Kementan Percepat Tanam Padi Serentak 50 Ribu Hektare di 25 Provinsi, Untuk Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

Berita68 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat gerakan tanam padi serentak di 25 provinsi dengan target luas mencapai 50 ribu hektare.

Langkah ini dilakukan sebagai strategi menjaga stabilitas produksi pangan nasional sekaligus mengantisipasi dampak musim kemarau serta mempercepat pemulihan lahan terdampak bencana.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menjelaskan bahwa gerakan tanam serentak ini mencakup berbagai jenis lahan, mulai dari lahan optimalisasi (oplah), cetak sawah rakyat (CSR), hingga lahan yang terdampak bencana.

“Gerakan tanam padi serentak ini dilaksanakan di 25 provinsi dengan total luas mencapai 50 ribu hektare. Titik utama kegiatan dipusatkan di Kabupaten Agam, Sumatera Barat,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, (2/5/2026).

Ia merinci, luasan tersebut terdiri atas optimalisasi lahan tahun 2024 seluas 20.000 hektare, oplah tahun 2025 sebesar 23.000 hektare, program CSR tahun 2025 seluas 5.000 hektare, serta rehabilitasi lahan terdampak bencana seluas 2.026 hektare.

Menurut Arsanti, percepatan tanam harus dibarengi dengan pengawalan intensif di lapangan. Peran penyuluh pertanian bersama petani dinilai sangat krusial untuk memastikan lahan yang telah siap dapat segera ditanami dan menghasilkan panen optimal.

“Penyuluh dan petani adalah kunci utama. Mereka memastikan proses tanam berjalan tepat waktu sehingga produktivitas tetap terjaga,” tegasnya.

Selain itu, pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) juga menjadi faktor penting dalam mendukung percepatan tanam di berbagai daerah. Teknologi seperti rice transplanter dan drone pertanian dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus mengatasi keterbatasan tenaga kerja di sektor pertanian.

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang mengikuti kegiatan secara daring menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam gerakan ini.
“Terima kasih kepada para gubernur, bupati, petani, penyuluh, hingga aparat di daerah. Ini adalah bentuk komitmen bersama untuk memperkuat swasembada pangan nasional,” ujarnya.

Amran juga menegaskan bahwa pemerintah akan terus memperluas areal tanam melalui program cetak sawah baru dan optimalisasi lahan sebagai bagian dari strategi peningkatan produksi nasional.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Kementan, Suwandi, menyebut percepatan tanam menjadi langkah strategis untuk mengantisipasi potensi kekeringan pada musim kemarau 2026 yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.

Ia mengungkapkan bahwa Kementan telah mengirimkan surat kepada seluruh kepala daerah untuk memperkuat langkah mitigasi di wilayah masing-masing.

“Langkah mitigasi sudah disiapkan, mulai dari pemantauan data iklim, pemetaan daerah rawan kekeringan, percepatan tanam, pompanisasi, hingga penguatan infrastruktur air,” jelasnya.

Sejumlah strategi utama yang didorong pemerintah meliputi percepatan tanam di akhir musim hujan untuk memaksimalkan ketersediaan air, pompanisasi secara masif guna menjaga suplai air ke lahan pertanian, serta optimalisasi lahan rawa sebagai alternatif saat lahan tadah hujan mengalami kekeringan.

Selain itu, penggunaan varietas benih tahan kekeringan juga terus didorong guna meningkatkan ketahanan tanaman terhadap stres panas dan keterbatasan air.

Pembangunan infrastruktur air seperti embung, long storage, dan sumur bor juga diperkuat untuk menjamin ketersediaan air di tingkat petani.

Dengan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, Kementan optimistis gerakan tanam serentak ini mampu meningkatkan produksi padi nasional, menjaga ketersediaan pangan, serta memperkuat ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *