Menko PM Muhaimin Iskandar Ajak Influencer Ubah Pengaruh di Medsos Jadi Kekuatan Pemberdayaan

Berita167 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar mengajak para influencer atau pemengaruh media sosial memanfaatkan jangkauan dan pengaruh yang mereka miliki untuk mendorong pemberdayaan masyarakat.

Menurut Muhaimin, influencer kini tidak sekadar berperan sebagai pembuat konten atau figur yang memiliki banyak pengikut di media sosial. Mereka telah berkembang menjadi salah satu kekuatan baru yang mampu membentuk percakapan publik, menggerakkan komunitas, serta membuka ruang kolaborasi yang dapat menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.

“Para influencer ini menjadi kekuatan baru. Saya sangat berharap kita bisa berkolaborasi dan menjadi bagian integral dari pemberdayaan masyarakat,” ujar Muhaimin Iskandar saat berdialog dengan Putri Hijabfluencer Indonesia di Jakarta, pada (3/10/2026).

Ia mengatakan, besarnya jangkauan media sosial dapat menjadi modal sosial yang penting apabila diarahkan untuk kepentingan produktif.

Influencer, kata dia, dapat mengambil peran dalam mengenalkan potensi masyarakat, memperluas akses pasar, menyebarkan pengetahuan, hingga mendorong masyarakat untuk lebih percaya diri mengembangkan potensi yang dimiliki.

Muhaimin menilai pembangunan dan pemberdayaan masyarakat tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Menurut dia, pemerintah dan masyarakat memiliki kekuatan yang berbeda namun saling melengkapi.

Pemerintah memiliki instrumen berupa kebijakan, program, serta dukungan anggaran. Sementara itu, masyarakat memiliki potensi, kreativitas, jejaring, pengalaman, dan kemampuan untuk menggerakkan perubahan dari tingkat paling bawah.

“Negara ini ada dua kekuatan, satu kekuatan pemerintah dan yang kedua kekuatan masyarakat. Mengandalkan kekuatan masyarakat saja tidak mungkin, mengandalkan kekuatan pemerintah saja juga sudah tidak mungkin. Karena itu, jawabannya adalah ruang kolaborasi,” kata Muhaimin.

Atas dasar itu, ia menekankan pentingnya membangun ekosistem kolaborasi yang mempertemukan pemerintah dengan berbagai unsur masyarakat.

Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM), lanjut dia, memiliki fungsi untuk menghubungkan dan mempertemukan berbagai kekuatan tersebut agar dapat bekerja dalam agenda pemberdayaan masyarakat.

“Kemenko ini tugasnya menyambungkan, mempertemukan, kerja sama, membangun networking dengan semua pihak,” ujarnya.

Menurut Muhaimin, kolaborasi tersebut tidak hanya berlangsung antarkementerian dan lembaga pemerintah. Dunia usaha, industri, komunitas, organisasi masyarakat, pelaku ekonomi kreatif, hingga masyarakat luas memiliki ruang yang sama untuk mengambil bagian.

Dalam konteks tersebut, influencer dinilai memiliki posisi strategis karena mampu menjembatani pesan pemberdayaan dengan masyarakat melalui bahasa dan platform yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dorong Ekonomi Kreatif

Muhaimin juga melihat sektor ekonomi kreatif sebagai salah satu ruang yang terbuka lebar bagi kolaborasi antara pemerintah, influencer, pelaku usaha, dan masyarakat.

Kreativitas masyarakat, khususnya perempuan dan generasi muda, menurut dia, dapat dikembangkan menjadi aktivitas produktif yang tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat kemandirian.

Di sinilah media sosial dinilai dapat menjadi pengungkit. Influencer dapat membantu memperkenalkan produk lokal, mengangkat potensi daerah, mempromosikan karya pelaku usaha kecil, serta memperluas jangkauan produk dan kreativitas masyarakat ke pasar yang lebih luas.

Selain promosi, konten digital juga dapat digunakan untuk menyebarkan pengetahuan dan pengalaman praktis, termasuk mengenai kewirausahaan, ekonomi kreatif, pengembangan keterampilan, serta berbagai peluang produktif yang dapat diakses masyarakat.

Dengan basis pengikut yang besar dan kemampuan membangun interaksi secara langsung, influencer memiliki peluang untuk mengubah perhatian publik di media sosial menjadi partisipasi nyata di tengah masyarakat.

Karena itu, Muhaimin mendorong agar kekuatan digital tidak berhenti pada popularitas, tetapi diarahkan menjadi bagian dari proses pemberdayaan.

Ia berharap para influencer dapat mengambil peran lebih jauh dengan membangun jejaring, membuka akses, memperkenalkan potensi masyarakat, serta menciptakan ruang kolaborasi yang memungkinkan masyarakat berkembang secara mandiri.

Pendekatan tersebut, menurut Muhaimin, sejalan dengan kebutuhan pembangunan saat ini yang menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai penerima program, tetapi juga sebagai pelaku utama pemberdayaan.

Ruang kolaborasi menjadi penting karena pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi berbagai tantangan pemberdayaan masyarakat.

Pemerintah membutuhkan partisipasi dan kreativitas masyarakat, sementara masyarakat membutuhkan dukungan kebijakan, akses, jejaring, dan fasilitasi dari negara.

Dengan demikian, influencer dapat menjadi salah satu simpul penting dalam ekosistem tersebut. Pengaruh yang sebelumnya terutama digunakan untuk membangun audiens dapat diperluas menjadi kekuatan untuk membangun jejaring, memperkuat usaha masyarakat, dan menggerakkan partisipasi publik.

Muhaimin menegaskan, inti dari pemberdayaan adalah membangun kemampuan masyarakat agar mampu tumbuh, produktif, dan semakin mandiri melalui kerja bersama antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *