Sebuah Refleksi Pasca Peringatan HUT Kemerdekaan

Berita43 Dilihat

Oleh : Muslich Taman, Guru PAI SMAN I Rumpin, Penulis Buku: Guru Sang Arsitek Masa Depan

DetikSR.id Bogor – Setiap tahun, Bulan Agustus selalu datang membawa suasana yang berbeda. Dari kota hingga pelosok desa dan kampung. Merah putih berkibar di setiap depan rumah, gang-gang dihiasi umbul-umbul, tua muda dan remaja mengadakan lomba, begitu pun anak-anak semua tak ada yang mau ketinggalan. Semua lapisan masyarakat berkumpul dalam suasana riang dan penuh keakraban. Ada yang ikut lomba panjat pinang, rebutan kursi, balap karung, tarik tambang, makan kerupuk, tangkap belut, jalan sehat, pentas seni, hingga berbagai kegiatan sosial. Semua berlangsung meriah penuh canda tawa.

Itulah wajah asli Indonesia ketika merayakan hari kemerdekaan. Penuh riang gembira dan rasa bahagia. Gegap gempita itu sesungguhnya bukan sekadar pesta. Di balik tawa, lomba, bendera, dan keramaian, ada pesan besar yang seharusnya kita renungkan: kemerdekaan adalah anugerah yang sangat mahal.

Indonesia tidak merdeka karena hadiah dari bangsa lain. Tidak pula belas kasih dari negara penjajah. Kemerdekaan Indonesia lahir dari perjuangan panjang dan pengorbanan yang tidak terhitung. Para pahlawan mempertaruhkan harta, keluarga, darah, bahkan nyawa. Mereka berjuang sekuat tenaga, pantang menyerah, dan tanpa pamrih. Bukan pula demi menikmati buah kemerdekaan itu sendiri. Sebab, sebagian besar mereka justru tidak sempat merasakan Indonesia merdeka.

Mereka ibarat menanam pohon yang teduh, dan buahnya kita nikmati hari ini. Karena itu, memperingati kemerdekaan tidak cukup hanya dengan memasang bendera dan mengikuti perlombaan. Ada pertanyaan yang lebih penting untuk kita jawab: apa yang telah kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah tertumpah dan ratusan ribu bahkan jutaan nyawa melayang itu?

Kemerdekaan adalah amanah. Mensyukurinya bukan hanya dengan ucapan, tetapi dengan hati lapang dan kerja nyata. Guru bersyukur dengan mendidik sepenuh hati. Petani bekerja keras menghidupkan pangan negeri. Pedagang mencari rezeki dengan gigih dah jujur. Aparatur melayani dengan tulus dan penuh amanah. Murid belajar dengan rajin dan sungguh-sungguh. Ulama membimbing umat dengan ikhlas. Pengusaha membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya. Para pemimpin mengelola negara dengan adil dan penuh tanggung jawab.

Bangsa yang besar bukan bangsa yang hanya pandai mengenang jasa pahlawan, tetapi bangsa yang mampu meneruskan semangat perjuangannya dalam bentuk yang sesuai dengan zamannya. Mewujudkan kesejahteraan dan menegakkan keadilan bagi semua.

Indonesia adalah rumah besar yang dihuni oleh ratusan juta manusia dengan latar belakang suku, bahasa, budaya, tradisi, dan karakter yang beragam. Dan justru karena keberagaman itulah persatuan menjadi harga mati. Jangan sampai perbedaan yang semestinya menjadi kekayaan berubah menjadi sumber permusuhan.

Bangsa yang terpecah akan mudah dilemahkan. Bangsa yang tidak bersatu akan mudah diadu domba. Jika Indonesia kehilangan persatuan, bukan mustahil rumah besar ini retak, pecah menjadi banyak bagian, dan kehilangan kekuatannya sebagai sebuah bangsa. Dan akhirnya hilang tinggal nama. Karena itu, jangan mudah diadu domba. Jangan mudah terpancing provokasi. Dan jangan gampang larut dengan sikap pesimis orang-orang yang putus asa. Jangan biarkan kepentingan sesaat mengalahkan kepentingan bangsa yang jauh lebih besar.

Sejarah dunia memberi banyak pelajaran. Ada negara-negara yang telah punah dan tinggal nama. Ada juga negara-negara yang tidak memiliki hari kemerdekaan sebagaimana Indonesia, karena mereka tidak pernah mengalami penjajahan. Tetapi ironisnya, sebagian dari mereka justru terlibat dalam kejahatan penjajahan terhadap bangsa lain.

Dan lebih ironis lagi, negara-negara mantan penjajah tersebut kemudian mengajari kita tentang hak asasi manusia. Lucu. Penjajahan tetaplah kejahatan. Ia merampas kebebasan, martabat, kekayaan, dan masa depan manusia. Tidak ada alasan yang dapat membenarkan penindasan terhadap sebuah bangsa.

Dalam perspektif itu, bangsa Indonesia mendapatkan sebuah pelajaran sejarah yang mahal. Penjajahan telah mengajarkan kita betapa berharganya kemerdekaan, betapa pedihnya kehilangan kedaulatan, dan betapa pentingnya perjuangan serta pengorbanan.

Kini, setelah 81 tahun Indonesia merdeka, tantangannya justru semakin kompleks. Penjajahan tidak lagi datang dengan kapal perang dan senjata meriam. Ia datang dengan wajah yang lebih dekat, lebih halus, bahkan menggunakan bahasa kita sendiri.

Inilah yang sebenarnya digambarkan dengan sebutan “Londo Ireng” —penjajahan oleh bangsa sendiri. Sebuah istilah yang sesungguhnya tidak boleh dengan serampangan ditujukan kepada pihak lain.

Ketika kekayaan alam negeri dieksploitasi secara semena-mena tanpa memikirkan generasi mendatang, ketika korupsi menggerogoti uang rakyat, ketika kolusi dan nepotisme bergaya ordal mengalahkan kompetensi, ketika jabatan dipakai untuk kepentingan pribadi, ketika rakyat kecil terus menjadi korban keserakahan, sesungguhnya kita sedang berhadapan dengan bentuk penjajahan baru.

Karena itu, peringatan kemerdekaan ke-81 hendaknya tidak berhenti pada kegembiraan. Mari kita rayakan kemerdekaan dengan rasa syukur, kita isi dengan kerja keras, kita jaga dengan persatuan, dan kita pertahankan dengan kejujuran serta keberanian melawan segala bentuk kezaliman, oleh dan terhadap diri sendiri.

Merah putih bukan sekadar warna bendera. Ia adalah simbol darah para pejuang dan kesucian cita-cita bangsa. Maka ketika bendera merah putih berkibar, semoga hati kita juga bertanya: sudahkah kita menjadi bangsa yang pantas menerima warisan kemerdekaan ini?

Mari terus merdeka —bukan hanya dari penjajahan bangsa lain, tetapi juga dari kebodohan, kemalasan, korupsi, keserakahan, perpecahan, dan segala bentuk penjajahan yang lahir dari diri kita sendiri.

Karena kemerdekaan yang sesungguhnya bukan sekadar terbebas dari penjajah, tetapi mampu berdiri tegak sebagai bangsa yang berdaulat, bersatu, adil, bermartabat, dan mampu mengisi kemerdekaan dengan amal terbaik. Amin.(*/Red-Rhidayat/Tm).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *