Presiden Prabowo Minta Segera Anak Cucu Perusahaan BUMN Dipangkas, Fokus Pertamina dan PLN Demi Efisiensi

Nasional98 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Presiden Prabowo Subianto meminta struktur perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) disederhanakan dengan memangkas sejumlah layer atau tingkatan serta anak dan cucu perusahaan.

Langkah tersebut secara khusus diarahkan kepada PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), dan BUMN lainnya. Permintaan itu disampaikan Prabowo saat menerima Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon A. Mantiri di kediamannya di Hambalang, Jawa Barat, pada (9/8/ 2026).

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan, dalam pertemuan tersebut Presiden Prabowo memberikan arahan agar struktur perusahaan BUMN dibuat lebih ramping dan efisien.

“Dalam pertemuan tersebut Presiden Prabowo juga memerintahkan pengurangan layer-layer dan anak cucu perusahaan di Pertamina, PLN, dan BUMN lainnya,” kata Teddy dalam keterangannya, pada (9/8/2026).

Menurut Teddy, pemangkasan struktur tersebut dilakukan untuk mempercepat proses pengambilan keputusan di lingkungan perusahaan pelat merah. Selain itu, langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga efisiensi BUMN.

“Pemangkasan ditujukan agar pengambilan keputusan menjadi lebih cepat, produktivitas lebih meningkat, dan efisiensi seluruh BUMN lebih terjaga,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, Simon Mantiri juga melaporkan perkembangan Program Mandatori Biodiesel 50 persen atau B50 yang telah diluncurkan oleh Presiden Prabowo pada Juli 2026.

Selain perkembangan program B50, Direktur Utama Pertamina tersebut menyampaikan kesiapan infrastruktur untuk mendukung tahapan persiapan program mandatori bioethanol yang akan dijalankan pemerintah.

“Dirut Pertamina melaporkan kemajuan dari Program Mandatori B50 (Biodiesel 50%) yang telah diluncurkan Presiden Prabowo bulan Juli lalu serta kesiapan infrastruktur dalam tahapan persiapan mandatori Bioethanol oleh Pemerintah,” tutur Teddy.

Rapat tersebut turut dihadiri Menteri Pertahanan RI Sjafie Sjamsoeddin, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Herindra, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Mantiri, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

Arahan Prabowo untuk memangkas layer dan anak cucu perusahaan BUMN sejalan dengan upaya pemerintah melakukan efisiensi dan konsolidasi perusahaan pelat merah.

Sebelumnya, Prabowo menerima laporan mengenai penghematan yang dihasilkan dari proses konsolidasi sejumlah BUMN.
Presiden menyebut konsolidasi terhadap 250 BUMN berpotensi menghasilkan penghematan hingga Rp50 triliun.

Prabowo mengatakan, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) telah melakukan konsolidasi terhadap 250 BUMN dari total 1.077 entitas. Konsolidasi tersebut berdampak terhadap pengurangan berbagai biaya operasional dan overhead perusahaan.

“Mereka (Danantara) laporan, dengan ditutupnya 250 BUMN overhead biaya rutin yang bisa diselamatkan adalah Rp 50 triliun, Rp 50 triliun, gaji direksi, gaji komisaris, sewa gedung, bayar listrik, bayar transport, bayar ini, rapat kerja, Rp 50 triliun,” ungkap Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, 20 Juli 2026.

Konsolidasi terhadap 250 BUMN tersebut dilakukan melalui sejumlah langkah, termasuk merger. Proses tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah dan Danantara untuk menyederhanakan struktur perusahaan milik negara.

Prabowo memperkirakan nilai penghematan dari konsolidasi BUMN masih dapat meningkat hingga akhir 2026. Pemerintah memperkirakan penghematan dapat mencapai kisaran Rp70 triliun hingga Rp80 triliun seiring dengan berlanjutnya proses konsolidasi dan pengurangan entitas BUMN.

“Desember 31 (2026) saya kira ini mungkin angka penghematan bisa naik, bisa, bisa, bisa mendekati Rp 70 – Rp 80 triliun. Saya terima kasih dari pimpinan Danantara,” kata Prabowo.

Dengan arahan terbaru untuk memangkas layer serta anak dan cucu perusahaan, pemerintah kembali menekankan agenda efisiensi BUMN.

Penyederhanaan struktur tersebut diharapkan tidak hanya menekan biaya, tetapi juga membuat proses pengambilan keputusan lebih cepat, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat kinerja perusahaan-perusahaan milik negara.

Ervinna

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *