Jakarta Kuasai 38 Persen Transaksi QRIS Nasional, Pramono Anung: Transformasi Digital Makin Kuat

Berita22 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat pencapaian signifikan dalam penerapan sistem pembayaran digital. Jakarta menjadi daerah dengan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) terbesar di Indonesia, dengan kontribusi hampir 38 persen dari total transaksi QRIS secara nasional.

Capaian tersebut disampaikan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, saat menghadiri acara Jakarta Kreatif Festival di Istora Senayan, pada (4/7/2026).

“Yang saya senang adalah Jakarta secara keseluruhan memberikan kontribusi hampir 38 persen transaksi yang menggunakan QRIS di seluruh Indonesia. Jadi artinya pasti Jakarta dibandingkan dengan daerah lain untuk transaksi yang menggunakan QRIS ini tertinggi,” ujar Pramono.

Menurutnya, tingginya penggunaan QRIS menunjukkan bahwa transformasi digital di sektor pembayaran telah berjalan dengan sangat baik di ibu kota. Berbagai aktivitas ekonomi masyarakat, mulai dari transaksi di pasar tradisional hingga pusat perbelanjaan modern, kini semakin mengandalkan sistem pembayaran non-tunai.

Pramono menjelaskan, dominasi Jakarta dalam transaksi QRIS tidak terlepas dari meningkatnya jumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mengadopsi pembayaran digital.

Hingga pertengahan 2026, tercatat lebih dari 422.000 pelaku UMKM di Jakarta telah menggunakan QRIS sebagai metode transaksi. Langkah tersebut dinilai mampu memperluas akses keuangan, meningkatkan efisiensi pembayaran, serta mempercepat digitalisasi sektor usaha.

“Pelaku UMKM sekarang ini di Jakarta kurang lebih 422.000 lebih yang menggunakan QRIS sebagai sarana transaksinya,” kata Pramono.

Penggunaan QRIS juga memberikan kemudahan bagi konsumen karena transaksi dapat dilakukan hanya dengan memindai kode QR menggunakan berbagai aplikasi pembayaran digital yang telah terintegrasi.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menilai perkembangan transaksi digital menjadi salah satu indikator positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Pada triwulan I 2026, perekonomian Jakarta tumbuh 5,59 persen, dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 16,67 persen.

Angka tersebut memperlihatkan peran strategis Jakarta sebagai pusat kegiatan ekonomi sekaligus motor penggerak ekonomi nasional.
Pramono meyakini bahwa penguatan ekonomi digital dan ekonomi kreatif akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru, terutama setelah Jakarta bertransformasi menjadi kota global.
“Saya meyakini bahwa Jakarta ini kalau ekonomi kreatifnya tumbuh dengan baik, ini merupakan engine of growth baru yang akan menambah pertumbuhan ekonomi di Jakarta,” ujarnya.

Menjelang peringatan 500 tahun Kota Jakarta pada 2027, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta optimistis nilai transaksi QRIS akan terus mengalami peningkatan.

Saat ini, sistem pembayaran QRIS telah diterapkan secara luas di berbagai sektor, termasuk 153 pasar yang berada di bawah pengelolaan pemerintah daerah, pusat perbelanjaan, hotel, restoran, hingga berbagai layanan usaha lainnya.

“Karena Jakarta hampir semua transaksi di pasar, 153 pasar, kemudian di pertokoan dan perhotelan dan sebagainya sekarang ini semuanya sudah pakai QRIS, saya yakin pasti akan meningkat. Cuma angkanya kita belum tahu, yang jelas tahun kemarin kita mencatatkan rekor hampir 38 persen,” tutur Pramono.

Dengan semakin luasnya adopsi pembayaran digital di berbagai sektor, Jakarta diproyeksikan akan terus mempertahankan posisinya sebagai daerah dengan penggunaan QRIS terbesar di Indonesia sekaligus menjadi penggerak utama transformasi ekonomi digital nasional.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *