Prabowo Perintahkan Mentan Amran Bangun 5 Pabrik Pakan Terintegrasi, Anggaran Rp2,2 Triliun Ditargetkan Rampung 2027

Berita86 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk segera membangun lima pabrik pakan ternak terintegrasi di sejumlah sentra produksi jagung nasional.

Pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp2,2 triliun untuk proyek tersebut, yang ditargetkan rampung pada 2027.

Pembangunan pabrik ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ekosistem peternakan nasional, mulai dari penyediaan bahan baku pakan, produksi pakan ternak, ketersediaan bibit ayam atau day-old chick (DOC), hingga vaksin.

Langkah tersebut juga diarahkan untuk memperluas akses peternak rakyat terhadap sarana produksi dengan harga yang lebih terjangkau dan pasokan yang lebih terjamin.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, instruksi pembangunan pabrik pakan tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo. Pemerintah kini mulai merealisasikan proyek itu, termasuk melalui penandatanganan dokumen komitmen dengan pihak pelaksana pembangunan.

“Perintah Presiden, Bapak Presiden perintah beliau. Saya ditelepon beliau, pabrik pakan segera dibangun. Insya Allah tahun depan selesai, tahun depan selesai. Sekarang saya sudah turun dan kontrak pakta integritas tanda tangan yang bangun,” kata Amran di Jakarta, pada (10/10/2026).

Lima lokasi pembangunan pabrik pakan tersebut meliputi Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Gorontalo. Penentuan lokasi diarahkan ke wilayah yang memiliki potensi produksi jagung, sehingga kebutuhan bahan baku industri pakan dapat dipenuhi lebih dekat dari sumbernya.

Kebijakan ini diharapkan mampu memperpendek rantai distribusi, menekan biaya transportasi, serta meningkatkan efisiensi produksi pakan. Dengan demikian, peternak rakyat diharapkan memperoleh pasokan pakan yang lebih stabil tanpa terlalu bergantung pada distribusi dari kawasan industri yang jauh.

Anggaran Rp2,2 Triliun Untuk Lima Pabrik

Amran mengungkapkan, pemerintah telah menyiapkan anggaran Rp2,2 triliun untuk pembangunan lima pabrik pakan tersebut. Menurut dia, anggaran itu telah mendapatkan persetujuan Presiden.

“Anggarannya sudah turun, beliau (Presiden) sudah tanda tangan Rp2,2 triliun untuk lima. Total anggaran yang dipersiapkan pemerintah sekitar Rp17 triliun, tetapi bukan di sini saja,” ujar Amran.

Ia menegaskan, pemerintah menargetkan pembangunan dapat diselesaikan pada 2027. Amran menyebut proses administrasi dan penganggaran telah disiapkan, sehingga pelaksanaan pembangunan menjadi prioritas berikutnya.

“Sudah bor-bor. Targetnya tahun depan selesai. Administrasinya sudah selesai, anggarannya juga sudah selesai. Yang penting selesai dulu,” imbuhnya.

Meski demikian, realisasi target tersebut akan bergantung pada kelancaran pelaksanaan proyek, kesiapan infrastruktur pendukung, serta kemampuan memastikan setiap fasilitas dapat beroperasi sesuai rencana.

Bangun Ekosistem dari DOC hingga Pakan dan Vaksin
Pemerintah tidak hanya berfokus pada pembangunan pabrik pakan. Untuk memperkuat sektor peternakan, Kementerian Pertanian juga menyiapkan fasilitas pembibitan ayam yang memproduksi DOC, atau anak ayam umur sehari.

Keberadaan fasilitas pembibitan tersebut diharapkan membantu menjaga ketersediaan bibit ayam di dalam negeri sekaligus mendekatkan distribusi kepada peternak.

Pengelolaannya juga berpeluang melibatkan badan usaha milik negara (BUMN).
Amran menjelaskan, penyediaan pakan, DOC, dan vaksin merupakan satu kesatuan yang perlu diperkuat agar peternak rakyat memiliki akses lebih baik terhadap kebutuhan utama usaha mereka.

“Ini menyuplai peternak kecil supaya harganya stabil, suplai DOC, kemudian suplai pakan, suplai vaksin supaya peternak kuat, makanya tadi ekosistem. Jadi semua dalam kendali kita, mulai pakan, vaksinnya, DOC-nya, kendali negara, kendali pemerintah,” jelasnya.

Melalui pendekatan terintegrasi tersebut, pemerintah berupaya mengurangi kerentanan peternak terhadap gangguan pasokan dan gejolak harga sarana produksi.

Namun, efektivitas kebijakan ini akan ditentukan oleh kemampuan pemerintah menjaga kesinambungan pasokan, kualitas produk, serta distribusi yang menjangkau peternak kecil secara merata.

Pangkas Rantai Distribusi Jagung

Penguatan industri pakan juga berkaitan erat dengan optimalisasi produksi jagung dalam negeri. Jagung merupakan salah satu bahan baku utama pakan unggas, sehingga kedekatan antara sentra produksi jagung dan pabrik pakan menjadi faktor penting dalam menekan biaya logistik.

Amran mencontohkan, kebutuhan bahan baku untuk pabrik di Sulawesi Selatan dapat dipasok dari sejumlah daerah penghasil jagung di sekitarnya, termasuk Kabupaten Bone dan Soppeng.

“Ayam butuh pakan. Pakannya dari jagung. Jagung ini nanti dari Bone, Soppeng, kabupaten tetangga, dari mana saja. Karena ini yang menjadi pakan nanti,” kata Amran.

Menurut dia, pembangunan pabrik di dekat sumber bahan baku akan membuat alur distribusi lebih efisien. Jagung tidak perlu dikirim ke wilayah lain yang jauh untuk diproses menjadi pakan, kemudian didistribusikan kembali ke daerah yang membutuhkan.

“Jadi dari hulu ke hilir ini holistik. Itu murah. Daripada jagung ini dikirim ke Surabaya, dikirim ke Jakarta, setelah jadi pakan dikembalikan,” ujarnya.

Skema tersebut berpotensi menciptakan nilai tambah di daerah penghasil jagung. Selain menekan biaya angkut, keberadaan pabrik juga diharapkan memperkuat keterhubungan antara petani jagung sebagai pemasok bahan baku dan peternak sebagai pengguna pakan.

Tantangan: Harga Harus Terjangkau dan Distribusi Tepat Sasaran

Pembangunan lima pabrik pakan senilai Rp2,2 triliun menandai upaya pemerintah memperkuat fondasi industri peternakan dari sisi hulu. Namun, pembangunan infrastruktur saja belum cukup untuk menjamin penurunan biaya produksi di tingkat peternak.

Pemerintah perlu memastikan pabrik beroperasi secara efisien, bahan baku jagung terserap dengan mekanisme harga yang wajar, serta hasil produksi benar-benar tersedia bagi peternak rakyat.

Transparansi pengelolaan, ketepatan waktu pembangunan, dan pengawasan distribusi juga menjadi faktor penting agar investasi negara memberikan manfaat nyata.

Jika berjalan sesuai target, fasilitas tersebut berpotensi memperkuat pasokan pakan, mendukung stabilitas usaha peternakan, dan meningkatkan nilai tambah komoditas jagung di daerah.

Pada akhirnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari rampungnya lima pabrik pada 2027, tetapi juga dari sejauh mana peternak kecil memperoleh pakan dan bibit ayam dengan harga yang lebih terjangkau serta pasokan yang berkelanjutan.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *