DetikSR.id Jakarta, Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan bahwa menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) bukan semata-mata untuk menunjukkan kegagahan, melainkan merupakan bentuk pengabdian yang menuntut kesiapan berkorban jiwa dan raga demi kepentingan negara dan bangsa.
Pesan tersebut disampaikan Sjafrie saat memberikan pengarahan kepada prajurit dalam kunjungan kerja ke Marshaling Area Yonif TP 941/Singa Perbangsa di Karawang, Jawa Barat.
Di hadapan para prajurit, Sjafrie mengingatkan bahwa setiap anggota TNI harus memahami makna pengabdian sejak pertama kali memutuskan menjadi tentara.
“Panjang ceritanya kamu jadi tentara. Tidak untuk gagah-gagahan. Tetapi, tentara di samping dia gagah, dia harus rela berkorban jiwa dan raga untuk negara dan bangsa Indonesia,” ujar Sjafrie dalam keterangannya
pada (30/7/2026).
Menurut Menhan, seluruh fasilitas yang diterima prajurit, mulai dari gaji hingga berbagai sarana penunjang tugas, bersumber dari rakyat Indonesia melalui negara.
Oleh karena itu, setiap prajurit memiliki tanggung jawab moral untuk mengabdi sepenuhnya kepada masyarakat.
“Berarti berasal dari 280 jutaan rakyat yang membiayai kita sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia,” katanya.
Sjafrie menegaskan bahwa TNI merupakan tentara rakyat. Prajurit lahir dari masyarakat, mengabdi untuk masyarakat, dan pada akhirnya akan kembali menjadi bagian dari masyarakat setelah menyelesaikan masa dinasnya.
Karena itu, ia meminta seluruh prajurit untuk menjaga hubungan yang harmonis dengan rakyat dan menempatkan kepentingan masyarakat sebagai bagian utama dari pelaksanaan tugas.
Dalam arahannya, Sjafrie juga mengingatkan pentingnya mengamalkan nilai-nilai Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan Delapan Wajib TNI dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menekankan bahwa nilai-nilai tersebut bukan sekadar slogan atau hafalan, melainkan pedoman moral yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Itu dipasang di barak-barak, itu bukan pajangan. Tapi, kau harus baca, kau harus pikirkan, dan kau harus simpan dalam jiwa dan ragamu bahwa kau harus melaksanakan Delapan Wajib TNI,” tegasnya.
Salah satu pesan yang paling ditekankan Menhan adalah agar setiap prajurit tidak pernah menyakiti hati rakyat dalam keadaan apa pun.
Menurutnya, kepercayaan masyarakat merupakan modal utama bagi TNI dalam menjalankan tugas menjaga kedaulatan negara.
Pada kesempatan tersebut, Sjafrie juga memberikan apresiasi kepada prajurit Yonif TP 941/Singa Perbangsa yang dinilai aktif membangun kedekatan dengan masyarakat.
Berbagai kegiatan sosial yang dilakukan, seperti membantu sektor pendidikan, beribadah bersama warga, membina kegiatan olahraga, hingga menjaga keamanan lingkungan, dinilai menjadi wujud nyata pengabdian TNI kepada rakyat.
Ia menilai kedekatan prajurit dengan masyarakat merupakan implementasi sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta (Sishankamrata) sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Selain itu, Menhan mendorong para prajurit muda untuk terus meningkatkan profesionalisme melalui pendidikan, latihan, disiplin, dan kesiapan dalam menjalankan setiap penugasan.
Menurutnya, negara memiliki kewajiban untuk memberikan pembinaan, pendidikan, dan pelatihan terbaik bagi prajurit agar mampu menghadapi tantangan tugas yang semakin kompleks.
“Negara atas nama rakyat berkewajiban untuk memenuhi kemampuanmu, memenuhi pendidikanmu, memenuhi latihanmu, memenuhi kewajiban tugasmu. Itu tugas negara. Tapi, kamu adalah berbakti pada negara dan bangsa,” pungkas Sjafrie.
Arahan tersebut menjadi penegasan bahwa jati diri seorang prajurit TNI tidak hanya diukur dari kemampuan tempur dan kedisiplinan, tetapi juga dari kesetiaan kepada negara, pengabdian kepada rakyat, serta komitmen menjaga nilai-nilai luhur keprajuritan dalam setiap pelaksanaan tugas.
Ervinna












