Mendagri Tito Dorong IMT-GT Hasilkan Program dan Proyek Konkret Untuk Kesejahteraan Masyarakat

Berita35 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mendorong kerja sama Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) agar tidak berhenti pada forum dialog dan pertemuan antarpemerintah.

Menurutnya, kerja sama kawasan tersebut perlu diarahkan pada lahirnya program dan proyek konkret, terukur, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di ketiga negara.

Pesan tersebut disampaikan Tito saat memberikan sambutan pada Gala Dinner Pertemuan Tingkat Menteri (Ministerial Meeting) IMT-GT ke-32 yang berlangsung di Hotel JW Marriott, Kota Medan, Sumatera Utara, pada (9/9/2026).

Tito mengatakan, keberhasilan IMT-GT tidak hanya dapat diukur dari intensitas pertemuan dan komunikasi antarpemerintah, tetapi juga dari sejauh mana berbagai gagasan yang dibahas mampu diterjemahkan menjadi kerja sama nyata.

“Pertanyaannya adalah bagaimana kita mewujudkannya? Bagaimana kita mengubah visi menjadi kenyataan? Inilah persoalan yang sebenarnya,” ujar Tito dalam keterangan tertulis yang diterima pada (10/9/2026).

Menurut Tito, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam mendorong implementasi berbagai kesepakatan IMT-GT.

Karena itu, diperlukan kolaborasi yang lebih kuat dan berkelanjutan antara pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha, serta pemangku kepentingan lainnya.

Salah satu bentuk kolaborasi yang dapat dikembangkan, kata Tito, adalah kerja sama antardaerah melalui konsep sister city atau kota kembar maupun sister province atau provinsi kembar.
Skema tersebut dapat mempertemukan daerah-daerah yang memiliki kesamaan potensi, kepentingan ekonomi, maupun karakteristik geografis di Indonesia, Malaysia, dan Thailand.

“Hubungan antardaerah harus terus diperkuat sehingga kerja sama regional tidak hanya berlangsung di tingkat pemerintah pusat, tetapi juga dapat dirasakan dan dijalankan langsung oleh masyarakat di daerah,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Tito juga menyoroti besarnya potensi ekonomi kawasan IMT-GT, khususnya hubungan antara Malaysia, Thailand, dan Pulau Sumatera.

Menurutnya, ketiga kawasan memiliki berbagai modal strategis yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan daya saing dan pertumbuhan ekonomi regional.
Potensi tersebut mencakup jumlah penduduk yang besar, ketersediaan sumber daya alam, tenaga kerja produktif, serta beragam komoditas unggulan.
Sumatera, misalnya, memiliki sekitar 63 juta penduduk dengan proporsi usia produktif yang besar.

Kondisi tersebut menjadi modal penting dalam pengembangan industri, perdagangan, investasi, hingga sektor jasa.
Selain faktor demografi, Sumatera juga memiliki kekayaan sumber daya alam yang beragam, mulai dari minyak dan gas bumi, emas, hingga berbagai komoditas pertanian dan perkebunan.

Tito menilai posisi geografis Sumatera yang relatif dekat dengan Malaysia dan Thailand semakin memperkuat peluang pengembangan kerja sama ekonomi lintas batas. Kedekatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat perdagangan, investasi, konektivitas transportasi, pariwisata, industri, serta rantai pasok regional.

“Potensi ini harus kita lihat sebagai kekuatan bersama yang dapat dikembangkan melalui kerja sama yang saling menguntungkan,” ujarnya.

Salah satu sektor yang menjadi perhatian Tito adalah komoditas karet. Malaysia dan Thailand memiliki sejarah panjang sebagai negara penghasil karet, sementara sejumlah wilayah di Sumatera juga dikenal sebagai sentra produksi komoditas tersebut.

Menurutnya, kesamaan potensi tersebut dapat menjadi peluang untuk membangun kerja sama yang lebih terintegrasi, terutama dalam meningkatkan nilai tambah komoditas.

Tito mendorong agar kerja sama karet tidak hanya berorientasi pada perdagangan bahan mentah. Sebaliknya, negara-negara anggota IMT-GT perlu mengembangkan industri pengolahan dan produk turunan sehingga menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Dengan penguatan hilirisasi, kerja sama kawasan diharapkan tidak sekadar meningkatkan volume perdagangan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri lokal, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mendorong investasi.

“Jangan hanya melihat sumber daya alam sebagai bahan mentah. Kita harus mampu mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi,” tegasnya.

Tito menekankan bahwa pemerintah daerah memiliki posisi penting dalam memastikan berbagai peluang kerja sama IMT-GT dapat diterjemahkan menjadi proyek yang konkret.

Menurutnya, para kepala daerah dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand perlu memanfaatkan forum IMT-GT untuk membangun komunikasi secara langsung, mengidentifikasi potensi kerja sama, serta menyusun agenda bersama yang dapat ditindaklanjuti.

Ia mendorong para gubernur, wakil gubernur, dan pemimpin daerah dari ketiga negara untuk tidak hanya menjadikan forum tersebut sebagai ajang pertemuan formal, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun jaringan kerja sama jangka panjang.

“Jadi, ini bisa menjadi wadah yang baik bagi Anda untuk saling mengenal, meskipun mungkin hanya untuk satu atau dua hari. Setidaknya, Anda mendapatkan teman baru,” ujar Tito.

Ia berharap hubungan personal dan kelembagaan yang terbangun di antara para pemimpin daerah dapat menjadi pintu masuk bagi berbagai bentuk kerja sama baru, termasuk perdagangan, investasi, pendidikan, pariwisata, kebudayaan, konektivitas, dan pengembangan sektor-sektor ekonomi potensial.

Lebih jauh, Tito menilai keberhasilan IMT-GT pada akhirnya harus tercermin dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, setiap kesepakatan yang dihasilkan perlu memiliki tindak lanjut yang jelas, indikator keberhasilan yang terukur, serta manfaat yang dapat dirasakan secara langsung.

“Kerja sama regional akan memiliki arti yang lebih besar apabila mampu menghasilkan program dan proyek yang konkret serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” katanya.

Gala Dinner Pertemuan Tingkat Menteri IMT-GT ke-32 tersebut turut dihadiri Menteri Ekonomi Malaysia Akmal Nasrullah bin Mohd Nasir, Gubernur Sumatera Utara Bobby Afif Nasution, Vice Minister for the Office of the Prime Minister Thailand Thanadit Raktabutr, serta sejumlah pejabat pemerintah dan pemangku kepentingan terkait dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama ekonomi dan pembangunan di kawasan IMT-GT sekaligus mendorong agar berbagai potensi yang dimiliki ketiga negara dapat dikembangkan melalui kolaborasi yang lebih konkret, inklusif, dan berkelanjutan.

Ervinna

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *