Menperin Sarmuji Apresiasi Inovasi CCU Petrokimia Gresik, Efisiensi Penangkapan CO₂ Capai 97,79 Persen

Berita83 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengapresiasi langkah PT Petrokimia Gresik dalam mengembangkan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) sebagai bagian dari upaya mempercepat transformasi industri hijau di Indonesia. Teknologi ini memungkinkan karbon dioksida (CO₂) dari proses industri ditangkap dan dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi.

Teknologi penangkapan dan pemanfaatan karbon dinilai membuka peluang dekarbonisasi industri sekaligus menciptakan nilai ekonomi.
Pemerintah menyiapkan langkah lanjutan agar proyek percontohan dapat dikembangkan menuju skala komersial.

Pengembangan proyek percontohan CCU di Petrokimia Gresik, perusahaan solusi agroindustri yang tergabung dalam holding PT Pupuk Indonesia (Persero), dinilai menjadi salah satu langkah penting dalam mendorong penerapan teknologi rendah emisi di sektor manufaktur nasional. Selain mendukung upaya pengurangan emisi karbon, inovasi tersebut berpotensi membuka sumber nilai tambah baru melalui pemanfaatan kembali karbon yang dihasilkan dari kegiatan industri.

“Ini akan menjadi sejarah bagi Petrokimia Gresik sebagai industri yang menjadi pionir bagi penerapan Carbon Capture and Utilization. Ini akan kita sebarluaskan karena proyek percontohan ini menghasilkan manfaat yang besar,” ujar Sarmuji setelah meninjau perkembangan proyek percontohan CCU di Gresik, Jawa Timur.

Menurut Sarmuji, keberhasilan pengembangan teknologi tersebut perlu ditindaklanjuti melalui evaluasi teknis dan perencanaan yang matang agar penerapannya tidak berhenti pada tahap percontohan. Pemerintah, kata dia, akan mendorong penyusunan peta jalan atau roadmap untuk memperluas pemanfaatan CCU, termasuk mengkaji peluang penerapannya di sektor industri lainnya.

Efisiensi Penangkapan CO₂ Mencapai 97,79 Persen

Proyek percontohan CCU Petrokimia Gresik merupakan hasil kolaborasi Kementerian Perindustrian, Pupuk Indonesia, Petrokimia Gresik, dan UWin Resources Regeneration Inc.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mengembangkan teknologi pengurangan emisi sekaligus menguji potensi pemanfaatan karbon sebagai sumber bahan baku industri.

Berdasarkan hasil evaluasi proyek percontohan, teknologi tersebut mencatat efisiensi penangkapan CO₂ sebesar 91,48 hingga 97,79 persen. Capaian ini menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kinerja teknologi, meskipun kelayakan penerapan pada skala industri tetap perlu ditentukan melalui pengujian lanjutan yang mempertimbangkan konsistensi kinerja, kebutuhan energi, biaya operasional, dan kondisi proses produksi.

Selain kinerja penangkapan karbon, pengujian juga menunjukkan potensi pemanfaatan CO₂ menjadi soda ash atau natrium karbonat (Na₂CO₃), bahan kimia yang digunakan dalam berbagai aplikasi industri.

Pada pengujian kedua yang dilaksanakan pada Mei 2026, produk soda ash yang dihasilkan memiliki kadar natrium karbonat sebesar 99,12 hingga 99,73 persen. Berdasarkan evaluasi teknis yang disampaikan, hasil tersebut dinyatakan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) 06-0598-1989.

Capaian tersebut memperlihatkan bahwa karbon hasil proses industri berpotensi dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku produk bernilai tambah, alih-alih hanya diperlakukan sebagai aliran gas buang. Meski demikian, konsistensi mutu produk, kapasitas produksi, dan keekonomian proses masih menjadi aspek penting yang perlu dikaji sebelum teknologi diterapkan secara komersial.

Dekarbonisasi dan Nilai Tambah Ekonomi

Sarmuji menilai CCU menawarkan peluang untuk mengintegrasikan agenda pengurangan emisi dengan peningkatan nilai ekonomi industri. Melalui pendekatan ini, teknologi ramah lingkungan tidak semata-mata dipandang sebagai tambahan beban biaya, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari strategi peningkatan efisiensi dan pengembangan produk baru.

Bagi industri petrokimia dan manufaktur yang menghasilkan CO₂ dari proses produksinya, pemanfaatan kembali karbon dapat membuka peluang pengembangan rantai nilai baru. Namun, manfaat tersebut akan sangat bergantung pada ketersediaan sumber CO₂, kebutuhan energi dan bahan pendukung, biaya investasi, kapasitas fasilitas pengolahan, serta permintaan pasar terhadap produk yang dihasilkan.

Karena itu, capaian efisiensi penangkapan karbon dan kemurnian soda ash dalam proyek percontohan merupakan indikator awal yang menjanjikan, tetapi belum dengan sendirinya membuktikan kelayakan ekonomi pada skala besar. Penilaian menyeluruh diperlukan untuk memastikan teknologi mampu beroperasi secara stabil, kompetitif, dan memberikan manfaat lingkungan yang terukur.

Penghitungan dampak lingkungan juga perlu memperhitungkan keseluruhan proses, termasuk energi yang digunakan untuk menangkap dan mengolah CO₂, agar manfaat pengurangan emisi dapat dinilai secara komprehensif.

Menyiapkan Peta Jalan Menuju Skala industri

Pemerintah menegaskan bahwa pengembangan CCU perlu dilanjutkan secara bertahap, mulai dari evaluasi hasil uji coba hingga penilaian kelayakan penerapan dalam kegiatan produksi berskala lebih besar.

“Tentu harus kita evaluasi terus-menerus supaya ini bisa berlaku sebagai sebuah skala industri, bukan hanya pilot project. Kita akan punya roadmap ke sana,” jelas Sarmuji.

Peta jalan tersebut diharapkan dapat menjadi landasan bagi pengembangan teknologi, penentuan tahapan investasi, serta identifikasi peluang penerapan di sektor industri yang memiliki karakteristik emisi dan kebutuhan bahan baku serupa.

Ke depan, keberhasilan proyek CCU Petrokimia Gresik tidak hanya akan diukur dari tingginya efisiensi penangkapan CO₂ atau mutu produk yang dihasilkan. Faktor penentu lainnya mencakup kemampuan teknologi beroperasi secara berkelanjutan, biaya produksi yang kompetitif, kepastian pasar, dan besarnya pengurangan emisi bersih yang dapat dicapai.

Dengan hasil awal yang telah dicatat, proyek percontohan ini memberikan dasar teknis untuk mengevaluasi pengembangan CCU lebih lanjut di Indonesia. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan capaian uji coba menjadi model penerapan industri yang layak secara teknis, ekonomis, dan lingkungan.

Jika dapat dikembangkan secara konsisten, CCU berpotensi menjadi salah satu instrumen pendukung transformasi industri nasional menuju proses produksi yang lebih efisien dan rendah emisi, sekaligus memperkuat pemanfaatan sumber daya secara lebih produktif.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *