Kemenpar Susun Peta Jalan Wisata Kebugaran, Bidik Indonesia Jadi Wellness Unggulan

Berita75 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tengah menyiapkan peta jalan atau roadmap pengembangan industri wisata kebugaran (wellness tourism) sebagai langkah strategis untuk memperkuat daya saing pariwisata Indonesia. Peta jalan tersebut akan memuat pemetaan komprehensif mengenai produk, destinasi, layanan, hingga pelaku industri wellness di berbagai daerah.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun ekosistem wisata kebugaran yang lebih terarah, berkualitas, dan memiliki daya saing, sekaligus memperluas pengenalan potensi wellness Indonesia kepada pasar domestik maupun internasional.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, penyusunan peta jalan tersebut bertujuan menyediakan informasi yang terintegrasi mengenai berbagai potensi wisata kebugaran yang dimiliki Indonesia. Dengan demikian, masyarakat dan wisatawan mancanegara dapat memperoleh gambaran lebih jelas mengenai pilihan produk, destinasi, serta layanan wellness yang tersedia di Tanah Air.

“Pemetaan ini sedang kita buat untuk memberi informasi kepada masyarakat di dalam negeri dan luar negeri. Apa saja produk-produk, destinasi, layanan, dan pelaku industri wellness yang ada di Indonesia,” kata Widiyanti dalam keterangannya, pada (30/10/2026).

Menurut Widiyanti, pengembangan wisata kebugaran memiliki prospek yang semakin besar seiring perubahan pola hidup masyarakat. Kehidupan modern yang semakin kompleks mendorong meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan fisik, keseimbangan mental, serta kualitas hidup secara menyeluruh.

Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan wisata kebugaran sebagai salah satu segmen pariwisata bernilai tambah. Terlebih, Indonesia memiliki kekayaan alam, tradisi, budaya, serta kearifan lokal yang dapat dikembangkan menjadi pengalaman wellness yang memiliki karakter dan keunikan tersendiri.

Namun, pengembangan wisata kebugaran tidak semestinya hanya berorientasi pada kesehatan dan kenyamanan wisatawan. Aspek keberlanjutan lingkungan juga harus menjadi bagian penting dari konsep pengembangannya.

Widiyanti menegaskan, kegiatan wellness idealnya memberikan manfaat tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi kelestarian alam dan lingkungan.

“Event ini bukan hanya untuk wellness individual semata, tapi juga untuk wellness alam kita. Jadi saya sangat mengapresiasi ini,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya pendekatan pariwisata berkelanjutan dalam membangun industri wellness. Pengembangan destinasi harus berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem, pelestarian budaya lokal, serta keterlibatan masyarakat sebagai bagian dari rantai nilai pariwisata.

Jogja Cultural Wellness Festival Masuk Penyelenggara ke Empat

Salah satu agenda yang turut memperkuat pengembangan wisata kebugaran nasional adalah Jogja Cultural Wellness Festival 2026 yang akan diselenggarakan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Festival ini menjadi ruang promosi sekaligus pengembangan pengalaman wisata kebugaran yang mengintegrasikan kesehatan, budaya, tradisi, dan potensi lokal. Tahun ini, Jogja Cultural Wellness Festival memasuki penyelenggaraan keempat setelah sebelumnya digelar sebanyak tiga kali.

Kepala Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Yogyakarta, GKR Bendara, mengatakan festival tersebut masih menjadikan wisatawan domestik sebagai sasaran utama. Karakteristik pasar pariwisata Yogyakarta yang didominasi wisatawan nusantara menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan target audiens kegiatan.

“Target audiens di Jogja domestiknya itu adalah 90 persen, sementara untuk mancanegara hanya sekian persen. Jadi karakteristiknya memang masih didominasi oleh domestik,” kata GKR Bendara.

Meski demikian, penyelenggara tetap membuka peluang lebih luas bagi wisatawan mancanegara untuk mengenal dan mengikuti rangkaian festival tersebut. Kehadiran wisatawan internasional diharapkan dapat memperluas eksposur potensi wisata kebugaran Yogyakarta sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal ke pasar global.

Mengusung tema “Reconnect – Reconnecting People, Culture and Wellbeing”, Jogja Cultural Wellness Festival 2026 membawa pesan penting mengenai hubungan antara manusia, budaya, dan kesejahteraan hidup.

Tema tersebut merefleksikan pendekatan wellness yang tidak semata-mata berfokus pada aktivitas fisik atau relaksasi, tetapi juga mencakup keterhubungan manusia dengan lingkungan sosial, warisan budaya, dan alam.

Potensi Wellness Perlu di Dukung Ekosistem Yang Kuat

Penyusunan peta jalan wisata kebugaran menjadi langkah penting untuk memastikan pengembangan sektor ini tidak berjalan secara parsial. Pemetaan produk, destinasi, layanan, dan pelaku industri diharapkan dapat menjadi landasan dalam membangun keterhubungan antarpemangku kepentingan serta memperkuat promosi pariwisata Indonesia.

Tantangan berikutnya adalah memastikan potensi tersebut dapat diterjemahkan menjadi produk wisata yang berkualitas, memiliki standar pelayanan, mudah diakses, serta mampu memberikan pengalaman autentik kepada wisatawan.

Kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas budaya, dan masyarakat lokal juga menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem wellness yang berkelanjutan.

Dengan kekayaan alam dan keragaman tradisi yang dimiliki, Indonesia memiliki berbagai modal untuk mengembangkan wisata kebugaran dengan identitas khas Nusantara. Mulai dari praktik kesehatan tradisional, pengalaman berbasis alam, aktivitas relaksasi, hingga kegiatan yang mengintegrasikan budaya dan keseimbangan hidup.

Melalui penyusunan peta jalan tersebut, Kementerian Pariwisata diharapkan dapat memperkuat arah pengembangan wisata kebugaran nasional, sehingga potensi yang tersebar di berbagai daerah tidak hanya dikenal sebagai daya tarik wisata, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari industri pariwisata yang memberikan manfaat ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *