TNI AU Bidik Tiga Airbus A330 MRTT, Masuk Renstra Untuk Perkuat Operasi Udara Jarak Jauh

Berita99 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, TNI Angkatan Udara (TNI AU) berencana memperkuat kemampuan operasi udara jarak jauh dengan mengakuisisi pesawat Airbus A330 Multi Role Tanker Transport (MRTT). Pesawat tanker multifungsi tersebut masuk dalam Rencana Strategis (Renstra) TNI AU.

Rencana itu diungkapkan Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (Wakil KSAU) Marsekal Madya TNI Tedi Rizalihadi saat meninjau pelaksanaan latihan bersama Pégase 2026 di Terminal Selatan Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada (23/9/2026).

“Sesuai dengan Renstra kita, memang kita akan memiliki MRTT,” kata Tedi.

Menurut Tedi, kebutuhan terhadap pesawat MRTT semakin relevan seiring dengan luasnya wilayah operasi Indonesia dan berkembangnya kekuatan pesawat tempur TNI AU. Ia menyebut, setidaknya tiga unit MRTT dibutuhkan untuk mendukung kebutuhan operasi udara TNI AU.

“Karena pesawat tempur kita sangat banyak,” ujarnya.

Bukan Sekadar Pesawat Pengisi Bahan Bakar

Tedi mengatakan kemampuan A330 MRTT yang ditunjukkan Angkatan Udara dan Antariksa Prancis atau French Air and Space Force (FASF) dalam Pégase 2026 memberikan gambaran mengenai kemampuan yang ingin dibangun TNI AU.

Dalam latihan tersebut, A330 MRTT tidak hanya berperan sebagai pesawat tanker yang memasok bahan bakar kepada pesawat tempur di udara. Pesawat ini juga memiliki kemampuan mendukung pengendalian dan koordinasi operasi.

Kemampuan tersebut memungkinkan mission commander berada langsung di dalam pesawat tanker selama operasi berlangsung. Dari dalam MRTT, komandan misi dapat berkomunikasi dengan berbagai unsur yang terlibat, termasuk pesawat tempur dan pesawat angkut.

“Tadi sudah ditunjukkan betapa sangat powerful dengan MRTT di mana mission commander bisa on board, kemudian juga bisa komunikasi dengan seluruh members, baik itu tempur, Rafale, dengan angkut, termasuk dengan negara asal,” kata Tedi.

Menurut dia, kemampuan komunikasi secara real-time tersebut menjadi salah satu aspek penting dari MRTT. Dengan dukungan sistem komunikasi, termasuk komunikasi satelit, komandan misi yang berada di udara tetap dapat terhubung dengan pusat komando di negara asal.

Dengan demikian, pesawat MRTT tidak hanya berfungsi sebagai tanker udara, tetapi juga dapat menjadi bagian dari sistem komando, kendali, komunikasi, dan koordinasi dalam sebuah operasi udara.

Kemampuan Air-to-Air Refueling Diuji di Pégase 2026

Kemampuan pengisian bahan bakar di udara atau Air-to-Air Refueling (AAR) menjadi salah satu materi utama dalam Pégase 2026.

Dalam latihan tersebut, pesawat A330 MRTT milik FASF digunakan untuk mendukung operasi pesawat tempur Rafale milik Prancis dan TNI AU. TNI AU menyebut latihan AAR tersebut bertujuan meningkatkan interoperabilitas sekaligus memperluas jangkauan operasional pesawat tempur.

Pesawat A330 MRTT yang digunakan Prancis memiliki kapasitas bahan bakar hingga sekitar 110 ton, sehingga memungkinkan pesawat tempur melakukan operasi dalam jarak dan durasi yang lebih panjang tanpa harus kembali ke pangkalan untuk mengisi bahan bakar.

Kemampuan tersebut menjadi penting bagi Indonesia yang memiliki wilayah geografis sangat luas dan membutuhkan kemampuan proyeksi kekuatan udara lintas wilayah.

Pégase 2026 Jadi Gambaran Kebutuhan TNI AU

Pégase 2026 menjadi kesempatan bagi TNI AU untuk melihat secara langsung bagaimana kombinasi A330 MRTT, Rafale, dan A400M digunakan dalam sebuah operasi udara terintegrasi.

Dalam misi tahun ini, Prancis mengerahkan empat Rafale, dua A400M Atlas, dan tiga A330 MRTT. Persinggahan di Indonesia berlangsung pada 20–25 September 2026 dan diisi dengan sejumlah kegiatan latihan bersama TNI AU.

Kementerian Pertahanan juga menyebut rangkaian latihan mencakup pengisian bahan bakar di udara menggunakan A330 MRTT, penerjunan taktis dari A400M, manuver pengawalan udara, serta pertukaran keahlian antara personel kedua angkatan udara.

Bagi TNI AU, pengalaman tersebut sekaligus memberikan gambaran mengenai pentingnya pesawat tanker strategis dalam mendukung operasi udara modern.

“Jadi ini ke depan kita berharap tentunya segera akan mengakuisisi MRTT seperti itu,” ujar Tedi.

Memperpanjang Jangkauan Operasi Pesawat Tempur

Pengadaan MRTT pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan penambahan satu jenis alutsista baru. Kehadiran pesawat tersebut akan berkaitan langsung dengan kemampuan TNI AU dalam memperpanjang daya jelajah dan endurance pesawat tempur, terutama dalam operasi yang membutuhkan waktu terbang panjang dan jarak yang jauh.

Dengan adanya kemampuan pengisian bahan bakar di udara, pesawat tempur tidak sepenuhnya bergantung pada kapasitas bahan bakar internal untuk menentukan jarak operasinya. Pesawat tanker dapat menjadi force multiplier yang memungkinkan pesawat tempur mempertahankan keberadaannya di udara lebih lama.

Selain fungsi tanker, kemampuan membawa personel dan kargo serta mendukung koordinasi operasi menjadikan MRTT sebagai platform multifungsi.

Airbus mencatat A330 MRTT telah dipesan oleh sejumlah negara dan organisasi pertahanan, termasuk Australia, Inggris, Prancis, Singapura, Korea Selatan, Kanada, serta NATO. Hingga April 2026, Airbus menyebut terdapat 85 unit yang telah dipesan oleh 17 pelanggan.

Bagi Indonesia, rencana pengadaan MRTT tersebut akan menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan operasi udara dalam menghadapi karakter geografis Indonesia yang membentang sangat luas.

Namun, pernyataan Tedi mengenai MRTT saat ini merupakan rencana yang tercantum dalam Renstra dan arah pengembangan kemampuan TNI AU. Realisasi pengadaan tetap bergantung pada proses perencanaan dan pengadaan alat utama sistem persenjataan pemerintah.

Jika terealisasi, sedikitnya tiga unit A330 MRTT akan memberikan kemampuan baru bagi TNI AU, bukan hanya dalam hal pengisian bahan bakar pesawat tempur di udara, tetapi juga dalam mendukung mobilitas, koordinasi, serta pelaksanaan operasi udara jarak jauh secara lebih terintegrasi.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *