Wakil Ketua MPR RI HNW Dukung Dialog Koalisi Makkah–Iran, Dorong OKI Satukan Diplomasi Perdamaian dan Perjuangan Palestina

Berita61 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Hidayat Nur Wahid (HNW), mendukung dialog diplomatik antara Iran dan Koalisi Makkah yang melibatkan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan. Dialog yang dijadwalkan berlangsung di Teheran, Iran, itu diharapkan menjadi langkah konkret untuk meredakan ketegangan Timur Tengah, melindungi warga sipil, menjaga keamanan dua kota suci umat Islam, serta memperkuat persatuan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Dalam keterangan tertulis di Jakarta, pada (27/10/2026). HNW menegaskan bahwa dialog diplomatik harus menghasilkan langkah nyata untuk menghentikan eskalasi konflik dan mencegah meluasnya pertikaian di kawasan. Menurutnya, komunikasi antarpihak yang memiliki pengaruh terhadap dinamika keamanan Timur Tengah perlu dimanfaatkan sebagai jalan penyelesaian damai, bukan sekadar pertemuan politik tanpa tindak lanjut.

“Dialog Koalisi Makkah dengan Iran tersebut juga dapat diharapkan menjadi langkah diplomatik konstruktif untuk meredakan ketegangan eskalatif antara kelompok Houthi di Yaman dengan pemerintah Arab Saudi, sehingga dapat memulihkan kedaulatan negara-negara anggota OKI, dengan dihentikannya peperangan dan serangan yang menarget sasaran sipil termasuk jemaah umrah, serta dapat menjaga bersama kesucian Makkah dan Madinah dari ancaman serangan militer, sehingga umat Islam, termasuk dari Indonesia, bisa beribadah umrah dan haji dengan tenang,” ujar HNW.

Menurut HNW, dialog tersebut merupakan tindak lanjut penting dari pernyataan bersama para menteri luar negeri negara-negara Koalisi Makkah dalam pertemuan di Turki. Pernyataan itu, sebagaimana disampaikan HNW, menyoroti tindakan Israel sebagai salah satu sumber ketidakstabilan kawasan sekaligus menegaskan dukungan terhadap solusi dua negara (two-state solution), dengan Palestina merdeka dan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

HNW menilai, komitmen politik tersebut harus diterjemahkan menjadi kerja diplomatik yang terkoordinasi, termasuk melalui dialog dengan Iran untuk membangun kesepahaman, mengurangi risiko salah perhitungan militer, dan mendorong penghentian serangan terhadap sasaran sipil.

“Pernyataan bersama dan pertemuan Koalisi Makkah dengan Iran itu tentu patut diapresiasi dan didukung, terutama untuk meredakan ketegangan, menghadirkan perdamaian dan kedaulatan, serta menguatkan komitmen negara-negara OKI pada umumnya dan negara-negara Teluk pada khususnya, untuk kembali fokus membantu rakyat Palestina dari kejahatan genosida dan penjajahan Israel,” paparnya.

HNW mengingatkan agar konflik Timur Tengah tidak memperlebar perpecahan di antara negara-negara Islam. Perbedaan kepentingan politik dan keamanan, menurutnya, tidak boleh menggeser agenda bersama untuk melindungi warga sipil, menjaga kedaulatan negara, dan memperjuangkan hak rakyat Palestina.
Ia juga meminta negara-negara anggota OKI tidak terjebak dalam persaingan geopolitik yang justru melemahkan solidaritas dunia Islam.

“Agar negara-negara tersebut juga tidak terjebak pada skenario Israel yang ingin memecah belah dan mengadu domba negara-negara anggota OKI yang sama-sama memiliki sikap dasar menolak kejahatan dan penjajahan Israel serta mendukung kemerdekaan bangsa Palestina,” lanjutnya.

HNW mendorong OKI mengambil peran lebih aktif dalam mengoordinasikan berbagai inisiatif diplomatik, baik bilateral maupun multilateral. Sebagai organisasi internasional dengan anggota yang tersebar di berbagai kawasan, OKI dinilai memiliki ruang diplomasi yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong stabilitas regional sekaligus memperkuat dukungan internasional bagi kemerdekaan Palestina.

Ia berharap Sekretaris Jenderal OKI yang baru menjadikan diplomasi perdamaian, perlindungan kedaulatan negara anggota, penyelamatan Masjid Al Aqsa, dan kemerdekaan Palestina sebagai prioritas utama.

“Peran OKI yang utama adalah menjaga kedaulatan dan perdamaian negara-negara anggotanya, serta menghadirkan Palestina merdeka dengan ibu kota di Yerusalem Timur, dan menyelamatkan Masjid Al Aqsa. Begitulah tujuan awal dibentuknya OKI,” tegasnya.

Selain mendorong persatuan diplomatik, HNW menyoroti serangan kelompok Houthi terhadap sasaran di Arab Saudi yang, menurutnya, berisiko membahayakan warga sipil dan mengganggu keamanan jemaah haji serta umrah.

Ia menegaskan, Makkah dan Madinah memiliki kedudukan istimewa bagi seluruh umat Islam. Karena itu, perlindungan kedua kota suci tersebut harus menjadi kepentingan bersama, terlepas dari perbedaan mazhab, afiliasi politik, maupun kepentingan geopolitik.

Menurut HNW, keselamatan jemaah dan kelancaran ibadah haji serta umrah semestinya menjadi titik temu bagi seluruh pihak yang berkonflik. Kesucian kedua kota itu juga dapat menjadi landasan diplomasi lunak (soft diplomacy) untuk membangun kepercayaan dan membuka jalan bagi penyelesaian damai.

“Semua negara dan kelompok yang bertikai pasti tidak ingin merugikan dan merusak ibadah haji dan umrah, serta selalu ingin menghormati dan menjaga kesucian dan keamanan Makkah dan Madinah. Pertemuan dengan Iran yang secara politik memiliki kedekatan dengan kelompok Houthi ini diharapkan bisa menghadirkan solusi yang diharapkan,” ujarnya.

HNW meminta seluruh negara anggota OKI mendorong penghentian serangan dan peperangan yang mengancam masyarakat sipil maupun pelaksanaan ibadah di kedua kota suci tersebut.

“Semua negara anggota OKI bersama-sama harus dapat mengakhiri serangan dan peperangan ini, agar ibadah haji dan umrah beserta dua kota suci Makkah dan Madinah selalu terjaga dan aman, serta jemaah tidak terhalang melaksanakan ibadah akibat berlanjutnya perang dan adanya serangan terhadap kedua kota suci tersebut,” imbuhnya.

HNW menegaskan bahwa upaya meredakan konflik regional harus berjalan seiring dengan perjuangan mengakhiri penjajahan Israel dan melindungi rakyat Palestina. Ia menyoroti situasi kemanusiaan di Jalur Gaza serta berbagai ancaman terhadap hak-hak rakyat Palestina di wilayah lainnya, termasuk ancaman terhadap Masjid Al Aqsa.

Baginya, dialog Koalisi Makkah–Iran dapat menjadi momentum untuk menyatukan kembali agenda negara-negara Islam. Perbedaan kepentingan strategis tidak semestinya mengalihkan perhatian dari kebutuhan mendesak untuk melindungi warga sipil, menghentikan kekerasan, dan mewujudkan kemerdekaan Palestina.

“Jadi, pertemuan Koalisi Makkah bersama Iran ini bisa menjadi pelopor agar OKI dapat memfokuskan negara-negara anggotanya untuk kembali mewujudkan tujuan didirikannya OKI, yakni mempersatukan dan memperkuat kerja sama antarnegara anggota, menyelamatkan Masjid Al Aqsa, serta menghadirkan kemerdekaan bagi Palestina. Hal-hal tersebut tentunya juga sejalan dengan komitmen Koalisi Makkah dan mitra dialognya, yakni Iran,” pungkasnya.

Pertemuan yang dijadwalkan berlangsung di Teheran itu disebut akan melibatkan sejumlah pejabat tinggi dari negara-negara terkait, antara lain Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman, Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir, Kepala Intelijen Turki Ibrahim Kalin, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, serta Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei.

Bagi HNW, keberhasilan dialog tersebut akan ditentukan oleh kemampuannya menghasilkan komitmen konkret untuk menurunkan eskalasi, menghentikan serangan terhadap warga sipil, menjaga keamanan kawasan, dan memperkuat kerja sama kemanusiaan.

Lebih dari itu, momentum diplomatik ini diharapkan dapat mendorong OKI kembali memainkan peran strategis dalam membangun perdamaian regional sekaligus memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *