Dialog dengan MUI: Pandji Pragiwaksono Tegaskan Tetap Berkarya dengan Empati dan Tanggung Jawab Sosial dan Evaluasi Diri

Berita204 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Tetap berkarya, Pandji ingatkan komika maknai karya dengan empati dan komitmen perbaikan. Komika sekaligus kreator konten Pandji Pragiwaksono menegaskan komitmennya untuk terus berkarya di dunia komedi, sembari mengingatkan pentingnya memaknai setiap karya dengan empati dan tanggung jawab sosial. Penegasan tersebut disampaikannya usai bersilaturahmi dan melakukan tabayun dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait polemik pertunjukan stand-up comedy bertajuk Mens rea.

Pandji mendatangi kantor MUI di Jakarta, (3/2/2026) untuk berdialog secara langsung mengenai pertunjukan tersebut yang sempat menuai beragam tanggapan dari masyarakat.

Kehadirannya disambut oleh Prof. Kiai Haji Asrarul Niam beserta sejumlah perwakilan MUI. Pertemuan berlangsung dalam suasana terbuka, hangat, dan penuh keakraban.
Dalam dialog tersebut, Pandji dan jajaran MUI bahkan sempat menonton pertunjukan Mens rea bersama-sama sebelum membahasnya lebih jauh. Langkah ini menjadi bagian dari upaya tabayun agar diskusi dilakukan berdasarkan pemahaman yang utuh terhadap materi pertunjukan.

Pandji mengungkapkan bahwa pertemuan tersebut menjadi ruang refleksi penting baginya sebagai seorang kreator. Ia menyadari bahwa setiap karya yang hadir di ruang publik selalu memiliki dampak yang luas dan karenanya perlu dievaluasi secara berkelanjutan.
“Intinya saya berdialog. Kami sempat menonton pertunjukannya bareng-bareng, lalu berdiskusi. Saya diingatkan bahwa sebagai orang yang berkarya tentu selalu ada ruang untuk jadi lebih baik lagi,” ujar Pandji.

Menurutnya, komedi bukan sekadar sarana hiburan, tetapi juga medium komunikasi yang bersentuhan langsung dengan nilai, pandangan, dan perasaan masyarakat. Oleh karena itu, dalam proses kreatif, seorang komika perlu mempertimbangkan sensitivitas sosial dan empati terhadap sebanyak mungkin pihak.
“Komedi itu karya publik. Tujuannya menghibur masyarakat luas.

Maka, penting bagi kami para komika untuk memikirkan dampaknya dan berusaha memahami perasaan banyak orang,” tambahnya.
Meski demikian, Pandji menegaskan bahwa polemik tersebut tidak membuatnya berhenti berkarya. Ia memastikan akan tetap melanjutkan perjalanan kreatifnya di dunia stand-up comedy.

Namun, sebagai bentuk refleksi dan komitmen perbaikan, Pandji memutuskan untuk tidak lagi menggunakan judul Mens rea dalam pertunjukan-pertunjukan selanjutnya.
“Tidak ada pertunjukan dengan judul Mens rea lagi, tapi bukan berarti saya berhenti berkarya. Saya akan terus bikin pertunjukan, hanya judulnya selalu berganti,” tegasnya.

Pandji berharap peristiwa ini dapat menjadi pembelajaran bersama, tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi para pelaku seni dan komika di Indonesia. Ia mengajak insan kreatif untuk terus menghadirkan karya yang relevan, peka terhadap keberagaman pandangan publik, serta disertai komitmen untuk terus memperbaiki diri.

Dengan dialog terbuka dan sikap saling mendengarkan, Pandji meyakini bahwa ruang seni dan kebudayaan dapat tetap tumbuh secara sehat, inklusif, dan berkontribusi positif bagi masyarakat luas.

Red-Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *