Data BI: Keyakinan Konsumen Masih Optimistis, Tapi Ekspektasi Ekonomi Mulai Turun, Rakyat Kian Cemas

Berita58 Dilihat

DetikSR.id JAKARTA Rabu. 13 – Mei – 2026 – Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA) Samuel F Silaen nilai keyakinan konsumen Indonesia April 2026 masih optimistis, tapi mulai dibayangi kekhawatiran terhadap prospek ekonomi beberapa bulan ke depan.

Hal itu disampaikan menanggapi Survei Konsumen Bank Indonesia yang catat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 di level 123,0.

IKK Naik Tipis, Tapi Ekspektasi Turun
Samuel bilang angka 123,0 menunjukkan masyarakat masih percaya pada ekonomi nasional karena indeks di atas 100. Tapi ada sinyal perlambatan yang tidak boleh dianggap sepele, terutama pada ekspektasi penghasilan, lapangan kerja, dan aktivitas usaha.

“Kita lihat data BI, keyakinan konsumen masih optimistis. Tapi optimisme itu sekarang lebih hati-hati. Ada kewaspadaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi beberapa bulan mendatang,” ujar Samuel, Senin (12/5/2026).

Kenaikan tipis IKK dari 122,9 ke 123,0 belum cerminkan pemulihan kuat. Sebab, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) justru turun jadi 129,6 dari 130,4 bulan sebelumnya.

“Kondisi ini gambarkan masyarakat masih was-was. Banyak pihak mulai ragu apakah situasi bisa bertahan 6 bulan ke depan,” katanya.

Pelaku Usaha Juga Menahan Diri
Samuel soroti turunnya Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha (IEKU) yang jadi indikator penting sentimen dunia usaha. Dalam 4 bulan pertama 2026, indeks turun tajam dari 135,3 ke 124,1.

Penurunan itu bisa dipicu tekanan ekonomi global, fluktuasi harga energi dan pangan impor, nilai tukar rupiah, hingga daya beli masyarakat yang melemah.

“Pelaku usaha dan masyarakat sama-sama baca adanya ketidakpastian global yang berdampak ke ekonomi dalam negeri. Geopolitik, harga kebutuhan pokok, dan pasar tenaga kerja pengaruhi psikologi ekonomi,” jelasnya.

Ia minta pemerintah jaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan perkuat penciptaan lapangan kerja. Kalau tren penurunan ekspektasi dibiarkan, konsumsi rumah tangga yang jadi penopang ekonomi bisa terdampak.

“Kalau masyarakat tahan belanja karena khawatir ekonomi memburuk, pertumbuhan nasional juga bisa melambat,” tegasnya.

Meski begitu, Samuel bilang kondisi belum mengkhawatirkan karena semua indeks masih di zona optimistis. Tapi pemerintah jangan terlena angka pertumbuhan tanpa baca psikologi masyarakat di level grassroots yang mulai lebih hati-hati.

“Optimisme masih ada karena subsidi pemerintah. Tapi subsidi bukan gratis, didapat dari utang luar negeri yang hampir Rp10.000 triliun. Sekarang harus dibarengi sikap waspada dan kehati-hatian tinggi,” pungkasnya.
(Red/erk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *