Kemendes PDT Targetkan 5.000 Desa Jadi Pelaku Ekspor, Perkuat Ekonomi Nasional Berbasis Desa

Berita41 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menargetkan sebanyak 5.000 desa di Indonesia mampu menjadi pelaku ekspor hasil bumi ke pasar internasional dalam beberapa tahun ke depan.

Target ambisius tersebut akan diwujudkan melalui kolaborasi lintas sektor dengan menggandeng Barisan 8 Center, relawan, perguruan tinggi, serta sektor swasta guna mempercepat pembangunan desa dan memperkuat ekonomi nasional berbasis pedesaan.

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam membangun desa. Menurutnya, seluruh elemen masyarakat perlu terlibat aktif melalui skema desa binaan agar pembangunan dapat berjalan lebih cepat dan merata.

“Kita ini support team, bukan superman. Semua harus terlibat dan memiliki desa binaan,” ujar Yandri saat penandatanganan nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama strategis di Jakarta, pada (28/4/2026).

Yandri menjelaskan, pendekatan kolaboratif sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan berbagai persoalan mendasar di desa, mulai dari keterbatasan listrik, wilayah blank spot, akses air bersih, hingga pendidikan.

Ia menekankan bahwa desa harus diposisikan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek.
“Kalau desa maju, maka Indonesia akan maju,” tegasnya.

Dalam kerja sama tersebut, Barisan 8 Center dilibatkan untuk mendukung program prioritas pemerintah, salah satunya pengembangan desa ekspor yang masuk dalam 12 aksi pembangunan desa nasional.

Sejumlah desa saat ini telah menunjukkan perkembangan positif melalui komoditas unggulan seperti kopi, vanili, kemiri, dan gula aren yang mulai menembus pasar luar negeri.

Program desa ekspor diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat desa sekaligus memperluas akses produk lokal ke pasar global.

Ketua Umum Barisan 8 Center, Andrio Caesario, menyatakan organisasinya siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong terwujudnya desa mandiri dan sejahtera.
“Kita membantu bagaimana hasil sumber daya alam di desa bisa tersalurkan ke pasar ekspor dan memberikan manfaat besar bagi petani,” kata Andrio.

Ia menambahkan, peran utama Barisan 8 Center adalah membuka akses pasar internasional serta memastikan dukungan regulasi agar produk-produk desa mampu bersaing secara global.

Andrio mengungkapkan bahwa Jawa Barat dipilih sebagai salah satu wilayah percontohan program desa ekspor dengan fokus utama pada pengembangan komoditas kopi Arabika.
“Kita ingin mengangkat kopi Jawa Barat agar menjadi salah satu primadona dunia,” ujarnya.

Selain membuka akses pasar, Barisan 8 Center juga menghadirkan dukungan berbasis teknologi melalui pengembangan aplikasi pemetaan potensi desa. Aplikasi tersebut dilengkapi sistem geotagging yang memuat data luas lahan, kualitas komoditas, hingga rantai produksi.

Teknologi ini diharapkan memudahkan pembeli luar negeri dalam mengakses informasi potensi desa secara langsung.
“Buyer bisa mengetahui potensi desa dari hulu hingga hilir produk,” jelas Andrio.

Kemendes PDT menargetkan pembentukan sekitar 5.000 desa ekspor melalui kolaborasi multipihak dan pendampingan berkelanjutan.

Menteri Yandri menegaskan bahwa pembangunan desa harus berjalan melalui pemberdayaan yang dibarengi pendampingan nyata di lapangan.
“Kalau ada pemberdayaan, harus ada pendampingan,” katanya.

Pemerintah berharap kerja sama ini dapat mempercepat transformasi desa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan, serta memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *