Oleh: Syafrudin Budiman, SIP (Mahasiswa Pasca Sarjana Magister Ilmu Politik Universitas Nasional)
DetikSR.id Jakarta – PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Prawacana dan wacana terkait keberagamaan di dunia dan pada khususnya di dunia Eropa, sejak dulu kala agama dominan agama di eropa adalah Katolik Roma di Barat, Ortodoks Timur di Timur, dan Protestanisme di Utara, serta adanya populasi Muslim yang signifikan, terutama akibat imigrasi. Selain itu, ada juga kelompok ateis, agnostik, dan penganut agama lain seperti Yahudi, Buddha, dan Hindu.
Tren sekularisasi yang meningkat menyebabkan banyak orang Eropa kini tidak berafiliasi dengan agama apa pun, sehingga orang eropa sendiri lebih menjadi manusia tanpa agama dan memilih menjadi manusia yang bebas dan tanpa ada paksaan agama apapun. Bicara reformasi agama merujuk pada gagasan, diskusi, atau gerakan pembaruan dalam aspek ajaran, praktik, hingga struktur suatu agama.
Tujuannya bisa beragam, mulai dari mengembalikan kemurnian ajaran asli, menyesuaikan ajaran agama dengan konteks zaman modern, hingga menanggapi penyimpangan atau kemunduran yang terjadi dalam komunitas beragama. Pembaruan Ajaran/Doktrin ni melibatkan penafsiran ulang (ijtihad) terhadap teks-teks suci atau doktrin inti agama untuk menjadikannya lebih relevan atau mudah diimplementasikan dalam kehidupan kontemporer.
Kritik terhadap Institusi Keagamaan yakni Wacana reformasi sering kali mencakup kritik terhadap struktur kekuasaan, birokrasi, atau praktik-praktik yang dianggap menyimpang dari nilai-nilai agama yang ideal. Respons terhadap Tantangan dan Reformasi agama sering muncul sebagai respons terhadap perubahan sosial, politik (seperti kolonialisme/kapitalisme), atau perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memaksa komunitas agama untuk beradaptasi. Dan Penekanan pada Aspek Etis dan Moral yang fokus pada penekanan kembali aspek etis dan moralitas dalam beragama, melampaui formalitas ritual semata.
Wacana reformasi agama merujuk pada upaya untuk melakukan pembaharuan, perombakan, atau peninjauan kembali terhadap doktrin, praktik, dan struktur institusi keagamaan yang dianggap telah menyimpang atau tidak relevan lagi dengan tuntutan zaman
Secara historis, istilah ini paling sering dikaitkan dengan Reformasi Protestan di Eropa pada abad ke-16, yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Martin Luther: yakni Gerakan ini bermula dari kritik terhadap penyalahgunaan wewenang dan praktik korupsi dalam Gereja Katolik Roma, seperti penjualan surat indulgensi (pengampunan dosa).
Reformasi agama ini bertujuan untuk mengembalikan ajaran Kristen pada kemurnian Alkitab dan mengurangi kekuasaan absolut paus serta hirarki gereja yang menyebabkan perpecahan dalam Gereja Barat dan munculnya aliran-aliran Kristen baru seperti Lutheran, Calvinis, dan Anglikan. Peristiwa inilah menjadi Analisa dan praktik pertama reformasi agama di dunia, sehingga peristiwa ini memberi makna atas politik agama, transformasi agama dan menjadikan pemikiran perbandingan pada setiap Gerakan politik agama di Indonesia.
B. RUMUSAN MASALAH
Masalah reformasi agama atau lebih menempatkan Reformasi Protestan di Eropa meliputi dampak perpecahan agama antara Katolik dan Protestan, konflik dan perang antar aliran agama, serta perubahan kekuatan politik di mana peran negara semakin menguat dan memunculkan sekularisme.
Masalah-masalah ini timbul dari ketidakpuasan terhadap korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan dalam gereja, seperti jual beli surat pengampunan dosa, yang memicu gerakan reformasi dan kontra-reformasi.
Akhirnya pengkaji melihat atas perbandingan politik agama di dunia dengan referensi reformasi agama di masa abad ke – 16 atas penyimpangan praktek agama saat kekuasaan politik saat itu.
C. KAJIAN PUSTAKA
Kajian Pustaka terkait dengan pemikiran dan teori yang berkaitan dengan reformasi agama diantaranya Martin Luther, tokoh utama yang menentang penjualan indulgensi dan dikenal dengan 95 tesisnya, yang menjadi titik awal Reformasi Gereja. Kedua, Yohanes Calvin adalah Tokoh reformasi lainnya yang pemikirannya sangat berpengaruh dalam tradisi teologi Reformed, yang berpusat pada kedaulatan Allah. Dan Ketiga adalah Tokoh awal John Wycliffe dan John Hus juga merupakan tokoh yang mengemukakan ide-ide reformasi sebelum Martin Luther, meskipun perjuangan mereka kurang berhasil karena tidak mendapatkan dukungan yang memadai.
Kedua, tokoh Sosiolog Max Weber mengemukakan teori tentang hubungan antara etika agama dan perubahan sosial, khususnya dalam karyanya The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. Agama sebagai Kekuatan Perubahan Sosial dimana Weber berpendapat bahwa gagasan dan keyakinan agama dapat memandu cara anggota masyarakat bertindak, bahkan dalam ranah ekonomi.
Etika Protestan dan Kapitalisme: Weber meneliti bagaimana nilai-nilai yang ditekankan dalam teologi Protestan (seperti kerja keras, disiplin, penghematan, dan panggilan hidup/ calling) secara tidak langsung mendorong perkembangan kapitalisme modern di Eropa Barat. Ia melihat kelas menengah rendah dan kaum pengrajin sebagai kelompok yang berperan strategis dalam menyebarkan etika ini.
II
PEMBAHASAN
Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa, serta kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan lingkungannya. Secara etimologis, kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “tidak kacau” dari kata a dan gama yang berarti “tidak” dan “kacau” atau “tetap lestari” dari kata a dan gama yang berarti “tidak” dan “pergi/berjalan”.
Agama utama di Eropa adalah Kekristenan, yang terbagi menjadi Katolik (barat dan selatan), Ortodoks (timur), dan Protestan (utara). Meskipun Kekristenan masih dominan, banyak orang di Eropa saat ini tidak berafiliasi dengan agama apa pun, dan kelompok agama lain seperti Islam, Yahudi, dan Buddha juga memiliki kehadiran yang signifikan di benua tersebut
Namun bicara agama di Eropa tentu beririsan dengan perbandingan politik inernasional yakni reformasi agama kekristenan di eropa. Kenapa demikian, karena Reformasi Agama adalah ketidakpuasan terhadap penyimpangan dan penyalahgunaan kekuasaan di Gereja Katolik, seperti praktik jual beli surat pengampunan dosa (indulgensi), korupsi, dan kehidupan moral yang buruk para rohaniwan.
Faktor-faktor lain yang berperan adalah tumbuhnya gerakan humanisme yang menekankan rasionalitas, kemajuan teknologi cetak yang mempermudah penyebaran ide-ide baru, serta keinginan negara-negara Eropa untuk menjadi independen dari kekuasaan Paus. Sejarah Reformasi Gereja dimulai pada abad ke-16 di Eropa sebagai gerakan yang menentang penyimpangan dalam Gereja Katolik, yang dipicu oleh kritik Martin Luther terhadap praktik seperti penjualan indulgensi (surat pengampunan dosa).
Peristiwa ini diawali ketika Luther memakukan 95 dalil di pintu gereja di Wittenberg, Jerman, pada tanggal 31 Oktober 1517, dan berlanjut dengan perpecahan gereja menjadi aliran Katolik, Protestan, dan Anglikan. Reformasi Gereja adalah gerakan besar di Eropa pada abad ke-16 yang bertujuan memperbaiki penyimpangan dalam Gereja Katolik Roma, seperti korupsi dan praktik jual beli surat pengampunan dosa (indulgensi).
GERAKAN REFORMASI AGAMA DI PIMPIN MARTIN LUTHER
Gerakan ini dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Martin Luther dan John Calvin, yang mengkritik ajaran dan praktik gereja serta akhirnya memicu perpecahan agama Kristen menjadi Katolik dan Protestan. Etika Protestan dan Kapitalisme: adalah buku Weber yang hasil dari meneliti bagaimana nilai-nilai yang ditekankan dalam teologi Protestan (seperti kerja keras, disiplin, penghematan, dan panggilan hidup/ calling) secara tidak langsung mendorong perkembangan kapitalisme modern di Eropa Barat.
Ia melihat kelas menengah rendah dan kaum pengrajin sebagai kelompok yang berperan strategis dalam menyebarkan etika ini. Dari sudut pandang sejarah, Reformasi Agama dijelaskan sebagai hasil dari berbagai faktor, antara lain: Korupsi di lingkungan Gereja yang aanya praktik korupsi, nepotisme, dan penjualan jabatan gerejawi serta indulgensi yang meluas.
Kedua, Keinginan Membebaskan Diri dari Otoritas Paus, dimana Para pemimpin politik di berbagai negara Eropa ingin membebaskan diri dari kekuasaan politik dan finansial kepausan di Roma. Ketiga, Kesadaran Nasionalisme yang Munculnya negara-negara nasional kecil di Eropa yang ingin mengatur urusan keagamaan mereka sendiri. Dan keempat, Pengaruh Renaisans dan Humanisme: Penekanan pada nalar, pendidikan, dan kembali ke sumber asli (termasuk teks Alkitab asli) mendorong kritik terhadap interpretasi gereja yang sudah mapan.
Untuk reformasi agama, kita akan membahas latar belakang (penyimpangan agama seperti penjualan surat pengampunan dosa), tokoh-tokoh kunci (seperti Martin Luther dan 95 Tesisnya), proses dan perkembangannya (termasuk penerjemahan Alkitab ke bahasa rakyat), dampaknya (seperti munculnya agama-agama baru seperti Protestanisme, sekularisme, dan perubahan politik), serta relevansinya saat ini dalam konteks sosial dan budaya modern.
Dalam mata kuliah Perbandingan Politik, tugas terkait reformasi agama umumnya berfokus pada analisis interaksi, pengaruh, dan dampak hubungan antara agama dan politik di berbagai negara atau konteks waktu yang berbeda.
Analisis Relasi Agama dan Negara: Analisa ini dapat melibatkan perbandingan cara berbagai negara mengelola hubungan antara institusi agama dan struktur negara. Membandingkan model sekularisme di Prancis dengan model negara yang memiliki agama resmi (seperti Inggris atau beberapa negara Timur Tengah), atau model di mana agama dan negara tidak dibenturkan seperti di Indonesia. Fokus: Menganalisis kerangka hukum, kebijakan publik, dan peran simbol-simbol keagamaan dalam ranah politik.
REFORMASI PROTESTAN
Reformasi Protestan atau Reformasi Gereja (juga disebut Reformasi Eropa) adalah sebuah gerakan besar dalam Kekristenan Barat di Eropa pada abad ke-16 yang menimbulkan tantangan agama dan politik terhadap Gereja Katolik Roma dan khususnya terhadap otoritas kepausan, yang timbul dari apa yang dianggap sebagai kesalahan, penyalahgunaan, dan ketidaksesuaian dalam Gereja Katolik. Reformasi adalah awal dari Protestanisme, dan perpecahan Gereja Barat menjadi Protestan dan Gereja Katolik Roma.
Reformasi juga dianggap sebagai salah satu peristiwa yang menandai akhir dari Abad Pertengahan dan permulaan dari periode modern awal di Eropa. Gerakan ini umumnya dianggap telah dimulai dengan publikasi 95 Tesis oleh Luther pada 1517, dan berlangsung sampai berakhirnya Perang Tiga Puluh Tahun melalui Perdamaian Westfalen pada 1648.
Meskipun sebelum Luther telah ada upaya-upaya awal yang signifikan untuk melakukan reformasi Gereja Katolik – seperti yang dilakukan oleh Jan Hus, Peter Waldo (Pierre Vaudès), dan John Wycliffe – Martin Luther secara luas dianggap telah memulai Reformasi Protestan dengan 95 Tesis.
Luther mengawali dengan mengkritik penjualan indulgensi, bersikeras bahwa Sri Paus tidak memiliki otoritas atas purgatorium dan bahwa ajaran Katolik mengenai jasa orang-orang kudus tidak memiliki landasan di dalam Alkitab. Bagaimanapun, posisi Protestan kelak memadukan perubahan-perubahan doktrin seperti ketergantungan sepenuhnya pada Alkitab sebagai satu sumber keyakinan yang benar (sola scriptura) serta keyakinan bahwa iman dalam Yesus, dan bukan perbuatan-perbuatan baik, adalah satu-satunya jalan untuk memperoleh pengampunan Allah atas dosa (sola fide).
Motivasi utama di balik perubahan-perubahan tersebut bersifat teologis, kendati banyak faktor lain yang berperan, termasuk bangkitnya nasionalisme, Skisma Barat yang mengikis kepercayaan pada Kepausan, dugaan korupsi Kuria Roma, dampak dari humanisme, dan pembelajaran baru Renaisans yang mempertanyakan banyak pemikiran dalam tradisi.
Gerakan awal di Eropa beragam rupa, dan impuls-impuls reformasi lainnya timbul secara tersendiri di luar kepemimpinan Luther.
Ulrich Zwingli, contohnya, memulai reformasi di Swiss pada saat yang hampir bersamaan dengan Luther, namun independen dari pengaruh Luther. John Calvin, seorang reformator generasi kedua yang melakukan reformasi di kota Jenewa, memiliki teologi yang sangat berpengaruh pada tradisi reformasi Swiss.
Para pengikut Luther dikenal sebagai Lutheran, sedangkan pengikut Zwingli dan Calvin dikenal sebagai Calvinis atau Reformed. Gereja-gereja Lutheran kebanyakan didirikan di Jerman dan Skandinavia, sedangkan gereja-gereja Reformed didirikan di Swiss, Hungaria, Prancis, Belanda, dan Skotlandia. Gerakan baru ini memberikan pengaruh definitif pada Gereja Inggris setelah tahun 1547 di bawah pemerintahan Edward VI and Elizabeth I, kendati Gereja Inggris telah berdiri sendiri di bawah pemerintahan Henry VIII pada tahun 1530-an awal.
Terdapat juga gerakan-gerakan reformasi di seluruh Eropa daratan yang dikenal sebagai Reformasi Radikal, yang menimbulkan gerakan-gerakan Anabaptis, Moravia, dan Pietistik lainnya. Selain membentuk komunitas-komunitas di luar otorisasi negara, para Reformis Radikal sering kali menerapkan perubahan doktrin yang lebih ekstrem, misalnya penolakan terhadap prinsip-prinsip hasil Konsili Nicea dan Konsili Kalsedon yang berlangsung pada Abad Kuno Akhir.
Gereja Katolik menanggapi dengan suatu gerakan yang disebut Kontra-Reformasi, diprakarsai oleh Konsili Trente. Banyak upaya dalam menghadapi Protestanisme dilakukan oleh kalangan Yesuit, suatu tarekat baru kala itu yang terorganisasi dengan baik. Secara umum, Eropa Utara, dengan pengecualian sebagian besar wilayah Irlandia, berada di bawah pengaruh Protestanisme. Eropa Selatan tetap Katolik, sedangkan Eropa Tengah merupakan lokasi konflik yang sengit, imbas dari serangkaian perang agama di Eropa yang berpuncak pada Perang Tiga Puluh Tahun, sehingga mengakibatkan daerah ini hancur.
PERAN GERAKAN KEAGAMAAN POLITIK DI INDONESIA
Mempelajari bagaimana gerakan reformasi agama yang bersifat puritan-reformis, tradisionalis, atau lainnya memengaruhi transisi politik, termasuk demokratisasi atau, sebaliknya, otoritarianisme. Menganalisis peran gerakan Islam dalam proses reformasi di Indonesia (misalnya, peran partai-partai Islam seperti PPP, PKB, dan PAN) atau peran gerakan Protestan dalam reformasi politik di Eropa.
Dalam penelitian bagaimana keyakinan teologis diterjemahkan menjadi agenda politik dan bagaimana hal ini memengaruhi partisipasi warga negara. Pada fenomena politisasi agama, di mana simbol, wacana, dan idiom keagamaan digunakan untuk kepentingan politik oleh kelompok atau individu tertentu. Kebangkitan nasionalisme religius atau fundamentalisme keagamaan di beberapa negara dan dampaknya terhadap stabilitas politik dan toleransi, Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab munculnya fundamentalisme dan bagaimana negara yang berbeda menghadapinya.
Dalam tugas-tugas ini, mahasiswa akan menggunakan metode perbandingan untuk menemukan persamaan dan perbedaan antara kasus yang diteliti, menjelaskan alasannya, dan menarik kesimpulan yang lebih umum tentang hubungan antara agama dan politik. Pendekatan bisa bersifat historis, sosiologis, atau analisis kebijakan.
III
PENUTUP
Untuk tugas makalah kuliah tentang reformasi agama khusus reformasi di Eropa dan di Indonesia, tentu dapat membahas penyimpangan gereja seperti penjualan surat pengampunan dosa, tokoh-tokoh kunci seperti Martin Luther dan 95 Tesisnya, proses dan perkembangannya termasuk penerjemahan Alkitab ke embal rakyat, dampaknya seperti munculnya agama-agama baru seperti Protestanisme, sekularisme, dan perubahan politik, serta relevansinya saat ini dalam konteks sosial dan budaya modern.
DAFTAR PUSTAKA
Kristiyanto, A. Eddy, (2020). Reformasi Dari Dalam; Sejarah Gereja Zaman Modern. Kanisius, Yogyakarta
Eddy Kristiyanto, cs., Antonius (2017) Martin Luther. Musa Jerman: 5 Abad Reformasi Agama. Penerbit Obor, Jakarta
Donald K. McKim, (2003). The Cambridge Companion to Martin Luther. University Press, Cambridge
Max Weber; Peter R. Baehr; Gordon C. Wells (2002). Etika Protestan dan “semangat” kapitalisme dan tulisan-tulisan lainnya . (Diakses tanggal 1 November 2025).
Oellien Noeha, Rifqi Salsa Fauzi, Lita Meitasari, Asep Zainal Ausop, Ridhania, dkk. (2023). Dinamika Politik Indonesia dari Masa Orde Lama Hingga Reformasi, Langgam Pustaka, Jakarta
Calvin dan Calvinisme: Pengaruhnya terhadap Peradaban Manusia (Bagian 1) [daring]. Tautan: https://www.buletinpillar.org/kehidupan-kristen/calvin-dan-calvinisme-pengaruhnya-terhadap-peradaban-manusia-bagian-1 (Diakses: 29 Oktober 2025).
Kritik Martin Luther atas Gereja Katolik Melahirkan Protestanisme [daring]. Tautan: https://tirto.id/kritik-martin-luther-atas-gereja-katolik-melahirkan-protestanisme-czj9 (Diakses: 29 Oktober 2025).
Ulrich Zwingli [daring]. Tautan: https://id.wikipedia.org/wiki/Ulrich_Zwingli#/media/Berkas:Ulrich-Zwingli-1.jpg (Diakses: 29 Oktober 2025).(*/Red)






