Kapal Perang Rusia Bersandar di Tanjung Priok, Bawa Misi Persahabatan dan Perkuat Diplomasi Maritim

Berita87 Dilihat

DetikSR.id Jakarta,Tiga kapal perang Armada Pasifik Angkatan Laut Rusia bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, dalam kunjungan yang disebut Moskow sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan persahabatan dan kerja sama maritim dengan Indonesia.

Detasemen tersebut terdiri atas kapal fregat RFS Marshal Shaposhnikov, kapal tanker Pechenga, dan kapal perusak Admiral Tributs. Ketiganya berada di Tanjung Priok pada 30 September hingga 4 Oktober 2026.

Kunjungan itu tidak semata-mata menjadi agenda diplomasi pertahanan, tetapi juga diisi dengan pertukaran profesional antara personel angkatan laut kedua negara, kegiatan budaya, serta interaksi langsung dengan masyarakat Indonesia.

Komandan detasemen kapal Armada Pasifik Rusia, Laksamana Muda Evgeny Myasoedov, mengatakan kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun hubungan yang lebih erat antara Rusia dan Indonesia.

“Agenda kami tidak hanya mencakup unjuk kemampuan kapal bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga pertukaran profesional dengan personel angkatan laut, kegiatan budaya, serta pengenalan terhadap berbagai objek wisata dan tradisi,” kata Myasoedov pada (3/10/2026).

Salah satu agenda yang mendapat perhatian masyarakat adalah Open Ship Day pada 2 Oktober. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diberi kesempatan mengunjungi kapal dan melihat secara langsung bagian dari kehidupan serta kemampuan kapal perang Rusia.

Myasoedov mengaku tidak menyangka antusiasme masyarakat Indonesia terhadap kegiatan tersebut akan begitu besar.

Menurut dia, suasana pada Open Ship Day sangat padat. Para awak kapal, kata dia, telah mempersiapkan diri untuk menerima dan berinteraksi dengan warga Indonesia.

Myasoedov juga mengaitkan kunjungan tersebut dengan pandangan Presiden RI Prabowo Subianto mengenai hubungan Indonesia dan Rusia di kawasan Pasifik.

Ia mengutip pernyataan Prabowo bahwa Samudra Pasifik bukanlah pemisah, melainkan ruang yang dapat menghubungkan kedua negara.

Bagi Rusia, kata Myasoedov, kunjungan kapal Armada Pasifik ke Jakarta merupakan bagian dari semangat tersebut.

Kehadiran kapal perang Rusia di Tanjung Priok, dengan demikian, tidak hanya menjadi agenda kunjungan pelabuhan, tetapi juga menjadi salah satu bentuk diplomasi maritim melalui interaksi antarpersonel militer, pertukaran pengalaman profesional, dan kegiatan kemasyarakatan.

Hubungan kedua angkatan laut juga berkembang melalui berbagai kegiatan bilateral dan multilateral. TNI Angkatan Laut dan Angkatan Laut Rusia, misalnya, terlibat dalam latihan bilateral Orruda 2026 yang mengusung tema Ensuring Safety at Sea. TNI AL menyebut latihan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat kepercayaan dan kerja sama praktis kedua negara di bidang keamanan maritim.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov pada kesempatan yang sama menegaskan bahwa pengembangan kekuatan Angkatan Laut Rusia menurutnya ditujukan untuk kepentingan pertahanan negara.

Tolchenov mengatakan Rusia tidak mengembangkan angkatan lautnya untuk menghadapi negara tertentu ataupun terlibat dalam perlombaan senjata di kawasan Pasifik.

“Kami mengembangkan Angkatan Laut Rusia bukan untuk melawan negara mana pun, bukan pula untuk terlibat dalam kompetisi atau perlombaan senjata di kawasan Pasifik ini, melainkan untuk menjamin pertahanan negara kami Federasi Rusia serta mendorong kerja sama yang bersahabat dengan para sahabat kami,” tegas Tolchenov.

Ia juga menilai latihan maritim bersama dapat menjadi sarana untuk meningkatkan saling pengertian antarangkatan laut, mengurangi potensi kesalahpahaman, serta mencegah terjadinya insiden di laut.

Menurut Tolchenov, kerja sama tersebut juga menunjukkan kemampuan masing-masing negara untuk menjaga keamanan dan kepentingannya sendiri.

Dalam kesempatan tersebut, Tolchenov turut menyinggung Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) yang digelar TNI AL di Indonesia.

MNEK 2025 di Bali diikuti 38 negara dan melibatkan 19 kapal perang asing. Latihan tersebut mengusung tema Maritime Partnership for Peace and Stability, dengan fokus antara lain pada penanggulangan bencana alam, bantuan kemanusiaan, serta peningkatan kerja sama menghadapi tantangan maritim nonperang.

Tolchenov mengatakan MNEK berikutnya diperkirakan kembali digelar di Indonesia pada tahun depan. Jika Angkatan Laut Rusia mendapat undangan, kata dia, unsur Armada Pasifik Rusia siap datang dengan membawa misi persahabatan.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan pertahanan laut Indonesia-Rusia tidak hanya berlangsung melalui kunjungan kapal, tetapi juga berpotensi berkembang melalui forum dan latihan multilateral yang mempertemukan banyak angkatan laut.

Sebelum tiba di Jakarta, detasemen kapal Armada Pasifik Rusia memulai pelayaran dari Vladivostok, Rusia.

Perjalanan menuju Indonesia berlangsung sekitar 20 hari. Setelah menyelesaikan kunjungan di Tanjung Priok pada 4 Oktober, ketiga kapal dijadwalkan melanjutkan pelayaran menuju George Town, Malaysia.

Kedatangan RFS Marshal Shaposhnikov sendiri telah disambut unsur TNI AL di Tanjung Priok. Penyambutan pada 30 September turut dihadiri Dubes Rusia Sergei Tolchenov, Laksamana Muda Evgeny Myasoedov, serta Komandan RFS Marshal Shaposhnikov Kapten Pangkat I Sergey Viktorovich Merkulov.

Kunjungan tiga kapal Armada Pasifik tersebut sekaligus menjadi gambaran bagaimana diplomasi maritim digunakan sebagai jalur komunikasi pertahanan, ketika hubungan antarnegara tidak hanya dibangun melalui pertemuan diplomatik di darat, tetapi juga melalui interaksi langsung antarpersonel angkatan laut di laut dan pelabuhan.

Bagi Indonesia dan Rusia, agenda di Tanjung Priok menjadi ruang untuk mempertahankan komunikasi, memperluas pertukaran profesional, serta memperkuat kerja sama maritim di tengah dinamika keamanan kawasan Indo-Pasifik.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *