Wedaran Sastrajendra Usung Tema “Cahaya Januari” Ruang Dialog Batin dan Intelektual

Budaya457 Dilihat

DetikSR.id Depok 4 Januari 2026 – Wedaran Sastrajendra bertema “Cahaya Januari” berlangsung dengan khidmat dan penuh kehangatan pada 3–4 Januari 2026. Kegiatan ini bertempat di Kamar Unik Olshop, Jl. Wadas Raya 7A RT 03 RW 14, Pitara, Pancoran Mas, Depok Baru, menjadi wadah pertemuan batin, perenungan mendalam, serta penguatan nilai-nilai kearifan leluhur yang terus hidup dan menyatu dengan alam semesta.

Acara dibuka secara resmi oleh Sekretaris Sastrajendra, Rohmani, yang dalam sambutannya menekankan bahwa tema Cahaya Januari melambangkan awal perjalanan kesadaran di tahun yang baru. Menurutnya, Januari bukan sekadar penanda pergantian waktu, tetapi juga momentum untuk menyalakan kembali cahaya batin, menata niat, serta menumbuhkan kesadaran akan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, alam, dan warisan budayanya.

 “Cahaya Januari adalah ajakan bagi kita semua untuk kembali merenung, mengenali diri, dan menyelaraskan langkah. Wedaran Sastrajendra bukan sekadar forum, melainkan ruang kesadaran yang menghubungkan pengetahuan, perasaan, dan tindakan nyata dalam hidup,” kata Rohmani dalam sambutan pembukaannya.

Ia menambahkan bahwa Wedaran Sastrajendra selalu dihadirkan sebagai ruang dialog batin dan intelektual, tempat nilai-nilai luhur diwariskan secara hidup, tidak hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui teladan, kebersamaan, dan ketulusan dalam tindakan sehari-hari.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Bambang Eko Priyono, selaku tuan rumah. Dengan tulus, ia membuka rumahnya sebagai ruang yang hangat dan bersahaja untuk berlangsungnya Wedaran Sastrajendra. Bambang Eko Priyono mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya bisa menjadi bagian dari acara kebudayaan dan spiritual yang bermakna ini.

“Rumah ini kami buka dengan niat baik, sebagai ruang persaudaraan. Apa yang tumbuh di sini adalah semangat kebersamaan, saling belajar, dan saling menguatkan. Inilah cerminan kearifan leluhur kita, warisan budaya yang tak lekang oleh waktu, tetapi terus hidup bersama alam semesta,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa rumah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang hidup tempat nilai, kasih, dan kebijaksanaan tumbuh bersama. Dalam konteks inilah Wedaran Sastrajendra menemukan maknanya sebagai ruang budaya yang hidup dan membumi.

Selama dua hari pelaksanaan, Wedaran Sastrajendra “Cahaya Januari” diisi dengan serangkaian wedaran, perenungan, dialog kebudayaan, serta penghayatan nilai-nilai spiritual yang berakar pada kearifan Nusantara. Suasana berlangsung akrab, hangat, dan penuh persaudaraan, menciptakan ruang aman bagi para peserta untuk menyelami makna, berbagi pandangan, serta memperdalam kesadaran diri.

Tema Cahaya Januari dimaknai sebagai sinar awal yang membimbing langkah sepanjang tahun, mengajak setiap insan untuk hidup lebih selaras dengan hati nurani, alam, dan nilai-nilai luhur warisan leluhur. Cahaya ini tidak dipahami sebagai kemilau yang menyilaukan, melainkan cahaya hening yang menumbuhkan kebijaksanaan, kepekaan batin, dan kejernihan sikap.

Wedaran Sastrajendra kembali menegaskan perannya sebagai ruang kebudayaan dan spiritual yang merawat ingatan kolektif, mempertemukan manusia dalam kesadaran yang lebih utuh, serta menjaga agar nilai-nilai luhur Nusantara tetap hidup, relevan, dan menerangi perjalanan zaman.

Dengan berakhirnya rangkaian Wedaran pada 4 Januari 2026, para peserta membawa pulang bukan hanya pengetahuan, tetapi juga pengalaman batin, kehangatan persaudaraan, serta cahaya kesadaran yang diharapkan terus bersinar dalam kehidupan sehari-hari.

Rangkaian Wedaran Sastrajendra kemudian berlanjut dengan Diskusi Pendalaman Penguasaan Bumi dan Geni, yang dirangkai dengan ritual patigeni dan jamasan bersama, dipimpin langsung oleh Anggoro, tokoh penggerak laku spiritual dan kebudayaan Nusantara. Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat dan penuh makna, menghadirkan suasana perenungan mendalam bagi seluruh peserta.

 Diskusi ini bukan hanya menjadi forum bertukar pikiran, tetapi juga ruang penyadaran kolektif mengenai hubungan manusia dengan unsur dasar kehidupan. Bumi dimaknai sebagai simbol pijakan, keteguhan, dan keberlanjutan hidup, sementara Geni (api) dipahami sebagai lambang daya, kesadaran, dan transformasi batin. Dalam pemaparannya.

Anggoro menekankan bahwa penguasaan unsur bukanlah bentuk dominasi, melainkan pengendalian diri, penyelarasan perasaan, dan pematangan kesadaran.

“Bumi mengajarkan kita tentang keteguhan, kesabaran, dan keikhlasan menerima. Geni mengajarkan keberanian, kejernihan niat, serta kemampuan mengolah amarah dan nafsu menjadi daya cipta,” tegas Anggoro dalam penyampaian yang dialogis dan reflektif.

Para peserta diajak memahami bahwa penguasaan unsur alam sebenarnya berakar pada olah rasa, olah jiwa, dan tanggung jawab moral, bukan semata-mata praktik simbolik atau ritual belaka.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ritual Patigeni, sebuah laku spiritual yang dikenal sebagai proses pengendapan diri melalui keheningan, pengendalian pancaindra, serta pembatasan unsur api dan cahaya. Ritual ini dijalani sebagai sarana penjernihan batin, penguatan niat, dan penyatuan kesadaran antara lahir dan batin. Dalam suasana yang hening dan tertib, para peserta mengikuti setiap tahapan dengan penuh kesungguhan, dipandu langsung oleh Anggoro.

Sebagai penutup dilaksanakan jamasan bersama, sebuah prosesi penyucian yang dimaknai tidak hanya sebagai pembersihan fisik, tetapi juga sebagai momentum pembaruan niat dan kesadaran untuk menjalani hidup dengan sikap yang lebih arif, seimbang, dan bertanggung jawab.

Ia menambahkan bahwa diskusi dan ritual semacam ini bukanlah praktik mistik semata, melainkan bagian dari warisan pengetahuan spiritual Nusantara yang mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Ia berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi jembatan bagi generasi masa kini untuk kembali mengenali akar kebudayaannya tanpa kehilangan nalar kritis dan nilai kemanusiaan.

Eka Widya, salah satu coach, menambahkan bahwa terselenggaranya ruang pembelajaran ini tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga menyentuh dimensi batin dan kesadaran diri. Melalui kegiatan ini, nilai-nilai kebijaksanaan lokal kembali dihidupkan sebagai bekal menghadapi tantangan zaman, dengan harapan terciptanya manusia yang tidak tercerabut dari bumi tempat berpijak, sekaligus mampu menyalakan api kesadaran dalam dirinya secara bijak dan bertanggung jawab, tutup Eka Widya.(Red/Ervinna)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *