Menhut Raja Juli: Karhutla Belum Berakhir, Api Padam Kembali Dibakar Saat Akhir Pekan, Petugas Padamkan Api Muncul Titik Baru

Berita77 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengingatkan bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih belum berakhir. Menurut dia, karhutla diperkirakan masih berpotensi terjadi hingga akhir Oktober atau awal November, ketika hujan diprediksi mulai turun secara lebih merata.

Di tengah upaya pemerintah dan aparat memadamkan kebakaran, Raja Juli mengungkap adanya persoalan lain yang membuat penanganan karhutla menjadi semakin sulit. Setelah api berhasil dipadamkan di satu lokasi, masih ada pihak yang kembali melakukan pembakaran di lokasi lain.

Raja Juli menyampaikan hal tersebut saat ditemui di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, pada (16/9/2026).

“Karhutla ini masih akan bersama kita sampai Oktober atau awal November. Kalau teman-teman turun ke lapangan, bisa melihat bagaimana Manggala Agni Kehutanan Kemenhut, TNI-Polri, BNPB, BPBD berjuang memadamkan api, kita betul-betul kasihan,” kata Raja Juli.

Ia mengatakan petugas gabungan masih berjibaku di lapangan untuk menangani titik-titik kebakaran. Namun, pekerjaan tersebut menjadi semakin berat ketika api kembali muncul setelah sebelumnya berhasil dipadamkan.

Api Padam, Kembali Dibakar

Raja Juli menyoroti dugaan pola pembakaran yang menurutnya mulai terlihat pada akhir pekan. Ia menyebut peningkatan aktivitas pembakaran cenderung terjadi pada Jumat, Sabtu, dan Minggu.

“Tapi setiap kali sudah padam, masih ada orang yang mau main api untuk kembali membakar. Dan ternyata mulai ada trennya itu. Trennya itu selalu naik kalau weekend, kalau akhir pekan. Hari Jumat, Sabtu, Minggu itu selalu naik,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tantangan penanganan karhutla bukan hanya soal memadamkan api, tetapi juga mencegah munculnya sumber api baru. Upaya pemadaman dapat kembali menghadapi titik kebakaran baru apabila pembukaan atau pembakaran lahan tetap dilakukan.

Raja Juli pun meminta masyarakat tidak menggunakan api untuk membuka atau membersihkan lahan, terutama ketika kondisi cuaca masih kering dan risiko kebakaran tinggi.

“Kasihan, betul-betul kasihan melihat Manggala Agni, TNI-Polri di lapangan yang betul-betul berjibaku. Dan ketika mereka sukses memadamkan di satu titik, tahu-tahu sudah terbakar lagi di tempat yang lain,” katanya.

Titik Api Menurun, Ancaman Belum Berakhir

Sebelumnya, Raja Juli juga menyampaikan bahwa jumlah titik api di Sumatera Selatan telah mengalami penurunan. Meski demikian, kondisi tersebut belum berarti ancaman karhutla telah berakhir.

Raja Juli menyebut berdasarkan informasi BMKG, kondisi El Nino masih berpotensi bertahan hingga akhir Oktober atau awal November. Hujan alami diperkirakan mulai turun pada periode tersebut dan membantu mengurangi risiko serta intensitas karhutla.

Karena itu, pemerintah masih harus menjaga kesiapsiagaan hingga musim hujan benar-benar tiba. Selain pemadaman, pencegahan menjadi kunci untuk menekan munculnya titik api baru.

Raja Juli juga mengingatkan masyarakat dan korporasi agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Larangan tersebut menjadi semakin penting karena kebakaran yang muncul di tengah kondisi kering dapat dengan cepat meluas dan menyulitkan proses pemadaman.

Di sisi lain, kerja petugas di lapangan tidak hanya menghadapi luasnya area terbakar, tetapi juga kemungkinan munculnya api baru setelah titik sebelumnya dinyatakan padam.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah menghadapi dua pekerjaan sekaligus memadamkan api yang sudah muncul dan mencegah manusia kembali menyalakan api di lahan yang rawan terbakar.

Raja Juli menegaskan bahwa masyarakat perlu ikut menjaga agar upaya pemadaman yang dilakukan Manggala Agni, TNI-Polri, BNPB, BPBD, serta unsur lainnya tidak kembali sia-sia akibat munculnya kebakaran baru.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *