Pemerintah Pastikan Harga BBM dan LPG Subsidi Tidak Naik Tetap Aman, di Tengah Gejolak Global

Nasional177 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan LPG subsidi tidak akan mengalami kenaikan meskipun situasi geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, tengah memanas.

Kebijakan ini diambil sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional serta melindungi daya beli masyarakat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya menahan kenaikan harga energi bersubsidi di tengah tekanan global yang berpotensi memengaruhi harga minyak dunia.

“Pemerintah berupaya agar harga BBM dan LPG subsidi di Indonesia tidak mengalami kenaikan dan kami terus mencari jalan keluar,” ujar Bahlil dalam keterangannya, (12/4/2026).

Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong Indonesia menuju swasembada energi dan pangan.

Dalam rangka mencapai target tersebut, Kementerian ESDM terus menggenjot optimalisasi sumber daya energi dalam negeri guna mengurangi ketergantungan pada impor.

Pemerintah juga mendorong peningkatan produksi energi domestik sebagai fondasi menuju kemandirian energi nasional.
“Kita akan berdayakan sumber daya alam yang kita punya, sehingga swasembada energi bisa tercapai,” jelas Bahlil.

Selain itu, pemerintah memastikan kondisi stok energi nasional masih dalam batas aman. Ketersediaan BBM diperkirakan mencukupi hingga sekitar 20 hari ke depan, sementara LPG diproyeksikan cukup untuk sekitar 10 hari. Hal ini diharapkan mampu menjaga kelancaran distribusi energi di tengah dinamika global.

Pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi maupun LPG 3 kilogram, yang selama ini menjadi penopang utama kebutuhan energi masyarakat berpenghasilan rendah.

Meski demikian, pemerintah dihadapkan pada tantangan besar terkait tingginya konsumsi energi nasional. Dalam periode 2024–2026, konsumsi BBM Indonesia diperkirakan mencapai 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari.

Dari total tersebut, konsumsi bensin diproyeksikan mencapai sekitar 100 ribu kiloliter per hari, sementara konsumsi solar berada di kisaran 111 ribu kiloliter per hari pada 2026.

Di sisi lain, kapasitas produksi BBM dalam negeri masih terbatas, yakni sekitar 600 ribu barel per hari. Kesenjangan antara produksi dan konsumsi ini menyebabkan Indonesia masih sangat bergantung pada impor energi.

Bahlil mengungkapkan bahwa lebih dari 59 persen kebutuhan BBM nasional masih dipenuhi dari impor, yang sebagian besar berasal dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Kondisi tersebut menjadi tantangan utama bagi pemerintah dalam mewujudkan kemandirian energi. Namun, hal ini juga menjadi fokus kebijakan ke depan melalui peningkatan investasi di sektor energi, pengembangan kilang, serta pemanfaatan energi alternatif.

Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah optimistis stabilitas energi nasional dapat terus terjaga, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasar global di masa mendatang.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *