Kemenpar Siapkan Strategi Pemulihan di Desa Adat Sade Pascakebakaran, Dorong Museum Sementara, Jaga Pariwisata dan Ekonomi Masyarakat

Berita60 Dilihat

DetikSR.id Lombok Tengah, Pemerintah menyiapkan pembangunan museum sementara di Desa Adat Sade, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menyusul kebakaran yang melanda kawasan permukiman tradisional tersebut.

Langkah itu ditempuh untuk memastikan aktivitas pariwisata di salah satu destinasi budaya unggulan NTB tersebut tetap berjalan, sekaligus menjaga sumber pendapatan masyarakat yang selama ini bergantung pada kunjungan wisatawan.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, museum sementara akan menjadi salah satu upaya untuk mempertahankan daya tarik wisata Desa Adat Sade selama proses pemulihan dan rekonstruksi berlangsung.

Melalui museum tersebut, wisatawan tetap dapat memperoleh gambaran mengenai sejarah, tradisi, serta kehidupan masyarakat adat Sade meski sebagian bangunan tradisional terdampak kebakaran.

“Ini agar wisatawan dapat melihat dan memberikan pemasukan kepada Desa Sade,” kata Widiyanti dalam keterangannya, pada (27/8/2026).

Menurut dia, keberadaan museum sementara tidak hanya berkaitan dengan kepentingan pelestarian sejarah dan budaya. Fasilitas tersebut juga diharapkan dapat menjadi bagian dari strategi pemulihan ekonomi masyarakat setempat.

Selama ini, Desa Adat Sade menjadi salah satu tujuan wisata budaya yang banyak dikunjungi wisatawan ketika berada di Lombok.

Aktivitas ekonomi masyarakat di kawasan tersebut turut ditopang oleh kunjungan wisatawan, mulai dari jasa pemandu, penjualan kerajinan, hingga berbagai produk lokal.
Karena itu, pemerintah berupaya agar dampak kebakaran terhadap perekonomian warga tidak berlangsung berkepanjangan.

Pembangunan museum sementara atau semi permanen tersebut akan dilakukan sejalan dengan proses rekonstruksi kawasan Desa Adat Sade.

Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah dan masyarakat setempat tengah berkoordinasi untuk menentukan langkah pemulihan yang tetap mempertahankan karakter serta nilai budaya rumah-rumah tradisional Sade.

Widiyanti mengatakan, pemerintah pusat juga terus melakukan koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk memperoleh dukungan anggaran bagi pembangunan kembali rumah-rumah tradisional yang terdampak kebakaran.

Pendanaan rekonstruksi, kata dia, tidak hanya akan mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pemerintah juga membuka peluang dukungan dari sektor swasta maupun lembaga filantropi.
“Tentu ini tidak hanya APBN saja, tetapi juga swasta dan filantropi,” ujar Widiyanti.

Skema pendanaan dari berbagai pihak tersebut diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan sekaligus memastikan rekonstruksi dilakukan secara menyeluruh.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan, pemulihan dampak ekonomi menjadi salah satu prioritas pemerintah setelah kebakaran melanda Desa Adat Sade.

Menurut dia, pembangunan museum semi permanen serta percepatan rekonstruksi merupakan bagian dari langkah mitigasi agar aktivitas ekonomi masyarakat tidak terhenti terlalu lama.

“Pembangunan museum semi permanen dan percepatan rekonstruksi arahnya untuk memitigasi dampak itu,” kata Iqbal.

Ia menambahkan, pemerintah tetap berhati-hati dalam menentukan sumber dan penggunaan anggaran untuk proses rekonstruksi.

Pemerintah daerah tidak ingin terburu-buru menggunakan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) sebelum seluruh aspek pendanaan dan regulasi dipastikan.

Selain masih mengupayakan dukungan pembiayaan dari pihak ketiga, pemerintah juga perlu memastikan landasan hukum penggunaan anggaran tersebut.

“Jadi, kami tidak ingin terburu-buru menggunakan BTT. Selain masih mengupayakan dana dari pihak ketiga, regulasi hukumnya juga belum dibahas,” ujar Iqbal.

Pemerintah berharap proses pemulihan Desa Adat Sade dapat berjalan dengan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat, keberlanjutan ekonomi, serta kelestarian budaya.

Dengan demikian, rekonstruksi nantinya tidak sekadar mengembalikan bangunan yang terbakar, tetapi juga menjaga Desa Adat Sade sebagai kawasan wisata budaya yang memiliki nilai sejarah dan menjadi bagian penting dari perekonomian masyarakat Lombok Tengah.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *