Pemprov DKI Ajak Warga Jakarta dan Pelaku Usaha Bijak Kelola Pangan Untuk Kurangi Sampah

Berita31 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengajak masyarakat dan pelaku usaha untuk menerapkan pola pengelolaan pangan yang lebih bijak sebagai salah satu upaya mengurangi timbulan sampah dari sumbernya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi Asikin mengatakan, pengurangan sisa makanan yang berasal dari rumah tangga maupun tempat usaha dapat memberikan dampak langsung terhadap penurunan beban sistem pengelolaan sampah di Ibu Kota.

“Semakin sedikit makanan yang terbuang, semakin kecil pula volume sampah yang harus dikumpulkan, diangkut, dan diolah. Karena itu, pengurangan sisa makanan harus menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari masyarakat Jakarta,” kata Dudi dalam keterangan tertulis, pada (24/7/2026).

Menurut Dudi, upaya tersebut dapat dilakukan melalui gerakan “Warga Jakarta Bijak Pangan” dan “Gerakan Pilah Sampah”.

Kedua gerakan itu mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam merencanakan konsumsi pangan, mencegah makanan terbuang, memanfaatkan bahan pangan yang masih layak, serta melakukan pemilahan sampah sejak dari sumbernya.

Ia menjelaskan, masyarakat dapat berkontribusi melalui sejumlah langkah sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di antaranya dengan merencanakan belanja sesuai kebutuhan, mengambil makanan secukupnya, menghabiskan makanan yang telah diambil, menyimpan bahan pangan dengan baik agar tidak cepat rusak, serta mengolah kembali bahan pangan yang masih layak dikonsumsi.

Selain itu, masyarakat juga didorong untuk memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Pemilahan tersebut dinilai penting untuk memudahkan proses pengolahan sampah sekaligus meningkatkan potensi pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai guna.

“Perubahan kebiasaan dari tingkat rumah tangga merupakan langkah penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif. Pengurangan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat,” ujar Dudi.

Gerakan yang dilaksanakan bersama Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) tersebut turut melibatkan komunitas dan pelaku usaha, khususnya sektor hotel, restoran, dan katering atau hospitality.

Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan dapat memperluas penerapan praktik pengelolaan pangan yang bertanggung jawab, mulai dari proses perencanaan, penyimpanan, pengolahan, hingga penanganan sisa makanan.

Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat menjadi bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif, berkelanjutan, dan berbasis pada pengurangan sampah dari sumbernya.

Dudi menuturkan, Jakarta saat ini menghasilkan sekitar 9.059 ton sampah setiap hari. Dari jumlah tersebut, hampir separuhnya merupakan sampah organik yang didominasi oleh sisa makanan.

“Sampah sisa makanan yang terus meningkat memberikan beban besar terhadap sistem pengelolaan sampah perkotaan. Karena itu, pengurangannya harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari dalam mengelola pangan,” tuturnya.

Ia menambahkan, pengurangan sampah makanan juga dapat membantu memperpanjang kapasitas fasilitas pengelolaan sampah dan mengurangi kebutuhan pengangkutan sampah dalam jumlah besar.

Dengan demikian, upaya pencegahan sampah dari sumbernya dinilai menjadi langkah strategis dalam menghadapi tantangan pengelolaan sampah di wilayah perkotaan.

Sementara itu, Executive Director IBCSD Indah Budiani mengatakan, Gerakan “Warga Jakarta Bijak Pangan” mendorong masyarakat untuk melihat persoalan sisa makanan sebagai sesuatu yang dapat dicegah melalui perubahan perilaku dan kebiasaan sehari-hari.

“Masyarakat dapat menerapkan kebiasaan sederhana, seperti merencanakan belanja sesuai kebutuhan, menyimpan pangan dengan benar agar lebih tahan lama, mengolah kembali makanan yang masih layak, hingga menyalurkannya kepada mereka yang membutuhkan,” kata Indah.

Menurut dia, langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten di tingkat rumah tangga dapat memberikan dampak yang signifikan apabila diterapkan secara bersama-sama oleh jutaan warga Jakarta.

Indah menilai, pengelolaan pangan secara bijak tidak hanya memberikan manfaat terhadap lingkungan dengan mengurangi jumlah sampah makanan, tetapi juga dapat membantu masyarakat menghemat pengeluaran rumah tangga.

“Ketika masyarakat membeli dan mengonsumsi pangan sesuai kebutuhan, maka makanan yang terbuang dapat ditekan. Pada saat yang sama, pengeluaran rumah tangga juga dapat menjadi lebih efisien,” ujarnya.

Selain aspek lingkungan dan ekonomi, pengelolaan pangan yang lebih bertanggung jawab juga dinilai dapat memperkuat kepedulian sosial.

Makanan yang masih layak konsumsi dan tidak lagi dibutuhkan dapat dimanfaatkan atau disalurkan kepada pihak yang membutuhkan, sehingga dapat mengurangi potensi pemborosan pangan.

Melalui gerakan tersebut, Pemprov DKI Jakarta bersama IBCSD berharap semakin banyak masyarakat dan pelaku usaha yang menerapkan prinsip bijak pangan dalam aktivitas sehari-hari.

Perubahan kebiasaan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya bersama untuk mengurangi timbulan sampah, menjaga lingkungan, sekaligus menciptakan sistem pengelolaan pangan dan sampah yang lebih berkelanjutan di Jakarta.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *