli Cagar Budaya Nasional telah rampung dilaksanakan pada pekan lalu.

“Penetapan status sidangnya sudah selesai minggu lalu. Tinggal diumumkan, insya Allah pada awal Agustus sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional,” ujar Fadli Zon.

Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Pemerintah Kabupaten Muna, Pemerintah Desa Liangkabori, para tokoh adat, peneliti, komunitas budaya, hingga masyarakat setempat yang secara turun-temurun menjaga kelestarian kawasan prasejarah tersebut.

Menurutnya, komitmen masyarakat juga tercermin melalui penyelenggaraan Festival Liangkabori ke-4 Tahun 2026 yang menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian budaya.
Fadli menegaskan, penetapan kawasan Liangkabori sebagai cagar budaya nasional bukan sekadar bentuk perlindungan terhadap situs arkeologi, tetapi juga menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkenalkan kembali sejarah panjang peradaban manusia kepada dunia.

Menurutnya, kawasan Liang Metanduno kini menjadi perhatian komunitas arkeologi internasional setelah hasil penelitian kolaboratif sejumlah perguruan tinggi dalam dan luar negeri bersama Griffith University Australia serta Balai Pelestarian Kebudayaan yang dipublikasikan pada 22 Januari 2026.

Hasil penelitian tersebut, kata Fadli, telah dicatat dalam Guinness Book of Records 2026 sebagai lukisan gua non-figuratif tertua di dunia (the world’s oldest non-figurative cave painting).

Ia menjelaskan, penanggalan menggunakan metode ilmiah laser ablation uranium-series menunjukkan bahwa pigmen visual purba berukuran sekitar 14 x 10 sentimeter di Liang Metanduno memiliki usia sedikitnya 67.800 tahun.

Temuan tersebut memecahkan rekor dunia sebelumnya yang berasal dari Leang Karampuang di Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, dengan usia sekitar 51.200 tahun.

Bahkan, lukisan gua di Muna tercatat sekitar 1.100 tahun lebih tua dibandingkan usia minimum cap tangan purba di Maltravieso, Spanyol, yang dikaitkan dengan manusia Neanderthal, serta jauh lebih tua dibanding lukisan gua terkenal di Gua Chauvet, Prancis, yang diperkirakan berusia 30.000–32.000 tahun maupun Gua Lascaux yang berusia sekitar 17.000 tahun.

Fadli menilai penemuan tersebut membuka peluang lahirnya perspektif baru dalam kajian asal-usul manusia modern.

Menurutnya, bukti arkeologis yang ditemukan di Muna menunjukkan jejak kehidupan Homo sapiens yang membentang hingga sekitar 2.700 generasi.

“Selama ini ilmu pengetahuan banyak dipengaruhi cara pandang kolonial yang menganggap kawasan kita lebih muda dibanding Eropa. Dengan bukti arkeologis yang sangat kuat ini, kita harus berani mengkaji kembali teori-teori lama. Narasi migrasi manusia bisa saja berlangsung dua arah atau multiple traffic, termasuk adanya kemungkinan Out of Nusantara atau Out of Sulawesi,” katanya.

Sebagai tindak lanjut penetapan tersebut, Kementerian Kebudayaan berkomitmen memperkuat upaya konservasi kawasan prasejarah Muna, terutama dalam menghadapi ancaman degradasi fisik akibat perubahan iklim.

Pemerintah juga akan membangun Pusat Informasi Lukisan Purba di Kepulauan Muna melalui kantor Kementerian Kebudayaan di Sulawesi Tenggara.

Fasilitas tersebut diharapkan menjadi pusat penelitian, edukasi, sekaligus destinasi wisata sejarah berbasis pelestarian.
Selain itu, Kemenbud akan mendokumentasikan seluruh lukisan cadas prasejarah di Muna, Maros-Pangkep, Kalimantan hingga Raja Ampat dalam sebuah buku komprehensif.

Replika lukisan purba berskala tinggi juga akan dihadirkan di Museum Provinsi Sulawesi Tenggara guna memperluas akses masyarakat terhadap informasi mengenai kekayaan warisan budaya Indonesia.

Penetapan Gua Liangkabori dan Liang Metanduno sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional diharapkan semakin memperkuat perlindungan terhadap situs prasejarah Indonesia sekaligus mendorong pengembangan riset, pendidikan, dan pariwisata budaya yang berkelanjutan di tingkat nasional maupun internasional.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *