Menbud Fadli Zon Pastikan Pemugaran Yasti dan Konservasi Mahastupa Borobudur Berbasis Kajian Ilmiah, Keaslian Batu Jadi Prioritas

Berita154 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon memastikan pemugaran yasti dan konservasi Mahastupa Candi Borobudur, Jawa Tengah, dilaksanakan secara cermat, terukur, dan sesuai kaidah pelestarian cagar budaya. Penanganan difokuskan pada penguatan struktur, pengendalian kerusakan material, serta pemeliharaan keaslian batu sebagai bagian penting dari pelindungan warisan budaya dunia.

Kepastian tersebut disampaikan Fadli saat meninjau langsung proses pemugaran yasti dan konservasi Mahastupa Candi Borobudur pada 14 Oktober 2026. Dalam peninjauan itu, ia melihat proses penguatan struktur yasti serta penanganan penggaraman pada batu candi yang berpotensi mempercepat degradasi material apabila tidak ditangani secara tepat.

Peninjauan ini merupakan bagian dari upaya Kementerian Kebudayaan untuk memastikan setiap intervensi terhadap Candi Borobudur didasarkan pada pemeriksaan kondisi aktual, kajian ilmiah, dokumentasi teknis, serta pertimbangan terhadap karakteristik material dan lingkungan. Langkah tersebut sekaligus menegaskan bahwa pelestarian cagar budaya tidak cukup dilakukan melalui pemugaran fisik, tetapi harus ditopang oleh konservasi dan pemantauan secara berkelanjutan.

“Batu andesit tentu harus ada konservasi. Iklim kita berubah, dan kondisi hujan sekarang berbeda dengan seratus atau dua ratus tahun lalu. Karena itu, kita perlu memastikan penanganan yang tepat agar batu dan relief Borobudur tetap terjaga,” ujar Fadli.

Penguatan Struktur dan Penanganan Kerusakan Material

Fadli menjelaskan, pemugaran yasti diperlukan untuk memulihkan kestabilan struktur bagian puncak stupa induk yang menunjukkan pergeseran susunan batu. Sementara itu, konservasi Mahastupa diarahkan untuk menangani penggaraman, pelapukan, rongga, dan rekahan yang ditemukan pada material batu.

Kedua pekerjaan tersebut memiliki karakteristik penanganan yang berbeda, sehingga membutuhkan pemeriksaan dan analisis teknis secara cermat sebelum tindakan konservasi ditetapkan. Pada bagian yasti, perhatian utama diarahkan pada kestabilan susunan batu dengan tetap mengutamakan penggunaan material asli. Adapun pada Mahastupa, penanganan difokuskan pada kondisi material dan faktor-faktor yang dapat memicu perkembangan kerusakan.

Menurut Fadli, setiap tindakan terhadap bangunan cagar budaya harus dilakukan secara terukur dan tidak boleh mengabaikan prinsip keaslian. Penggunaan teknologi serta metode konservasi perlu disesuaikan dengan kondisi batu, riwayat penanganan sebelumnya, dan tantangan lingkungan yang memengaruhi ketahanan material dalam jangka panjang.

Ia menekankan, usia panjang Candi Borobudur menjadikan perawatan material sebagai pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan konsistensi. Paparan cuaca, perubahan kelembapan, pergerakan air, serta kondisi lingkungan dapat memengaruhi ketahanan batu, termasuk pada bagian relief yang memiliki nilai penting bagi pemahaman sejarah, seni, dan kebudayaan.

“Relief-relief Borobudur yang sudah berusia lebih dari seribu tahun memerlukan penanganan yang tepat. Kita perlu memastikan perawatannya berkelanjutan, sehingga relief tetap terjaga ketajamannya dan batu tidak melunak atau mengalami kerusakan. Ini salah satu pekerjaan konservasi yang penting dan perlu dilakukan berdasarkan kajian yang cermat,” ungkapnya.

Penggaraman Menjadi Perhatian Dalam Konservasi

Penggaraman merupakan salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian dalam pelestarian batu candi. Gejala ini dapat terlihat sebagai lapisan putih pada permukaan batu dan berkaitan dengan pergerakan air serta keberadaan garam di dalam material. Dalam kondisi tertentu, proses kristalisasi garam dapat menimbulkan tekanan pada pori-pori batu dan berkontribusi terhadap kerusakan permukaan.

Karena itu, penanganan penggaraman tidak dapat dilakukan hanya dengan membersihkan lapisan yang terlihat. Diperlukan pemahaman mengenai kondisi material dan faktor penyebabnya agar tindakan yang diambil tidak justru memperburuk kerusakan. Metode konservasi harus dipilih berdasarkan hasil pemeriksaan dan mempertimbangkan sifat fisik batu serta kondisi lingkungan di sekitarnya.

Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip konservasi cagar budaya yang mengutamakan intervensi secukupnya, ketepatan metode, dokumentasi setiap tahapan pekerjaan, dan perlindungan terhadap nilai penting bangunan. Dengan demikian, upaya memperkuat struktur dan menangani kerusakan material dapat dilakukan tanpa mengabaikan keaslian serta integritas Candi Borobudur.

Melibatkan Tim Lintas Disiplin

Pemugaran yasti dan konservasi Mahastupa dilaksanakan oleh Kementerian Kebudayaan melalui Museum dan Cagar Budaya (MCB). Pekerjaan ini dilakukan setelah monitoring dan kajian teknis pada Agustus 2026 mengidentifikasi pergeseran susunan batu, rongga, dan rekahan pada bagian yasti dan harmika, serta kerusakan material pada stupa induk.

Pelaksanaannya melibatkan tim gabungan dengan keahlian lintas disiplin, antara lain arkeologi, konservasi, teknik sipil dan struktur, serta metalurgi. Keterlibatan berbagai bidang keahlian tersebut diperlukan untuk menilai kondisi bangunan secara menyeluruh, mengidentifikasi faktor penyebab kerusakan, dan menentukan tindakan penanganan yang sesuai.

Tahapan pekerjaan dilakukan secara bertahap melalui pemeriksaan, dokumentasi, dan analisis material sebelum tindakan lanjutan ditetapkan. Proses ini penting untuk memastikan keputusan teknis tidak hanya berorientasi pada penyelesaian pekerjaan fisik, tetapi juga mempertimbangkan dampak intervensi terhadap keaslian, kestabilan, dan keberlanjutan pelestarian bangunan.

Dalam konteks tersebut, pemugaran yasti menjadi kesempatan untuk menangani persoalan struktural pada bagian puncak Mahastupa sekaligus mengevaluasi kondisi material dan metode penanganan terdahulu berdasarkan perkembangan ilmu konservasi.

Melanjutkan Upaya Pelestarian Borobudur

Dalam catatan sejarah, pemugaran besar pertama Candi Borobudur berlangsung pada 1907–1911 di bawah pimpinan Theodoor van Erp. Pemugaran besar berikutnya dilaksanakan pada 1973–1983 melalui kerja sama Pemerintah Indonesia dan UNESCO.

Sejarah pemugaran tersebut menunjukkan bahwa pelestarian Borobudur merupakan pekerjaan lintas generasi yang memerlukan pengetahuan, ketelitian, dan komitmen jangka panjang. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, evaluasi terhadap kondisi bangunan serta penerapan metode konservasi yang tepat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya tersebut.

Bagi Kementerian Kebudayaan, tantangan pelestarian Borobudur tidak hanya berkaitan dengan kerusakan yang telah teridentifikasi, tetapi juga dengan kebutuhan mengantisipasi risiko lingkungan dan memastikan setiap tindakan penanganan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Di sisi lain, keterlibatan masyarakat dan pengunjung juga menjadi unsur penting dalam menjaga kelestarian candi. Fadli mengimbau pengunjung untuk mematuhi ketentuan kunjungan serta menghindari tindakan yang berpotensi merusak permukaan batu dan relief.

“Tentu kita juga berharap kepada pengunjung untuk ikut memelihara, tidak memegang-megang, dan tidak memberikan zat kimia, cairan, atau apa pun yang bisa merusak relief Borobudur,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa perlindungan terhadap Candi Borobudur tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan tenaga ahli, tetapi juga membutuhkan kesadaran publik. Perilaku pengunjung yang tertib dapat membantu mengurangi risiko kerusakan akibat sentuhan, kontaminasi, maupun penggunaan bahan yang tidak sesuai pada permukaan batu.

Turut hadir dalam peninjauan tersebut Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga Rachmanda Primayuda; Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Estiyanti Nurjadin; Direktur Warisan Budaya Agus Widiatmoko; Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah Riris Purbasari; serta pakar sekaligus Ketua Tim Penyusun Heritage Impact Assessment (HIA), Ali Akbar.

Melalui pemugaran yasti dan konservasi Mahastupa ini, Kementerian Kebudayaan menegaskan pentingnya pendekatan pelestarian yang berbasis kajian ilmiah, mengutamakan keaslian material, dan dilaksanakan secara berkelanjutan. Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga kestabilan struktur serta mempertahankan nilai sejarah, arkeologis, dan artistik Candi Borobudur bagi generasi mendatang.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *