Pemprov DKI Evaluasi BTN Jakarta International Marathon 2026 Usai Peserta Meninggal, Soroti Penguatan Layanan Kesehatan

Berita49 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026 setelah seorang peserta dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti ajang lari internasional tersebut.

Evaluasi difokuskan pada aspek layanan kesehatan, sistem respons darurat, serta kesiapsiagaan tenaga medis di sepanjang lintasan lomba.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, mengatakan bahwa insiden meninggalnya seorang peserta menjadi perhatian serius pemerintah daerah meskipun penyelenggara telah meningkatkan jumlah tenaga medis secara signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Memang betul ada satu peserta yang meninggal dunia. Berdasarkan laporan awal, yang bersangkutan diduga mengalami serangan jantung yang kemudian disertai kondisi dehidrasi. Tentunya hal ini menjadi bahan evaluasi bagi kami, terutama terkait sistem penanganan kesehatan, perawatan medis, serta ketersediaan layanan kesehatan selama perlombaan berlangsung,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, pada (24/6/2026).

Menurut Pramono, secara umum penyelenggaraan JAKIM telah memiliki dukungan medis yang relatif lebih baik dibandingkan sejumlah ajang lari lain yang pernah difasilitasi oleh Pemprov DKI Jakarta.

Fasilitas seperti ambulans, tenaga dokter, perawat, hingga pos kesehatan telah disiapkan dalam jumlah yang memadai.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa evaluasi tetap diperlukan untuk mengidentifikasi berbagai kendala di lapangan dan memastikan kejadian serupa tidak terulang pada penyelenggaraan berikutnya.
“Kami akan melakukan evaluasi secara menyeluruh. Keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama dalam setiap kegiatan olahraga berskala besar,” tegasnya.

Sementara itu, Medical Director BTN JAKIM 2026, dr. Andhika Raspati, mengungkapkan bahwa jumlah personel medis yang diterjunkan pada tahun ini meningkat sekitar 35 persen dibandingkan penyelenggaraan tahun lalu.

Peningkatan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi guna memperkuat layanan kesehatan bagi ribuan peserta yang mengikuti berbagai kategori lomba.
“Penambahan personel dilakukan untuk memastikan penanganan medis dapat berjalan lebih cepat dan efektif apabila terjadi kondisi darurat di lapangan,” kata Andhika.

Ia menjelaskan, tim medis BTN JAKIM 2026 terdiri dari 257 personel kesehatan yang ditempatkan di berbagai titik strategis sepanjang rute lomba. Mereka tersebar di 10 tenda medis utama, 21 unit ambulans, serta 40 titik mobile medic atau roaming medic yang bergerak mengikuti kebutuhan di lintasan.

Seluruh tenaga kesehatan yang bertugas berasal dari berbagai bidang keahlian, termasuk dokter spesialis kedokteran olahraga, dokter spesialis anestesi, peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Kedokteran Olahraga, dokter umum, fisioterapis, perawat, hingga paramedis terlatih.

Andhika menegaskan bahwa seluruh personel telah mengikuti pelatihan, simulasi penanganan keadaan darurat, briefing teknis, serta persiapan operasional sebelum perlombaan berlangsung.
“Rencana kerja dan sistem penanganan medis yang kami siapkan juga telah mendapatkan persetujuan dari Technical Delegate Federasi World Athletics,” ujarnya.

Meski jumlah personel kesehatan telah ditingkatkan, tim medis menghadapi tantangan besar pada hari kedua penyelenggaraan BTN JAKIM 2026.

Menurut Andhika, terjadi lonjakan laporan kondisi darurat yang muncul hampir bersamaan di sejumlah titik lintasan.

Situasi tersebut membuat petugas harus melakukan koordinasi secara cepat untuk menentukan prioritas penanganan berdasarkan tingkat kegawatdaruratan masing-masing peserta.
“Kami menghadapi beberapa panggilan darurat yang terjadi secara simultan di lokasi yang berbeda. Dalam kondisi seperti itu, tim harus melakukan triase dan menentukan prioritas penanganan agar pasien dengan kondisi paling kritis mendapatkan bantuan terlebih dahulu,” jelasnya.

Akibat banyaknya laporan yang masuk secara bersamaan, mobilisasi tenaga medis dan ambulans membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan kondisi normal.

Meski demikian, seluruh tim tetap berupaya memberikan respons secepat mungkin untuk menjangkau peserta yang membutuhkan pertolongan.

Insiden meninggalnya seorang peserta menjadi pengingat penting bahwa penyelenggaraan ajang olahraga massal, khususnya maraton, memiliki risiko kesehatan yang harus diantisipasi secara maksimal.

Faktor seperti cuaca panas, dehidrasi, kelelahan ekstrem, hingga gangguan jantung menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius dari penyelenggara maupun peserta.

Pemprov DKI Jakarta bersama panitia BTN JAKIM berkomitmen melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem layanan kesehatan, distribusi tenaga medis, kesiapan ambulans, serta mekanisme respons darurat guna meningkatkan standar keselamatan pada penyelenggaraan maraton di masa mendatang.

Dengan evaluasi tersebut, diharapkan Jakarta International Marathon dapat terus berkembang sebagai ajang lari bertaraf internasional yang tidak hanya sukses dari sisi penyelenggaraan, tetapi juga mampu menjamin keamanan dan keselamatan seluruh peserta.

Ervinna

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *