Erick Thohir Tantang Suporter Penuhi Tribun Indonesia Women’s League, PSSI dan Klub Berkomitmen Lima Tahun

Berita146 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Ketua Umum PSSI sekaligus Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir mengajak masyarakat, khususnya para suporter sepak bola, untuk tidak sekadar menuntut hadirnya kompetisi sepak bola wanita, tetapi juga menunjukkan dukungan nyata dengan datang langsung ke stadion dan menyaksikan pertandingan Indonesia Women’s League (IWL) 2026/2027.

Ajakan tersebut disampaikan Erick seusai pembukaan Indonesia Women’s League 2026/2027 di Stadion Madya, Jakarta, pada (18/10/2026). Ia menegaskan bahwa keberadaan liga harus diikuti keterlibatan publik agar sepak bola wanita Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk berkembang secara berkelanjutan.

Erick secara terbuka menantang masyarakat yang selama ini mempertanyakan keberadaan kompetisi sepak bola wanita untuk membuktikan dukungannya melalui kehadiran di tribun.

“Ayo yang selama ini teriak-teriak, mana liganya, ayo datang nonton dong sekarang,” ujar Erick.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan sebuah kompetisi tidak hanya ditentukan oleh terselenggaranya pertandingan, tetapi juga oleh keterlibatan suporter, perhatian publik, serta dukungan terhadap klub dan para pemain yang berkompetisi.

Komitmen Lima Tahun, Fondasi Keberlanjutan Liga

Di tengah dimulainya musim baru, Erick menekankan pentingnya kepastian keberlangsungan Indonesia Women’s League. Ia menyampaikan bahwa PSSI, operator liga, dan klub peserta telah berkomitmen menjalankan kompetisi selama lima tahun sebelum dilakukan evaluasi.

“Yang pasti semua klub, Liga, PSSI komitmen untuk 5 tahun, habis itu kita review,” kata Erick.

Komitmen tersebut menjadi landasan penting bagi pengembangan sepak bola wanita nasional. Dengan kepastian penyelenggaraan dalam jangka menengah, klub diharapkan memiliki ruang untuk membangun perencanaan yang lebih terarah, mulai dari pengelolaan tim, pembinaan pemain, hingga pengembangan basis pendukung.

Namun, keberlangsungan liga tidak cukup hanya ditopang oleh kesepakatan penyelenggaraan. Kesiapan finansial klub, tata kelola yang sehat, konsistensi operasional, dan kualitas kompetisi juga menjadi faktor penting agar liga dapat berjalan sesuai rencana.

Erick mengingatkan agar penyelenggaraan kompetisi tidak terganggu oleh persoalan keuangan maupun masalah internal klub yang berpotensi menghambat perjalanan liga. Menurutnya, pengembangan sepak bola wanita harus dilakukan dengan memperhatikan kemampuan klub dan kekuatan fondasi kompetisi.

Dengan demikian, target lima tahun tersebut tidak hanya menjadi komitmen administratif, tetapi juga perlu diterjemahkan menjadi langkah konkret untuk membangun ekosistem sepak bola wanita yang stabil dan berkesinambungan.

Suporter Tak Cukup Bersorak, Kehadiran di Stadion Dibutuhkan

Erick juga menekankan bahwa dukungan terhadap sepak bola wanita perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Ia mengajak masyarakat untuk datang ke stadion, memberikan semangat kepada klub peserta, serta mendukung para pemain tim nasional Indonesia yang kini memperkuat berbagai klub.

“Buktikan kontribusinya bukan dari hanya bicara. Tetapi kehadiran yang kita tunggu, dukung timnya, dukung para pemain tim nasional yang tersebar di berbagai klub yang sedang bermain,” ujar Erick.

Pesan tersebut menempatkan suporter sebagai salah satu bagian penting dalam pertumbuhan kompetisi. Kehadiran penonton dapat membantu membangun atmosfer pertandingan, meningkatkan perhatian terhadap pemain, serta memperluas jangkauan sepak bola wanita kepada masyarakat.

Di sisi lain, partisipasi publik juga perlu diikuti upaya penyelenggara dan klub dalam menghadirkan pertandingan yang menarik, pengelolaan kompetisi yang profesional, serta pengalaman menonton yang nyaman bagi suporter.

Sebab, loyalitas penonton tidak dapat dibangun hanya melalui ajakan. Kepercayaan publik perlu dijaga melalui kualitas pertandingan, konsistensi jadwal, akses informasi, dan keseriusan semua pihak dalam mengelola kompetisi.

Momentum Membangun Masa Depan Sepak Bola Wanita

Bergulirnya Indonesia Women’s League 2026/2027 menjadi momentum untuk memperkuat posisi sepak bola wanita dalam ekosistem sepak bola nasional. Kompetisi yang berlangsung secara konsisten dapat membuka ruang bagi pemain untuk berkembang, memperoleh pengalaman bertanding, dan menunjukkan kemampuan mereka di level klub.

Keberadaan liga juga diharapkan memperkuat hubungan antara klub, pemain, suporter, dan tim nasional. Semakin kompetitif liga yang dijalankan, semakin besar pula ruang bagi pemain untuk mengembangkan kemampuan melalui pertandingan yang terstruktur.

Meski demikian, tantangan utama tidak berhenti pada penyelenggaraan musim perdana atau tingginya perhatian pada awal kompetisi. Ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah kemampuan menjaga liga tetap berjalan, memastikan klub bertahan secara sehat, meningkatkan kualitas pertandingan, serta menumbuhkan minat penonton dari musim ke musim.

Karena itu, komitmen lima tahun yang disampaikan Erick perlu berjalan beriringan dengan kerja nyata seluruh pemangku kepentingan. PSSI dan operator bertanggung jawab menjaga kualitas penyelenggaraan, klub perlu memperkuat tata kelola dan pembinaan pemain, sedangkan suporter dapat mengambil peran dengan hadir langsung memberikan dukungan.

Ajakan Erick pada akhirnya menjadi pesan bagi seluruh elemen sepak bola nasional: jika sepak bola wanita Indonesia ingin berkembang, dukungan tidak boleh berhenti pada tuntutan dan wacana. Kompetisi harus dijaga keberlangsungannya, klub harus diperkuat, pemain harus mendapat ruang untuk berkembang, dan tribun perlu diisi oleh penonton yang memberikan energi bagi pertandingan.

Indonesia Women’s League 2026/2027 kini menghadapi kesempatan untuk membangun fondasi tersebut. Tantangannya adalah memastikan komitmen yang telah disampaikan benar-benar terwujud dalam kompetisi yang konsisten, profesional, dan mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *