Menekraf: Seni Perkuat Diplomasi Budaya dan Buka Peluang Kolaborasi Seniman Indonesia ke Panggung Global

Berita99 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Menekraf/Kabekraf) Teuku Riefky Harsya menilai seni memiliki peran strategis dalam memperkuat diplomasi budaya sekaligus membuka peluang kolaborasi bagi seniman Indonesia untuk menembus panggung internasional.

Hal tersebut disampaikan Riefky saat mengapresiasi penyelenggaraan pameran lukisan “Art for Peace and a Better Future: Collaboration” yang digelar SBY Art Community (SAC) di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Riefky mengatakan karya seni tidak hanya menjadi media ekspresi dan kreativitas, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk menyampaikan gagasan, membangun dialog, serta merespons berbagai persoalan yang berkembang di tingkat global.

“Kami menyampaikan apresiasi kepada SBY Art Community beserta para pelukis yang tergabung di dalamnya. Melalui karya-karya yang ditampilkan, para seniman menyampaikan respons dan refleksi terhadap situasi global yang terjadi saat ini. Gagasan tersebut kemudian dapat dinikmati dan dipahami oleh masyarakat, khususnya publik di Jakarta, melalui bahasa seni,” ujar Riefky dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, pada (20/8/2026).

Menurut Riefky, kegiatan seperti pameran seni juga dapat menjadi ruang penting untuk mempertemukan pelaku kreatif Indonesia dengan seniman dari berbagai negara. Interaksi tersebut dinilai dapat memperluas jejaring, pertukaran gagasan, sekaligus menciptakan peluang kerja sama baru di sektor ekonomi kreatif.

Pameran “Art for Peace and a Better Future: Collaboration” berlangsung pada 18–30 Agustus 2026 di Galeri Emiria Soenassa dan Galeri Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Pameran tersebut digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, sekaligus menjadi ruang bagi para seniman untuk menuangkan refleksi dan pandangan mereka terhadap dinamika dunia melalui bahasa visual.

Pameran yang dikuratori oleh Gie Sanjaya tersebut menampilkan sebanyak 150 lukisan terkurasi. Karya-karya itu terdiri atas 52 karya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), 29 karya Christopher Lehmpfuhl, 63 karya seniman SBY Art Community, lima karya seniman cilik, serta satu karya kolaborasi.

Para seniman yang terlibat berasal dari beragam latar belakang pendidikan dan pengalaman, antara lain ISI Yogyakarta, ISI Solo, ITB Bandung, IKJ Jakarta, serta seniman independen.
Riefky menilai keberagaman tersebut menunjukkan besarnya potensi ekosistem seni rupa Indonesia untuk terus berkembang melalui kolaborasi lintas komunitas, institusi, generasi, maupun negara.

Ia berharap kolaborasi yang dibangun melalui SBY Art Community tidak berhenti pada penyelenggaraan pameran, tetapi dapat berkembang menjadi jejaring yang lebih luas dan berkelanjutan.

“Kolaborasi seperti ini dapat terus dikembangkan untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi seniman Indonesia agar dapat berkarya, berjejaring, dan tampil di tingkat internasional,” kata Riefky.

Mewakili Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (Menko AHY) mengatakan pameran tersebut bukan sekadar ruang apresiasi terhadap karya seni, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat diplomasi kultural.

Menurut AHY, seni memiliki kemampuan untuk menjembatani perbedaan latar belakang, budaya, maupun bangsa. Melalui karya dan proses kreatif, para seniman dapat membangun komunikasi yang lebih terbuka dan humanis.

Kolaborasi antara seniman Indonesia dan seniman asal Berlin, Jerman, Christopher Lehmpfuhl, menurut AHY, juga memiliki makna strategis karena turut mempererat hubungan antara Jakarta dan Berlin yang selama ini memiliki hubungan sebagai kota bersaudara atau sister city.

“Rasanya seni bisa menjadi sesuatu yang memoderasi, mendamaikan. Mudah-mudahan hubungan baik antara kedua kota, antara kedua negara, bisa dijembatani melalui kolaborasi semacam ini. Sesekali datanglah para seniman dari Jerman dan sesekali kita juga datang ke Berlin untuk punya pameran semacam ini,” ujar AHY.

AHY berharap hubungan dan kolaborasi tersebut dapat terus berkembang melalui berbagai kegiatan seni dan budaya, sehingga tercipta pertukaran pengalaman yang semakin kuat antara seniman Indonesia dan Jerman.

Menurutnya, kerja sama lintas negara melalui seni dapat menjadi salah satu bentuk diplomasi masyarakat yang mampu menghadirkan pesan perdamaian dan persahabatan secara lebih universal.

Seniman asal Berlin, Christopher Lehmpfuhl, mengatakan pertemuannya dengan SBY pada 2024 menjadi awal dari hubungan persahabatan yang kemudian berkembang menjadi kolaborasi dalam bidang seni.

Kehadiran Lehmpfuhl di Indonesia memberinya kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan para seniman Indonesia sekaligus melukis sejumlah lanskap bersama. Proses tersebut memberikan pengalaman mengenai bagaimana para seniman dari dua negara dapat bertukar gagasan melalui bahasa seni yang bersifat universal.

Lehmpfuhl menilai meskipun Indonesia dan Jerman memiliki latar budaya yang berbeda, terdapat semangat yang sama di antara para seniman, yakni keinginan untuk berekspresi, berkomunikasi, dan membangun hubungan melalui karya.

“Bagi saya, penting untuk membangun jembatan antara bangsa dan budaya yang berbeda. Seni memberikan harapan dan dapat mempertemukan manusia, menghadirkan perspektif positif. Di masa yang penuh tantangan seperti sekarang, penting bagi kita untuk saling berkomunikasi dan belajar satu sama lain,” ujar Lehmpfuhl.

Menurut dia, kolaborasi seni dapat menjadi ruang untuk memahami perspektif yang berbeda tanpa harus menghilangkan identitas budaya masing-masing. Justru melalui perbedaan tersebut, lahir dialog dan pengalaman kreatif yang memperkaya kedua belah pihak.

Kementerian Ekonomi Kreatif berharap penyelenggaraan pameran tersebut tidak hanya memberikan ruang bagi para seniman untuk memamerkan karya, tetapi juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk lebih dekat dengan proses kreatif dan gagasan yang melatarbelakangi setiap karya.

Pameran ini juga diharapkan dapat memperluas interaksi antara pelaku seni Indonesia dan komunitas seni internasional.

Dengan semakin banyaknya ruang pertemuan dan kolaborasi, ekosistem seni rupa nasional dinilai memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan terkoneksi dengan jejaring global.

Melalui kegiatan semacam ini, seni diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari ekspresi kebudayaan, tetapi juga berkontribusi terhadap penguatan hubungan antarbangsa, pengembangan ekonomi kreatif, serta peningkatan eksistensi seniman Indonesia di tingkat dunia.

Pameran “Art for Peace and a Better Future: Collaboration” dengan demikian menjadi momentum yang mempertemukan seni, budaya, persahabatan, dan diplomasi dalam satu ruang kreatif, sekaligus menyampaikan pesan bahwa seni dapat menjadi jembatan untuk membangun perdamaian dan masa depan yang lebih baik.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *