DetikSR.id JAKARTA UTARA, 5 September 2026 — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M di Musholla Al-Ikhlas, Jalan Inspeksi Kali Duri/Air Baja, RT 006/RW 016, Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, berlangsung meriah dan penuh semangat kebersamaan.
Kegiatan yang menghadirkan Ustaz Aris Kurniawan Al-Ghifari tersebut turut dihadiri dan mendapat dukungan dari Ketua Umum Garda Bintang Timur, Daenk Jamal. Hadir juga Pengurus musholla Rukman Koordinator keamanan wilayah Moh samika/Daeng Akom, Ketua panitia ustad Mulyadi, dan Amsarid ketua RT 006 serta warga sekitar.
Kehadiran Daenk Jamal menjadi bagian dari dukungan terhadap kegiatan keagamaan sekaligus upaya memperkuat persaudaraan dan kerukunan masyarakat di kawasan tersebut.
Daenk Jamal menegaskan, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak semestinya hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial tahunan. Menurutnya, momentum tersebut harus menjadi sarana untuk menghidupkan kembali keteladanan Rasulullah dalam kehidupan bermasyarakat.
“Bukan hanya memperingati, tetapi bagaimana kita meningkatkan keteladanan beliau dalam persatuan, persaudaraan, NKRI, dan silaturahmi. Kita harus menjaga ukhuwah dan kebersamaan dengan seluruh etnis dan agama,” ujar Daenk Jamal.
Ia menilai, keberagaman masyarakat di kawasan Pejagalan menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis. Masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut berasal dari berbagai latar belakang suku dan daerah, termasuk para perantau yang kemudian membaur dan hidup berdampingan.
Tradisi Mandar Dibawa ke Tanah Rantau
Salah satu hal yang menarik dalam peringatan Maulid tersebut adalah adanya sentuhan budaya Mandar, Sulawesi Barat. Tradisi tersebut dihadirkan sebagai bagian dari upaya masyarakat perantauan untuk tetap menjaga sekaligus memperkenalkan warisan budaya leluhur di lingkungan tempat mereka tinggal.
Daenk Jamal mengatakan, membawa tradisi kampung halaman ke tanah rantau merupakan salah satu bentuk kecintaan terhadap adat dan budaya.
Menurut dia, masyarakat perantauan tidak harus meninggalkan identitas budaya ketika hidup di daerah lain. Sebaliknya, tradisi yang memiliki nilai positif dapat diperkenalkan dan dikembangkan sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
“Ini menjadi keunikan tersendiri karena kita mengadopsi budaya Mandar dari Sulawesi Barat. Para perantau membawa tradisi dari kampung halaman dan kemudian melaksanakannya di tanah rantau. Ini salah satu cara mencintai adat dan budaya sekaligus melestarikannya,” katanya.

Dikerjakan Bersama Secara Gotong Royong
Jamaludin, salah seorang warga, mengatakan persiapan berbagai ornamen dan perlengkapan untuk memeriahkan Maulid Nabi dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat.
“Pengerjaannya sekitar satu minggu. Karena masyarakat di sini banyak yang perantauan, pengerjaannya dilakukan di waktu luang. Ibu-ibu, bapak-bapak, dan warga semuanya ikut membantu,” ujar Jamaludin.
Menurutnya, semangat gotong royong menjadi bagian penting dalam persiapan kegiatan tersebut. Salah satu ornamen yang dibuat masyarakat menggunakan sekitar 30 pohon, yang dimaknai sebagai simbol kebersamaan dan gotong royong warga.
“Sekitar 30 pohon ini melambangkan gotong royong dan kebersamaan,” katanya.
Ketua panitia ustaz Mulyadi mengatakan bahwa kegiatan ini rutin di adakan setiap tahunnya namun kali ini sangat berbeda dan warga sangat antusias, kami berharap kedepannya akan lebih meriah lagi
Ketua RT 006 Amsarid menyatakan apresiasinya terhadap kegiatan ini, Ia berharap momen ini dapat mempererat kebersamaan dan kekompakan khususnya di RT 006 ini.
Berbagai ornamen berwarna-warni yang menghiasi lokasi kegiatan turut menciptakan suasana semarak. Keceriaan tersebut menjadi simbol kegembiraan masyarakat dalam menyambut dan memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Musholla Al-Ikhlas akhirnya tidak hanya menjadi ruang untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan, tetapi juga menjadi momentum mempererat silaturahmi, membangun persaudaraan di tengah keberagaman, serta memperkenalkan dan melestarikan budaya Nusantara.
Semangat tersebut sejalan dengan pesan utama kegiatan: menjadikan keteladanan Rasulullah sebagai inspirasi untuk memperkuat persatuan, menjaga ukhuwah, merawat kebinekaan, serta menumbuhkan kegembiraan dan kepedulian di tengah kehidupan masyarakat.(JJ)






