Tjie Thien Ta Sen, Sosok Sun Wukong yang Menjadi Bagian dari Tradisi Kelenteng Tjie Thien Ta Sen Bio

Budaya56 Dilihat

DetikSR.id TANGERANG — Nama Tjie Thien Ta Sen atau Qitian Dashen memiliki tempat khusus dalam tradisi pemujaan di sejumlah kelenteng masyarakat Tionghoa. Sosok yang dalam dialek Hokkian dikenal sebagai Ce Thian Tay Seng atau Tay Seng Ya tersebut secara luas diidentikkan dengan tokoh Sun Wukong, Raja Kera dalam karya sastra klasik Tiongkok Xi You Ji atau Perjalanan ke Barat.

Dalam tradisi yang berkembang di masyarakat, Qitian Dasheng juga dikenal dengan sebutan Dasheng-ye dan Hou Qitian. Peringatan hari lahirnya secara tradisional jatuh pada tanggal 12 bulan 10 kalender Imlek

Di sejumlah komunitas, Qitian Dasheng dipercaya memiliki peran sebagai sosok pelindung, termasuk dalam kaitannya dengan anak-anak. Salah satu tradisi yang berkembang di Taiwan dan Fujian menyebut usia tertentu sebagai “Masa Kenakalan Kera”, yang dikaitkan dengan masa pertumbuhan anak.

Dalam tradisi tersebut, keluarga dapat datang ke altar pemujaan Qitian Dasheng untuk memohon perlindungan ketika anak mengalami gangguan kesehatan atau kondisi yang dianggap berkaitan dengan masa tersebut.

Sun Wukong dalam Xi You Ji

Qitian Dasheng dalam tradisi populer tidak terlepas dari sosok Sun Wukong, tokoh utama dalam novel klasik Xi You Ji atau Perjalanan ke Barat.

Karya sastra tersebut secara umum dikaitkan dengan Wu Cheng’en (1500–1582) pada masa Dinasti Ming. Cerita Xi You Ji mengambil latar perjalanan pendeta Buddha Xuanzang menuju India untuk memperoleh kitab suci pada masa Dinasti Tang.

Meski memiliki latar sejarah, kisah dalam Xi You Ji berkembang menjadi cerita sastra yang memadukan perjalanan, legenda, mitologi, dan unsur fantasi. Tokoh Sun Wukong kemudian menjadi salah satu karakter yang paling dikenal dalam kebudayaan Tiongkok dan masyarakat yang memiliki hubungan budaya dengan tradisi tersebut.

Sejumlah kisah mengenai tokoh kera sakti bahkan disebut telah muncul sebelum Xi You Ji ditulis. Literatur yang dikutip Kwa Tong Hay (2013) menyebut adanya kisah mengenai kera bernama Wu Zhixie dalam karya Li Tang yang dikaitkan dengan Li Gongzuo.

Sementara itu, tradisi sastra pada masa Dinasti Song juga mengenal kisah perjalanan Biksu Tang menuju Barat yang didampingi sosok kera sakti bernama Hou Xingzhe. Tokoh tersebut digambarkan berasal dari Gunung Huaguo dan memiliki kemampuan menaklukkan berbagai siluman.

Kisah-kisah terdahulu tersebut menjadi bagian dari latar perkembangan cerita yang kemudian dikenal luas melalui Xi You Ji.

Menggambarkan Watak Manusia

Selain menghadirkan kisah petualangan, Xi You Ji juga kerap dibaca sebagai cerita yang menggambarkan berbagai karakter dan kecenderungan manusia.

Xuanzang digambarkan sebagai sosok yang memiliki hati nurani dan keteguhan dalam menghadapi berbagai rintangan. Sun Wukong merepresentasikan karakter yang cerdik, berani, tetapi juga memiliki kecenderungan bertindak impulsif dan melakukan kesalahan.

Sementara itu, Zhu Bajie digambarkan memiliki sifat malas dan kurang bertanggung jawab, sedangkan Sha Seng dikenal sebagai sosok yang patuh meskipun mudah mengalami keputusasaan.

Karakter-karakter tersebut membuat Xi You Ji tidak hanya dikenal sebagai cerita perjalanan, tetapi juga sebagai karya yang memuat gambaran mengenai sifat dan perilaku manusia.

Sun Wukong dalam Budaya Populer

Popularitas Sun Wukong kemudian berkembang jauh melampaui karya sastra. Sosoknya hadir dalam berbagai bentuk kesenian, mulai dari lukisan, ukiran, pertunjukan opera, hingga berbagai ekspresi budaya lainnya.

Dalam tradisi masyarakat tertentu, Sun Wukong juga dipercaya memiliki kemampuan untuk melindungi lingkungan dari gangguan jahat. Karena itu, pemujaannya berkembang di berbagai wilayah.

Di Tiongkok daratan, pemujaan terhadap Sun Wukong antara lain berkembang di sejumlah wilayah Provinsi Fujian, termasuk Fuzhou dan Chaozhou. Tradisi pemujaan terhadapnya juga dikenal di Taiwan serta sejumlah negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, dan Indonesia.

Di beberapa daerah, altar pemujaan Sun Wukong bahkan dapat ditemukan di lingkungan keluarga maupun tempat ibadah.

Tjie Thien Ta Sen di Tangerang

Di Indonesia, Sun Wukong memiliki berbagai sebutan sesuai dengan tradisi dan dialek masyarakat setempat. Salah satunya adalah Tjie Thien Ta Sen, yang menjadi nama penting dalam tradisi di Kelenteng Tjie Thien Ta Sen Bio, Tangerang.

Kelenteng yang berada di Jalan Bouraq, Kota Tangerang, tersebut menjadi salah satu tempat pemujaan Tjie Thien Ta Sen dan memiliki tradisi perayaan Sejit atau hari kelahiran Yang Mulia Tjie Thien Ta Sen.

Peringatan tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan keagamaan dan budaya komunitas setempat. Dalam rangkaian perayaan 2026, Kelenteng Tjie Thien Ta Sen Bio juga menggelar Kirab Budaya dan Ruwat Bumi dengan tema “Semarak Harmoni Budaya & Tradisi”.

Kirab tersebut mempertemukan tradisi Tionghoa dengan berbagai kesenian Nusantara dan diikuti puluhan kelenteng, vihara, cetiya, komunitas budaya, serta kelompok kesenian.

Kehadiran Tjie Thien Ta Sen dalam rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari penghormatan terhadap tradisi keagamaan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sebuah tokoh dalam sastra klasik dapat berkembang menjadi bagian dari warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.

Dengan demikian, perjalanan kisah Sun Wukong dari literatur klasik hingga menjadi Tjie Thien Ta Sen dalam tradisi masyarakat menunjukkan adanya proses panjang perjumpaan antara sastra, kepercayaan, seni, dan kebudayaan yang diwariskan lintas generasi.(*/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *