Ketika Cinta Rasul Turun ke Panggung Generasi Muda

Berita Daerah65 Dilihat

Oleh : Dr. Muslich Taman, M.Pd., Humas SMAN I Rumpin, Penulis Buku: Guru Sang Arsitek Masa Depan

DetikSR.id Bogor – Rabu pagi, 23 September 2026, halaman utama SMAN 1 Rumpin mendadak berubah menjadi ruang perjumpaan antara budaya, kreativitas, dan semangat generasi muda. Di bawah bentangan tenda putih biru yang megah, lantunan hadroh bersambung dengan suara ayat suci Al-Qur’an, ceramah tiga bahasa, drama, hingga tausiah yang kerap kali disambut gelak tawa para siswa. Hari itu, Maulid Nabi Muhammad SAW tidak sekadar diperingati. Ia dihidupkan.

Sejak pukul 06.30 WIB, seluruh civitas SMAN 1 Rumpin —murid, guru dan tenaga kependidikan, serta pekarya sekolah— mulai memenuhi arena utama. Hadir pula secara khusus Pengawas Pembina sekolah, Hikmawati, M.Pd. meski ia merasa agak demam, menyempatkan datang untuk ikut mengaji. Dan alhamdulilah, akhirnya malah sembuh, kelakar Ibu Pengawas.

Panggung Maulid Nabi tahun ini memang sengaja memberi ruang besar kepada murid untuk berkreasi. Bahkan, sejumlah pengisi acara berasal dari murid kelas X. Mereka bukan sekadar duduk sebagai penonton, tetapi tampil sebagai pelantun Al-Qur’an, pembawa ceramah, pemain drama, pengisi hadroh, hingga pembawa acara.

Dentuman lembut hadroh Tim Hadroh Rohis SMAN 1 Rumpin menjadi penanda dimulainya kegiatan. Alunan musik religi itu sekaligus menjadi “undangan” yang efektif. Satu per satu siswa beranjak menuju lapangan, memenuhi tempat yang telah disiapkan.
Acara kemudian dipandu dua MC, Mesy dan Rida.

Keduanya tampil gesit, komunikatif, dan saling berduet menghidupkan suasana sejak pembukaan hingga akhir kegiatan. Setelah diawali bacaan basmalah, suasana berubah khidmat ketika Sindi melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, disusul sari tilawah yang dibawakan oleh Rindu. Sejenak, riuh siswa berganti menjadi keheningan yang menenteramkan.

Pembina Rohis, Dr. Muslich Taman, kemudian menyampaikan sambutan. Ia mengapresiasi kerja keras seluruh pihak yang terlibat dalam mempersiapkan kegiatan. Baginya, keberhasilan sebuah acara keagamaan tidak pernah lahir dari kerja satu atau dua orang. Ada kebersamaan, pengorbanan, tenaga, kesabaran, dan kepedulian banyak pihak di belakangnya.

Ia juga mengajak seluruh hadirin, terutama para siswa, mengikuti seluruh rangkaian acara dengan sungguh-sungguh. Sebab, Maulid Nabi bukan sekadar agenda kalender sekolah. Di dalamnya terdapat kesempatan untuk belajar mencintai Rasulullah sekaligus mengambil pelajaran dari perjalanan hidup beliau yang agung dan mulia.

Pesan serupa mengemuka dalam sambutan Kepala Sekolah, H. Mulyono, M.Pd. Ia menekankan pentingnya akhlak mulia sebagai bagian paling mendasar dari keteladanan Rasulullah SAW. Sebab, mengenal Nabi tidak cukup hanya dengan mengetahui sejarah kelahiran dan perjuangannya. Cinta kepada Rasul pada akhirnya harus menemukan bentuk dalam perilaku: rajin belajar, kejujuran, kesantunan, tanggung jawab, kasih sayang, dan penghormatan kepada sesama.

Ketika Siswa Menjadi Aktor Utama
Suasana kembali menghangat ketika penampilan hadroh Mahallul Qiyam hadir di tengah acara. Dengan suara lantang anak-anak muda, menggema di atas panggung, memantik semangat untuk bangun dari tempat duduk seraya menyenandungkan shalawat kepada sang Nabi.

Setelah itu, panggung menjadi milik Gendis Oktriani dan Aira Narraya. Keduanya menyampaikan ceramah dalam tiga bahasa secara bergantian: Arab, Inggris, dan Sunda. Penampilan tersebut bukan hanya menunjukkan keberanian tampil di depan ribuan pasang mata, tetapi juga memperlihatkan bahwa dakwah dapat dikemas dengan bahasa yang beragam tanpa kehilangan substansinya.

Lalu datang salah satu penampilan yang paling mengundang perhatian: drama Pasukan Gajah. Kahfi, tampil sebagai Raja Abrahah, sosok penguasa sombong dan dengki dari Yaman yang memimpin pasukannya menuju Makkah dengan maksud menghancurkan Ka’bah. Drama itu membawa kisah sejarah ke tengah kehidupan siswa dengan cara yang ringan dan menghibur. Gelak tawa pun pecah berkali-kali. Para pemain tampak menikmati perannya, sementara teman-teman mereka menjadi penonton yang antusias.

Di sela-sela rangkaian acara, Deuis Sadiah, S.Ag., salah seorang guru Bahasa Indonesia, tampil membawakan lagu “Tuhan”. Suasana yang sebelumnya penuh canda sejenak berubah menjadi lebih reflektif.

Ceramah yang Membuat Siswa Betah
Puncak kegiatan akhirnya tiba. KH. Dadan Syaifullah Attijani, dai muda yang tengah banyak mengisi ruang dakwah generasi muda, datang lebih awal dari waktu yang dijadwalkan. Maka, tak menunggu lama, beliau pun tampil di atas panggung menyampaikan tausiah Maulid Nabi dengan tema “Cinta”.

Cara penyampaiannya yang banyak humor, membuat suasana nyaris tanpa jarak. Sang kiai tidak membangun sekat antara mimbar dan siswa. Humor, joke, dan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan remaja mengalir sepanjang ceramah.

Tawa siswa berkali-kali pecah. Tetapi di balik kelucuan itu, selalu terselip pesan yang serius: cinta kepada Nabi Muhammad SAW bukan hanya ucapan yang terdengar indah, melainkan komitmen untuk mengenal, meneladani, dan menghadirkan akhlak mulia beliau dalam kehidupan.

Barangkali di situlah kekuatan tausiah pagi itu. Pesan agama tidak disampaikan sebagai sesuatu yang jauh dari dunia remaja. Ia justru didekatkan dengan keseharian mereka. Dan ketika siswa tertawa, lalu diam menyimak, kemudian kembali tertawa, sesungguhnya sebuah proses pembelajaran sedang berlangsung—bahwa agama bisa disampaikan dengan serius tanpa harus selalu terasa kaku.

Maulid yang Pulang Bersama Makna
Menjelang penghujung acara, doa dipanjatkan oleh Ustadz Aceng Syauli, S.Ag., guru agama SMAN 1 Rumpin. Suasana kembali hening. Setelah doa selesai, rangkaian Tablig Akbar Maulid Nabi 1448 Hijriyah pun resmi berakhir.

Namun, kegiatan belum benar-benar selesai. Para siswa dan seluruh civitas sekolah kemudian menikmati makan siang bersama di lapangan. Sambil menikmati lantunan hadroh dan shalawat dari anak-anak Rohis.

Kebersamaan itu menjadi penutup yang sederhana, tetapi justru terasa akrab. Tidak ada jarak antara guru dan murid. Tidak ada sekat antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Semua duduk bersama dalam suasana kekeluargaan.

Kesan positif pun datang dari para siswa. Dalam wawancara yang dilakukan tim jurnalis media sekolah, Bayu, Madjid, Dava, Kahfi, dan Priska mengungkapkan rasa senang dan puas mengikuti kegiatan Maulid Nabi tahun ini. Ustadznya cocok untuk remaja, kata mereka.

Dan mungkin, di situlah ukuran paling sederhana dari keberhasilan sebuah kegiatan keagamaan di sekolah: ketika anak-anak merasa hadir bukan karena terpaksa, tetapi karena menemukan sesuatu yang menyenangkan sekaligus bermakna.

Tablig Akbar Maulid Nabi di SMAN 1 Rumpin akhirnya bukan hanya tentang bagaimana sebuah acara berlangsung meriah. Ia adalah cerita tentang bagaimana nilai-nilai agama diberi ruang untuk bertemu dengan kreativitas generasi muda.

Mencintai Rasulullah tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang ia bermula dari keberanian seorang siswa berdiri di atas panggung. Dari lantunan satu ayat Al-Qur’an. Dari sebuah drama sederhana. Dari ceramah yang membuat remaja tertawa sekaligus berpikir. Dari guru yang memberi keteladanan. Dan dari sebuah pagi ketika seluruh warga sekolah duduk bersama untuk mengingat kembali sosok manusia agung yang diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Di SMAN 1 Rumpin, Maulid Nabi tahun ini seakan ingin mengatakan satu hal: Rasulullah boleh telah wafat berabad-abad silam, tetapi cintanya tidak boleh berhenti menjadi cerita. Ia harus terus hidup —dalam ilmu, dalam akhlak, dan dalam perilaku generasi setelahnya. Wallahu a`lam. (Rhidayat-Mt).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *