Fadli Zon: Wastra Nusantara Menjadi Instrumen Diplomasi Internasional dan Ekonomi Budaya, Perkuat Citra Indonesia di Mata Dunia

Berita156 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan bahwa wastra Nusantara tidak hanya memiliki nilai estetika dan historis, tetapi juga berpotensi besar menjadi instrumen diplomasi budaya yang efektif di tingkat internasional.

Menurutnya, kekayaan kain tradisional Indonesia dapat memperkuat identitas bangsa sekaligus menjadi bagian dari kekuatan lunak (soft power) Indonesia dalam membangun hubungan dengan negara lain.

Dalam keterangannya di Jakarta, pada (7/6/2026), Fadli Zon menyampaikan bahwa wastra merupakan salah satu warisan budaya yang mudah dikenali oleh masyarakat dunia dan mampu merepresentasikan keberagaman serta kekayaan budaya Indonesia.

“Wastra dapat menjadi instrumen diplomasi budaya yang sangat efektif karena mudah dikenali dan menjadi bagian dari soft power Indonesia. Yang tidak kalah penting, wastra juga merupakan elemen dari industri budaya dan ekonomi budaya yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan,” ujarnya.

Indonesia dikenal sebagai negara dengan tingkat keberagaman budaya yang sangat tinggi. Terdapat lebih dari 1.340 kelompok etnis yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, masing-masing memiliki tradisi, motif, teknik, dan filosofi tersendiri dalam menghasilkan karya wastra.

Keanekaragaman tersebut tercermin dalam berbagai jenis kain tradisional seperti batik, songket, tenun, ikat, ulos, tapis, sasirangan, hingga beragam kain adat lainnya yang menjadi identitas masyarakat di berbagai daerah.

Menurut Fadli Zon, setiap helai wastra Nusantara tidak hanya berfungsi sebagai busana atau produk kerajinan semata, tetapi juga mengandung nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
“Keberagaman budaya bangsa kita dapat terlihat dari batik, songket, tenun, ikat, hingga berbagai bahan dan medium lain yang begitu indah dan kaya. Di balik setiap ekspresi budaya tersebut tersimpan filosofi, harapan, bahkan doa,” katanya.

Lebih lanjut, Menteri Kebudayaan menilai bahwa pengembangan sektor wastra dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat. Oleh karena itu, pemanfaatan wastra perlu terus ditingkatkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif serta usaha berbasis budaya di berbagai daerah.

Penguatan ekosistem industri wastra, mulai dari perajin, desainer, pelaku UMKM, hingga sektor pariwisata, diyakini dapat menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya bangsa.

Sebagai bentuk komitmen dalam pelestarian dan promosi wastra Nusantara, Kementerian Kebudayaan bekerja sama dengan pemerintah daerah menyelenggarakan Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara 2026 bertajuk “Nusa Wastra: Living Patterns of Nusantara”.

Kegiatan tersebut berlangsung di Museum Negeri Sonobudoyo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai 5 Juni hingga 29 Juli 2026.

Pameran ini menampilkan beragam koleksi kain tradisional dari berbagai daerah di Indonesia, sekaligus memperlihatkan kekayaan motif, teknik pembuatan, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Selain menjadi sarana apresiasi bagi masyarakat, kegiatan tersebut juga diharapkan dapat menjadi ruang edukasi yang memperkenalkan warisan budaya Indonesia kepada generasi muda serta wisatawan domestik maupun mancanegara.

Kementerian Kebudayaan berharap penyelenggaraan pameran ini dapat memperkuat upaya pelestarian wastra Nusantara, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga warisan budaya, serta memperkuat peran museum sebagai pusat pembelajaran dan destinasi wisata budaya yang menarik.

Melalui berbagai program pelestarian dan promosi yang berkelanjutan, wastra Nusantara diharapkan semakin dikenal di kancah global sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan daerah penghasilnya.

Ervinna

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *