JIC Digital School 2026 Dorong Generasi Muda Jakarta Utara Ubah “Scroll” Menjadi “Skill”

Berita59 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Perkembangan teknologi digital yang berlangsung semakin cepat menuntut generasi muda tidak lagi sekadar menjadi pengguna teknologi. Penguasaan perangkat dan platform digital perlu diarahkan menjadi keterampilan produktif yang mampu melahirkan karya, membangun jejaring, membuka peluang ekonomi, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Semangat tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam JIC Digital School 2026, program yang digagas Sub Divisi Penyiaran, Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (PPIJ) atau Jakarta Islamic Centre (JIC).

Mengusung tema “Menyiapkan Generasi Adaptif, Kreatif, Produktif, dan Siap Berkarya di Era Digital”, kegiatan tersebut digelar pada (12/8/2026) di Lantai 2 Balai Yos Sudarso, Kantor Wali Kota Jakarta Utara.

Program ini dirancang tidak sekadar sebagai seminar, tetapi sebagai ruang pembelajaran dan pengembangan kompetensi digital yang memadukan pelatihan, praktik, mentoring, coaching, pendampingan, hingga pengerjaan proyek.

Peserta JIC Digital School 2026 merupakan generasi muda berusia 17–30 tahun yang berasal dari sejumlah wilayah Jakarta Utara, di antaranya Kecamatan Koja, Tanjung Priok, Cilincing, Pademangan, Kelapa Gading, dan Penjaringan.

Dari “Scroll” Menjadi “Skill”

Di tengah tingginya penggunaan media sosial oleh generasi muda, JIC Digital School 2026 membawa pesan sederhana namun relevan waktu yang selama ini dihabiskan untuk scrolling dapat dialihkan menjadi kesempatan untuk belajar dan membangun keterampilan.

Melalui slogan “Dari Scroll Menjadi Skill”, peserta diajak mengubah pola penggunaan media sosial dari sekadar mengonsumsi informasi menjadi aktivitas yang menghasilkan pengetahuan, keterampilan, jaringan, hingga karya.
Peserta tidak hanya didorong menjadi penonton konten, tetapi mulai mengambil peran sebagai kreator. Berbagai platform digital dapat dimanfaatkan untuk memproduksi konten, membangun portofolio, mengembangkan personal branding, memperluas jejaring profesional, hingga menciptakan peluang usaha.

Perubahan pola tersebut dinilai penting karena ekosistem digital kini telah menjadi bagian dari hampir seluruh bidang kehidupan, mulai dari pendidikan, pekerjaan, industri kreatif, pemasaran, komunikasi publik hingga kewirausahaan.

Karena itu, JIC Digital School menggunakan pendekatan pembelajaran yang lebih aplikatif. Peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga diberi kesempatan mempraktikkan pengetahuan melalui workshop, kelas intensif, mentoring, coaching, project-based learning, pengerjaan tugas, serta presentasi hasil karya.

Bekali Generasi Muda Dengan Kompetensi Digital

Sejumlah kompetensi yang relevan dengan kebutuhan ekosistem digital menjadi bagian dari materi pembelajaran.

Melalui materi Digital Mindset & Literasi Digital, peserta diperkenalkan pada etika bermedia sosial, keamanan digital, serta pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan produktivitas.

Sementara dalam bidang Content Creation, peserta mendapatkan pembekalan mengenai copywriting, storytelling, fotografi, videografi, penyuntingan video, desain menggunakan Canva, hingga pengenalan motion graphic dasar.

Kompetensi lainnya diberikan melalui materi Digital Marketing, yang mencakup social media marketing, content planning, Instagram Marketing, TikTok Marketing, hingga strategi pemasaran digital.
JIC Digital School juga memperkenalkan peserta pada Marketplace & Bisnis Online.

Dalam sesi tersebut, peserta diarahkan memahami berbagai model bisnis digital, termasuk pemanfaatan marketplace seperti Shopee dan Tokopedia, affiliate marketing, live shopping, reseller, serta dropship.
Adapun materi Personal Branding diarahkan untuk membangun kemampuan peserta dalam public speaking, pengembangan citra profesional, professional networking, serta penyusunan portofolio digital.

Rangkaian materi tersebut dirancang agar peserta memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai bagaimana keterampilan digital dapat dikembangkan menjadi kompetensi profesional sekaligus peluang ekonomi.

Teknologi Harus Melahirkan Karya

Kepala Divisi Komunikasi dan Penyiaran PPIJ sekaligus Ketua Pelaksana JIC Digital School 2026, KH. Afifuddin Rohaly, S.HI., MM, mengatakan kemampuan digital harus diarahkan pada sesuatu yang produktif dan memberikan manfaat.

“Generasi muda hari ini tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Kita ingin mereka mampu mengubah teknologi menjadi keterampilan, keterampilan menjadi karya, karya menjadi peluang, dan peluang menjadi kebermanfaatan,” ujar Afifuddin.

Menurut dia, penggunaan media sosial juga perlu diarahkan agar tidak berhenti pada aktivitas konsumsi konten.
“Jangan sampai waktu kita habis hanya untuk scrolling, tetapi tidak pernah sampai pada skill. Jangan hanya menjadi penonton konten, tetapi mulai belajar menjadi pencipta konten,” katanya.

Afifuddin menambahkan, penguasaan teknologi perlu berjalan beriringan dengan pembentukan karakter dan nilai-nilai keislaman.
“Kita ingin teknologi berjalan bersama akhlakul karimah. Teknologi harus menjadi sarana untuk belajar, berkarya, membangun ekonomi, memperluas jaringan, dan sekaligus menyebarkan kebaikan,” tuturnya.

Tidak Berhenti Pada Sertifikat

Salah satu pendekatan yang ditonjolkan dalam JIC Digital School 2026 adalah orientasi program yang tidak menjadikan sertifikat sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.

Peserta justru diarahkan menghasilkan karya yang dapat digunakan sebagai bagian dari portofolio. Dengan demikian, keterampilan yang diperoleh selama program tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat dibuktikan melalui produk atau karya konkret.

Sejumlah luaran yang ditargetkan antara lain portofolio desain, video kreatif, konten promosi, akun media sosial profesional, marketplace sederhana, personal branding kit, serta berbagai produk digital lainnya.

Portofolio tersebut diharapkan dapat menjadi modal awal bagi peserta untuk meningkatkan kepercayaan diri, menunjukkan kompetensi, membangun jejaring, maupun membuka peluang kerja dan usaha.
Pendekatan tersebut sekaligus memperkenalkan kepada peserta bahwa dalam ekosistem kerja digital, kemampuan seseorang tidak hanya dinilai dari apa yang diketahui, tetapi juga dari apa yang mampu dikerjakan dan ditunjukkan melalui karya.

Hadirkan Praktisi, Tekankan Pembelajaran Berbasis Praktik

Untuk memperkuat aspek praktik, JIC Digital School 2026 menghadirkan sejumlah narasumber dan praktisi yang memberikan wawasan serta pengalaman mengenai dunia digital diantaranya:

1. Materi “Content Action: Dari Ide, Produksi hingga Publikasi” disampaikan oleh Annov Hari.

Sesi tersebut mengarahkan peserta memahami tahapan produksi konten, mulai dari menemukan ide hingga menghasilkan dan mempublikasikan konten secara
efektif.

2. Materi berikutnya, “Dari Scroll Menjadi Skill: Mengubah Media Sosial Menjadi Peluang Berkarya”, menghadirkan Ruki Cita Munggaran, S.IP.

Sesi ini menekankan bagaimana media sosial dapat dimanfaatkan tidak hanya sebagai sarana hiburan dan konsumsi informasi, tetapi juga sebagai ruang belajar, berkarya, membangun jejaring, dan menciptakan peluang.

3. Materi “Public Speaking & Personal Branding Media Digital” menghadirkan Rona Marina Nisaasari, yang memberikan penguatan terhadap kemampuan komunikasi dan pembangunan citra profesional di ruang digital.

Kehadiran para praktisi tersebut diharapkan membuat proses pembelajaran lebih dekat dengan kebutuhan nyata di lapangan. Peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai bagaimana pengetahuan tersebut diterapkan menjadi karya dan kompetensi yang bernilai.

Membangun Ekosistem Kreatif Anak Muda

Jakarta Utara
JIC Digital School 2026 tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan keterampilan peserta dalam jangka pendek. Program ini juga membawa agenda yang lebih luas, yakni membangun ekosistem kreatif dan produktif di kalangan generasi muda Jakarta Utara.

Bagi PPIJ atau Jakarta Islamic Centre, pengembangan kompetensi digital menjadi bagian dari upaya memperkuat peran lembaga dalam pemberdayaan masyarakat, khususnya generasi muda.

Kemampuan memproduksi konten positif, membangun personal branding, mengembangkan portofolio, hingga memanfaatkan teknologi untuk kegiatan ekonomi diharapkan membuka ruang baru bagi anak muda untuk berkembang.

Di sisi lain, ruang digital juga dapat dimanfaatkan sebagai medium penyebaran pesan-pesan positif dan nilai-nilai keislaman yang relevan dengan karakter generasi muda.

Karena itu, kemampuan teknologi diharapkan tidak berdiri sendiri.
Kompetensi digital perlu berjalan beriringan dengan karakter, etika, tanggung jawab sosial, dan nilai-nilai keislaman.

Dari Konsumen Menjadi Kreator

Transformasi digital pada akhirnya bukan semata persoalan kemampuan mengoperasikan perangkat atau menguasai berbagai platform.
Lebih dari itu, transformasi digital membutuhkan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, menghasilkan gagasan, menciptakan karya, membangun kolaborasi, serta melihat teknologi sebagai peluang.

JIC Digital School 2026 membawa pesan bahwa teknologi seharusnya tidak hanya digunakan untuk mengonsumsi informasi, tetapi juga menjadi instrumen untuk menciptakan nilai.
Generasi muda didorong bergerak dari pengguna menjadi kreator, dari konsumen menjadi produsen, dari scrolling menjadi skill, dan dari skill menjadi karya.

Karya tersebut diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi diri sendiri, tetapi juga membuka peluang ekonomi, memperluas jejaring, menginspirasi lingkungan sekitar, dan menghadirkan kebermanfaatan sosial.

Menuju Komunitas Kreatif Berkelanjutan

Ke depan, JIC Digital School diharapkan tidak berhenti sebagai program pelatihan yang selesai setelah rangkaian kegiatan berakhir.
Program tersebut diarahkan untuk berkembang menjadi ruang belajar dan komunitas kreatif yang memungkinkan peserta terus meningkatkan kompetensi, berjejaring, berkolaborasi, dan mengembangkan karya.

Dengan demikian, dampak program tidak hanya diukur dari kemampuan peserta selama mengikuti pelatihan, tetapi juga dari karya, kolaborasi, aktivitas ekonomi, serta kontribusi positif yang lahir setelah program selesai.

Bagi generasi muda Jakarta Utara, JIC Digital School 2026 menjadi salah satu ruang untuk menjawab tantangan era digital dengan pendekatan yang lebih produktif: tidak sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi menguasainya untuk menciptakan peluang.
Pesan yang dibawa program ini pun sederhana jangan biarkan waktu habis hanya untuk scrolling. Gunakan teknologi untuk membangun skill, ubah skill menjadi karya, dan jadikan karya sebagai jalan menuju peluang dan kebermanfaatan.

Tentang JIC Digital School 2026

JIC Digital School 2026 merupakan program yang diselenggarakan Sub Divisi Penyiaran, Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (PPIJ) atau Jakarta Islamic Centre sebagai wadah pembelajaran, pelatihan, pendampingan, dan pengembangan keterampilan digital bagi generasi muda Jakarta Utara.

Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas generasi muda agar mampu memanfaatkan teknologi secara produktif, kreatif, adaptif, dan bernilai ekonomi.
Selain peningkatan keterampilan, JIC Digital School mendorong lahirnya kreator konten positif, penguatan personal branding, pembangunan portofolio digital, serta pembentukan komunitas kreatif muda binaan Jakarta Islamic Centre.

Melalui program tersebut, JIC menegaskan komitmennya untuk ikut menyiapkan generasi muda yang bukan hanya melek teknologi, tetapi juga mampu berkarya, menciptakan peluang, membangun kemandirian, dan memberikan manfaat bagi masyarakat di era digital.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *