Gus Ipul Apresiasi Hasil Survei Kepala Sekolah Rakyat, Tekankan Kepemimpinan Harus Naik Level Jelang MPLS 2026

Berita69 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengapresiasi hasil survei terhadap para kepala Sekolah Rakyat yang menunjukkan optimisme tinggi dalam memimpin satuan pendidikan menjelang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027.

Meski demikian, ia menegaskan masih terdapat sejumlah tantangan yang harus segera diselesaikan agar penyelenggaraan Sekolah Rakyat berjalan optimal.
Hal tersebut disampaikan Gus Ipul saat memberikan pembekalan secara daring kepada 191 Kepala Sekolah Rakyat dalam Rapat Konsolidasi dan Pembekalan Kepala Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026/2027 yang dipusatkan di Kulon Progo.

Sebanyak 191 kepala sekolah mengikuti pembekalan tersebut, terdiri atas 166 kepala sekolah di titik operasional yang telah berjalan dan 25 kepala sekolah pada lokasi baru yang akan mulai beroperasi pada tahun ajaran baru.

Dalam paparannya, Gus Ipul mengungkapkan hasil survei terhadap 174 kepala Sekolah Rakyat. Survei menunjukkan tingkat kesiapan mental kepala sekolah mencapai 8,95 dari skala 10, sementara tingkat keyakinan dalam mengambil keputusan berada pada angka 8,74.

Selain itu, sebanyak 72 persen responden memandang penugasan di Sekolah Rakyat sebagai tantangan yang memacu semangat, sedangkan 94 persen menyatakan telah memiliki orientasi kepemimpinan jangka panjang untuk membangun sistem pendidikan yang berkelanjutan.

“Ini menunjukkan semangat yang sangat baik. Namun kita tidak boleh berpuas diri karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan bersama,” kata Gus Ipul, dalam keterangannya pada (9/7/2026).

Di balik tingginya optimisme tersebut, survei juga mengungkap sejumlah persoalan yang masih dihadapi kepala sekolah menjelang pelaksanaan MPLS.
Hanya 18 persen responden yang menyatakan siap sepenuhnya menghadapi MPLS.

Sebanyak 26 persen mengaku siap sebagian, 38 persen masih menghadapi kendala signifikan, dan 17 persen menyatakan belum siap.
Berbagai kebutuhan yang paling banyak disampaikan meliputi penambahan guru dan tenaga kependidikan (77 persen), pendampingan langsung dari Pusdiklat atau PPK (61 persen), kejelasan anggaran (56 persen), serta pelatihan lanjutan bagi kepala sekolah (48 persen).

Selain itu, masih ditemukan sejumlah kendala di lapangan, mulai dari keterbatasan sumber air di salah satu Sekolah Rakyat permanen, penyelesaian status kepegawaian dan surat keputusan kepala sekolah di sejumlah daerah, hingga penyelesaian pembangunan beberapa gedung sekolah permanen.

Menanggapi berbagai temuan tersebut, Gus Ipul memastikan seluruh masukan akan menjadi perhatian pemerintah.
“Masalah harus dihadapi, jangan takut kekurangan masalah. Itu tanda negara sedang mempercayakan sesuatu yang besar kepada kita semua,” ujarnya.

Dalam arahannya, Gus Ipul menekankan bahwa keberhasilan Sekolah Rakyat tidak boleh hanya diukur dari munculnya sejumlah siswa berprestasi, tetapi dari kemampuan sekolah membangun sistem yang mampu mengembangkan seluruh peserta didik tanpa terkecuali.

“Kalau ada 28 anak berkembang, sementara dua anak tertinggal, itu bukan sekadar persoalan dua anak. Itu persoalan sistem. Mari kita bangun sistem agar semua siswa bisa terlayani. Tidak ada siswa yang tertinggal,” tegasnya.

Menurutnya, setiap anak memiliki potensi yang berbeda sehingga sekolah harus mampu memetakan sekaligus mengembangkan bakat masing-masing, baik di bidang olahraga, seni, bahasa, kepemimpinan maupun keterampilan lainnya.

Model pendidikan berasrama selama 24 jam yang diterapkan di Sekolah Rakyat, kata dia, memberikan ruang yang luas untuk membangun karakter sekaligus mengembangkan potensi unik setiap peserta didik.

Ia bahkan mendorong setiap Sekolah Rakyat memiliki identitas dan keunggulan masing-masing, mulai dari tim baris-berbaris, paduan suara, pencak silat, drama berbahasa asing hingga kemampuan berpidato dalam bahasa internasional.

Gus Ipul mengibaratkan transformasi Sekolah Rakyat seperti perjalanan sebuah kapal kecil menjadi kapal besar. Semakin besar tanggung jawab yang dipikul, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi.

“Perbedaan kapal kecil dan kapal besar bukan pada nahkodanya, tetapi pada besarnya ombak yang harus dihadapi. Kepala Sekolah Rakyat harus memiliki mentalitas besar, berani mengambil keputusan, visioner, dan mampu membangun sistem,” ujarnya.

Ia menegaskan seluruh kepala sekolah memperoleh dukungan sumber daya, pedoman, dan anggaran yang relatif sama. Karena itu, faktor penentu keberhasilan sekolah terletak pada kualitas kepemimpinan kepala sekolah.

Menurut Gus Ipul, para kepala sekolah harus mengubah cara pandang dari sekadar bekerja menjadi berjuang.
“Berjuang berarti berorientasi pada perubahan nyata bagi siswa, proaktif membaca kebutuhan, mengambil inisiatif menyelesaikan persoalan, serta mengukur keberhasilan dari perkembangan anak-anak yang dilayani,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa peningkatan kualitas Sekolah Rakyat harus dimulai dari peningkatan kualitas diri kepala sekolah.
“Standar Sekolah Rakyat tidak akan naik kalau standar diri kepala sekolahnya belum naik terlebih dahulu,” ujarnya.

Dalam pembekalan tersebut, Gus Ipul meminta kepala sekolah membangun disiplin pribadi sebelum menuntut kedisiplinan peserta didik. Ia juga mengingatkan pentingnya bersikap jujur dalam menyampaikan berbagai persoalan, tetap tenang menghadapi tekanan, serta berani mengevaluasi diri sebelum mengevaluasi bawahan.

Menurutnya, apabila berbagai standar yang telah ditetapkan pemerintah masih terus harus diingatkan, maka persoalannya bukan pada siswa, melainkan karena kepala sekolah belum menjadikannya sebagai prioritas.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh kepala Sekolah Rakyat yang telah mengawal program tersebut sejak tahap perintisan.

“Kita tidak sedang sekadar menjalankan tugas. Kita sedang menjadi pemilik sejarah Sekolah Rakyat. Jalankan dengan profesional dan empati,” ujarnya.

Sebagai bentuk dukungan terhadap penyelenggaraan Sekolah Rakyat, Gus Ipul memastikan Kementerian Sosial akan terus memperjuangkan peningkatan kesejahteraan kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan.

Menurutnya, pemerintah memahami bahwa Sekolah Rakyat menerapkan sistem boarding school yang memiliki tanggung jawab lebih besar dibanding sekolah reguler, sehingga membutuhkan dukungan regulasi dan anggaran yang memadai.

“Kami akan terus berjuang agar kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan Sekolah Rakyat mendapatkan tunjangan kinerja yang lebih baik. Kami memahami ini adalah boarding school dengan tanggung jawab yang berbeda,” katanya.

Menutup arahannya, Gus Ipul mengingatkan bahwa kepemimpinan di Sekolah Rakyat merupakan panggilan untuk membawa perubahan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.

“Level Anda naik bukan karena SK. Level Anda naik karena besarnya tantangan yang berani Anda pikul dan keberhasilan yang Anda torehkan,” tutupnya.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *