Wamenpar Ni Luh Puspa: Koordinasi Dengan Kemlu Perkuat Koordinasi Diplomatik, Jamin Keamanan Wisatawan

Nasional214 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata terus merespons secara serius peringatan perjalanan (travel warning) yang dikeluarkan oleh pemerintah Korea Selatan terhadap destinasi wisata di Indonesia, khususnya Pulau Bali.

Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa menegaskan bahwa pihaknya saat ini aktif menjalin koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia guna merespons situasi tersebut secara diplomatis dan strategis.
Dalam keterangannya di Jakarta pada, (11/4/2026) Ni Luh Puspa menyampaikan bahwa pendekatan yang dilakukan pemerintah tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga diplomatik. “Kami akan terus berkoordinasi dengan Kemlu, termasuk melakukan pendekatan dengan pemerintah Korea Selatan agar situasi ini dapat dipahami secara objektif,” ujarnya.

Di tengah munculnya travel warning tersebut, Kementerian Pariwisata mencatat bahwa tren kunjungan wisatawan asal Korea Selatan ke Indonesia justru masih menunjukkan peningkatan. Hal ini menjadi indikator bahwa minat wisatawan terhadap destinasi Indonesia tetap tinggi, meskipun terdapat kekhawatiran terkait isu keamanan.

Korea Selatan sendiri selama ini merupakan salah satu pasar utama pariwisata Indonesia, yang secara konsisten masuk dalam daftar 10 besar negara penyumbang wisatawan mancanegara (wisman). Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen menjaga kepercayaan wisatawan dari negara tersebut.

Ni Luh Puspa berharap, meskipun terdapat peringatan perjalanan, arus kunjungan wisatawan asal Korea Selatan dapat tetap terjaga bahkan terus meningkat. “Kami berharap kunjungan wisman dari Korea Selatan tetap kuat dan stabil,” tambahnya.

Sebelumnya, Kedutaan Besar Korea Selatan mengeluarkan travel warning pada Rabu (01/04/2026) melalui situs resminya dengan judul “Peringatan Keamanan tentang Pencegahan Kejahatan Serius.” Peringatan ini ditujukan kepada warga negara Korea Selatan yang berencana berkunjung ke Bali.

Dalam peringatan tersebut, pemerintah Korea Selatan menyoroti sejumlah kasus kejahatan serius yang disebut menargetkan warga negara asing, seperti pembunuhan, penculikan, hingga pelecehan seksual. Beberapa wilayah yang disebut secara spesifik antara lain Jimbaran, Seminyak, dan Canggu yang dikenal sebagai kawasan favorit wisatawan internasional.

Selain itu, otoritas Korea Selatan juga menyoroti ketidakseimbangan antara lonjakan jumlah wisatawan dengan sistem keamanan yang dinilai belum optimal, terutama dalam menangani potensi kejahatan transnasional.

Menanggapi hal tersebut, Kepolisian Daerah Bali menegaskan bahwa kondisi keamanan di Bali tetap dalam keadaan aman dan kondusif.

Kepala Kepolisian Daerah Bali, Daniel Adityajaya, menyampaikan bahwa pihaknya memahami kekhawatiran yang disampaikan pemerintah Korea Selatan, namun menekankan bahwa aparat keamanan terus bekerja secara maksimal.

Dalam keterangannya di Denpasar, Daniel menyebutkan bahwa berbagai langkah preventif dan represif telah dilakukan untuk menjamin keamanan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Peningkatan patroli, pengawasan kawasan wisata, serta kerja sama dengan berbagai pihak menjadi bagian dari upaya tersebut.
“Kami memastikan bahwa Bali tetap aman bagi seluruh wisatawan. Aparat kepolisian terus meningkatkan kewaspadaan dan pelayanan demi menjaga rasa aman,” tegasnya.

Kasus ini menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia mengingat Bali merupakan ikon utama pariwisata nasional yang berkontribusi besar terhadap perekonomian negara. Travel warning dari negara mitra strategis seperti Korea Selatan berpotensi memengaruhi persepsi global terhadap keamanan destinasi wisata di Indonesia.

Oleh karena itu, sinergi antara Kementerian Pariwisata, Kementerian Luar Negeri, serta aparat keamanan dinilai menjadi kunci dalam menjaga citra positif Indonesia di mata dunia. Pendekatan diplomasi yang intensif diharapkan mampu memberikan klarifikasi serta membangun kembali kepercayaan wisatawan internasional.

Di sisi lain, pemerintah juga diharapkan terus memperkuat sistem keamanan di destinasi wisata unggulan, termasuk melalui peningkatan pengawasan, teknologi keamanan, serta koordinasi lintas lembaga.

Ke depan pemerintah optimistis bahwa situasi ini dapat ditangani dengan baik tanpa berdampak signifikan terhadap sektor pariwisata nasional. Dengan komunikasi yang terbuka, transparansi informasi, serta langkah konkret dalam menjaga keamanan, Indonesia diyakini mampu mempertahankan posisinya sebagai destinasi wisata unggulan dunia.

Wamenpar Ni Luh Puspa menegaskan bahwa pemerintah akan terus memantau perkembangan situasi dan memastikan bahwa wisatawan, khususnya dari Korea Selatan, tetap merasa aman dan nyaman saat berkunjung ke Indonesia.
“Kami akan terus bekerja keras agar kepercayaan wisatawan tetap terjaga dan pariwisata Indonesia terus tumbuh,” tutupnya.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *